KabarJakarta.com — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus memperkuat infrastruktur pengendalian banjir dengan membangun embung dan waduk di sejumlah wilayah. Salah satu proyek yang sedang disiapkan adalah Embung Kebagusan di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, yang ditargetkan beroperasi pada Februari 2027.
Embung ini menjadi bagian dari upaya penanganan banjir dari hulu, terutama untuk mengurangi aliran air yang menuju sistem Kali Mampang dan Kali Krukut. Pendekatan itu menjadi begitu penting karena penanganan banjir tidak cukup hanya mengandalkan normalisasi sungai di wilayah hilir.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung membeberkan, pembangunan embung dan waduk dilakukan secara menyeluruh, bersamaan dengan normalisasi sejumlah sungai, termasuk Ciliwung, Krukut, dan Cakung Lama.
“Memang ini merupakan bagian dari perencanaan kita, ketika musim kemarau yang kebetulan panjang. Kita selesaikan atau mengambil tindakan preventif untuk mencegah banjir yang ada di Jakarta ini,” ujar Pramono saat meninjau Embung Kebagusan, Selasa (13/10).
Menurut Pramono, pembangunan infrastruktur tersebut diharapkan dapat mengurangi dampak banjir secara signifikan. Meski demikian, ia mengakui banjir masih berpotensi terjadi di Jakarta.
“Mudah-mudahan melalui penanganan ini, banjir walaupun pasti masih terjadi akan berkurang cukup signifikan,” katanya.
Penanganan banjir dimulai dari hulu
Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta Ika Agustin Ningrum menjelaskan, Embung Kebagusan merupakan bagian penting dari Jaktirta Project, sebuah program pengelolaan tata air yang hadir untuk mendukung pengendalian banjir di ibu kota.
Embung seluas sekitar dua hektare itu berada di kawasan hulu daerah tangkapan air Kali Mampang. Keberadaannya ditujukan untuk membantu mengendalikan aliran air sebelum masuk ke saluran dan sungai di wilayah hilir.
Ika menegaskan, penanganan banjir di kawasan Kali Mampang dan Kali Krukut perlu dilakukan secara terpadu, mulai dari hulu hingga hilir.
“Embung Kebagusan ini merupakan kawasan hulu catchment area Kali Mampang. Jadi banjir yang terjadi di hilir, di hilirnya itu ada Kali Krukutd dan Kali Mampang. Ini sebenarnya yang harus kita tangani, tidak hanya di Kali Krukutnya saja, tapi dari area hulu,” jelas Ika.
Pendekatan tersebut menempatkan embung sebagai salah satu komponen dalam sistem pengendalian banjir. Air yang mengalir dari kawasan hulu dapat ditampung sementara sehingga debit yang masuk ke saluran berikutnya dapat ditekan.
Berdasarkan penjelasan Dinas SDA DKI Jakarta, pembangunan Embung Kebagusan ditargetkan mampu mereduksi debit banjir pada sistem Saluran Phb Joe, yang terhubung dengan sistem Kali Mampang-Krukut, hingga sekitar delapan persen.
Angka tersebut menunjukkan kontribusi yang diharapkan dari embung terhadap sistem aliran terkait. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada kondisi hujan, kapasitas tampungan, serta keterhubungannya dengan infrastruktur pengendalian banjir lainnya.
Anggaran Rp250 miliar siap beroperasi 2027
Proyek pembangunan Embung Kebagusan menelan anggaran sebesar Rp250 miliar. Dana tersebut digunakan untuk pembebasan lahan dan pengerjaan infrastruktur.
Pemprov DKI menargetkan embung dapat beroperasi pada Februari 2027. Dengan target tersebut, penyelesaian konstruksi dan kesiapan operasional menjadi tahapan penting sebelum embung dapat menjalankan fungsi pengendalian air secara optimal.
Embung Kebagusan juga dirancang tidak hanya sebagai infrastruktur teknis. Kawasan ini akan dimanfaatkan sebagai sarana publik sekaligus ruang terbuka hijau bagi masyarakat sekitar.
Fungsi tambahan tersebut membuat embung memiliki peran ganda, yakni membantu mengendalikan banjir sekaligus menyediakan ruang terbuka di kawasan perkotaan.
Meski begitu, manfaat pengendalian banjir akan sangat ditentukan oleh kemampuan tampungan dalam menahan limpasan air, pemeliharaan fasilitas, dan pengelolaan aliran masuk maupun keluar. Karena itu, kesiapan operasional perlu berjalan seiring dengan pemeliharaan infrastruktur dalam jangka panjang.
Air embung berpotensi dimanfaatkan warga
Selain berfungsi dalam pengendalian banjir Jakarta, Pemprov DKI juga membuka peluang pemanfaatan Embung Kebagusan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pramono menyatakan, pemerintah daerah akan mengizinkan kerja sama antara Dinas SDA dan PAM Jaya untuk mengembangkan instalasi pengolahan air.
Dengan pengolahan yang sesuai standar, air embung berpotensi dimanfaatkan untuk kebutuhan warga. “Kami nantinya akan izinkan, kerja sama antara Sumber Daya Air (SDA) dengan PAM Jaya agar air bisa dikonsumsi atau digunakan warga. Tetapi tentunya, PAM Jaya yang akan menghitung berapa tarif dan sebagainya,” tutur Pramono.
Rencana tersebut masih memerlukan tindak lanjut, terutama terkait pembangunan instalasi pengolahan, kualitas air baku, serta penentuan tarif layanan. Dengan demikian, pemanfaatan air untuk kebutuhan masyarakat tidak hanya bergantung pada ketersediaan air, tetapi juga pada kelayakan pengolahan dan distribusinya.
Strategi pengendalian banjir Jakarta
Embung Kebagusan bukan satu-satunya infrastruktur yang disiapkan Pemprov DKI. Pemerintah daerah juga tengah menyelesaikan pembangunan sejumlah waduk dan embung di sejumlah wilayah, termasuk di Jakarta Timur.
Pramono menyebutkan, dua embung lainnya direncanakan siap diresmikan pada pekan setelah peninjauan tersebut. Pembangunan berbagai tampungan air itu berjalan bersamaan dengan rencana normalisasi sungai.
"Kombinasi keduanya jadi bagian dari strategi Pemprov DKI dalam mengurangi risiko banjir melalui penanganan dari hulu hingga hilir," kata Pramono.
Dalam konteks tersebut, Embung Kebagusan diharapkan mampu membantu menahan debit air yang mengalir menuju Kali Mampang dan Kali Krukut. Namun, keberadaan embung tidak serta-merta menghilangkan risiko banjir, terutama ketika hujan deras terjadi dalam waktu lama atau kapasitas saluran terlampaui.
Target operasional Februari 2027 menjadi salah satu tahapan penting dalam menguji kontribusi infrastruktur ini terhadap pengendalian banjir Jakarta. Setelah beroperasi, efektivitasnya perlu dievaluasi berdasarkan perubahan debit aliran, kondisi genangan di wilayah hilir, dan kemampuan tampungan menghadapi hujan dengan intensitas berbeda.
Itulah sebabnya, keberhasilan Embung Kebagusan tidak hanya diukur dari selesainya pembangunan fisik, tetapi juga dari manfaat nyata yang dihasilkan bagi pengurangan risiko banjir dan kebutuhan masyarakat di sekitarnya.