Dari Bandung, lilin untuk menjaga harapan
Solidaritas juga muncul di Bandung. Puluhan jurnalis berkumpul di Gedung Indonesia Menggugat (GIM), Jumat malam. Kegiatan itu diinisiasi PFI Bandung bersama IJTI Jawa Barat dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandung. Selain doa bersama, para peserta menyalakan lilin sebagai simbol harapan.
Ketua PFI Bandung Raisan Al Farisi menjelaskan kegiatan tersebut merupakan bentuk solidaritas sekaligus ikhtiar bersama agar seluruh jurnalis dan awak kapal segera ditemukan. Tema yang dipilih adalah "Menyalakan Harapan".
Harapan itu kemudian diwujudkan melalui doa dan aksi teatrikal yang dibawakan seniman pantomim Wanggi Hoediyatno. Pesan yang ingin disampaikan sederhana: selama pencarian masih berlangsung, harapan untuk menemukan mereka tetap harus dijaga.
"Harapan kita PFI, IJTI, AJI, semoga pencarian hari ini dan besok bisa membuahkan hasil yang baik. Kami di Bandung mendoakan mereka agar segera ditemukan dengan selamat," kata Raisan.
Carita menunggu warganya Di Carita, Pandeglang, suasana harap-harap cemas terasa lebih dekat. Salah satu orang yang masih dicari, Heriyanto, diketahui merupakan warga Desa Sukarame. Warga Desa Sukarame menggelar pengajian dan doa bersama di Dermaga Marina Carita, Jumat malam. Lokasi tersebut juga menjadi salah satu Pos SAR Gabungan dalam operasi pencarian. Ketua RT 20/005 Desa Sukarame, Adhari Alis, mengungkapkan masyarakat terus mengikuti perkembangan pencarian. Warga juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah dan seluruh unsur SAR yang masih berupaya menemukan para korban. "Kami ucapkan terima kasih kepada Gubernur Banten, Tim SAR Gabungan, TNI, Polri dan relawan yang telah fokus mencari saudara kami, Heriyanto, yang kesehariannya kami panggil Bonsai," ujar Adhari. Bagi warga, doa bukan sekadar kegiatan seremonial. Sejak malam pertama mendengar kabar hilangnya rombongan kapal, masyarakat telah rutin mendoakan mereka di musala masing-masing. Salah seorang warga Kampung Shanghiang, Desa Sukarame, Sarifudin (72), mengatakan warga terus menanti kabar mengenai keselamatan para korban. "Kami selalu menantikan saudara-saudara kami yang sedang dalam pencarian. Setiap malam, dari malam Rabu, di mushola masing-masing kami menggelar doa bersama. Sudah 3 malam selalu berdoa," katanya. Kapolsek Carita Supandi juga mengajak masyarakat mendoakan keselamatan para jurnalis dan kru kapal sekaligus kesehatan seluruh personel yang terlibat dalam operasi pencarian. Keselamatan pelajaran berharga Di laut, operasi pencarian terus berlangsung. Pada hari keempat, Basarnas mengerahkan total 13 kapal, di antaranya KRI Kerambit 627, KN SAR Tetuka, KP Hayabusa, KN SAR Basudewa, KRI Leuser 924, KAL Anyer, KP Sanjaya, dan RIB 02 Banten. Di darat, keluarga dan rekan-rekan para korban masih menunggu satu hal yang paling diharapkan: kabar bahwa mereka ditemukan. Bagi PFI, peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa tugas jurnalistik di wilayah bencana memiliki risiko besar. Karena itu, pengalaman tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat edukasi dan mitigasi kebencanaan bagi jurnalis. Kolaborasi antara media, pemerintah, TNI, Polri, Basarnas, dan berbagai lembaga juga dinilai penting untuk memastikan keselamatan jurnalis ketika bekerja di wilayah berisiko. "Semoga bangsa ini lebih tanggap terhadap bencana, lebih siap dalam mitigasi. Dan pengalaman ini jadi pembelajaran bagi seluruh jurnalis, bahwa tidak ada pemberitaan seharga nyawa," kata Dido. Sementara pencarian terus dilakukan, doa dari Jakarta, Malang, dan Carita bertemu pada harapan yang sama. Lima jurnalis dan tiga kru kapal bukan sekadar nama dalam daftar pencarian. Mereka adalah rekan kerja, saudara, orang tua, anak, dan bagian dari keluarga yang kini menunggu kepulangan. Dan untuk mereka, satu kalimat masih terus menggema: cepat pulang, kawan.