Langsung ke konten
News

Festival Kelurahan Barometer Pembangunan dan Pemberdayaan Warga Jakarta

Redaksi
Sebanyak 10 kelurahan dari 5 kota dan 1 kabupaten administratif di DKI Jakarta, Kamis (15/10), mengikuti tahap penjurian final Lomba Bersih, Nyaman, Indah, dan Sejahtera (Benyamin S) Award 2026 di Hotel Ascott Menteng, Jakarta Pusat. Foto: Pemprov DKI
Sebanyak 10 kelurahan dari 5 kota dan 1 kabupaten administratif di DKI Jakarta, Kamis (15/10), mengikuti tahap penjurian final Lomba Bersih, Nyaman, Indah, dan Sejahtera (Benyamin S) Award 2026 di Hotel Ascott Menteng, Jakarta Pusat. Foto: Pemprov DKI

KabarJakarta.com — Festival kelurahan dalam rangkaian Lomba Benyamin S Award (BSA) 2026 tidak sekadar menjadi ajang untuk memamerkan keunggulan wilayah. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta ingin menjadikan kegiatan tersebut sebagai ruang untuk memperkuat kebersamaan warga sekaligus mengukur keberhasilan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat di tingkat kelurahan.

Asisten Pemerintahan Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta, Sigit Wijatmoko, menjelaskan festival yang disiapkan oleh 10 kelurahan finalis BSA 2026 dirancang sebagai sarana mempererat hubungan antara masyarakat dan pemerintah di tingkat paling dekat dengan warga.

“Festival tidak berhenti hanya sebagai sebuah selebrasi. Tetapi lebih dari itu, sebagai ruang kohesi, ruang yang menguatkan ikatan yang terdapat di masyarakat,” kata Sigit di Jakarta, Kamis (13/10).

Konsep tersebut menempatkan festival tidak terjebak pada kegiatan seremonial. Lebih jauh, kegiatan ini diharapkan mampu mendorong partisipasi masyarakat dalam pembangunan, mulai dari menjaga lingkungan hingga mengembangkan potensi ekonomi dan sosial di wilayah masing-masing.

Ujung tombak pelayanan publik

Bagi Pemprov DKI Jakarta, kelurahan memiliki posisi strategis karena menjadi ujung tombak pelayanan publik sekaligus penghubung antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan masyarakat. Karena itu, keberhasilan pembangunan di tingkat kelurahan tidak cukup diukur dari perubahan fisik lingkungan, tetapi juga dari kemampuan pemerintah setempat menggerakkan warganya.

Sigit menegaskan, festival tersebut diharapkan dapat menjadi role model atau contoh praktik penguatan kohesi sosial yang bisa diterapkan dalam evaluasi kinerja dan pemberdayaan masyarakat di tingkat kelurahan.

“Kami mendorong melalui Biro KSD, kegiatan ini menjadi role model dalam setiap proses evaluasi kinerja dan penggerakan masyarakat di level kelurahan,” ujarnya.

Dengan pendekatan itu, festival berpotensi menjadi barometer untuk melihat sejauh mana program pembangunan mampu melibatkan masyarakat secara langsung. Namun, ukuran keberhasilannya tidak berhenti pada kemeriahan acara atau banyaknya kegiatan yang ditampilkan. Dampak terhadap kebersihan lingkungan, kualitas pelayanan, penguatan ekonomi warga, serta keberlanjutan partisipasi masyarakat menjadi aspek yang lebih penting untuk diperhatikan.

BSA 2026 menguji kemajuan wilayah

Sebanyak 10 kelurahan dari lima kota administrasi dan satu kabupaten administrasi di Jakarta mengikuti penjurian final BSA 2026 di Hotel Ascott Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (15/10). Mereka terpilih setelah melewati tahapan seleksi yang diikuti 52 kelurahan dari total 267 kelurahan di DKI Jakarta.

Sepuluh finalis tersebut adalah Kelurahan Kebon Sirih, Srengseng, Kelapa Gading Timur, Taman Sari, Sukabumi Utara, Kebon Baru, Cilandak Barat, Malaka Sari, Utan Kayu Selatan, dan Pulau Panggang.

Menurut Sigit, penyelenggaraan BSA pada tahun kedua menunjukkan meningkatnya perhatian terhadap kompetisi yang memberikan ruang bagi setiap kelurahan untuk memperlihatkan keunggulan dan inovasi wilayahnya.

“Kelurahan bukan hanya sebagai basis terdepan dalam penyelenggaraan pemerintahan. Pak Gubernur dan Wagub telah menyampaikan bahwa yang utama adalah peran pemerintah kota hingga kelurahan mampu menggerakkan semua potensi yang ada di masyarakat,” terangnya.

Penilaian BSA mencakup 4 (empat) kategori, yakni Bersih, Nyaman, Indah, dan Sejahtera. Keempatnya menggambarkan aspek pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada penataan kawasan, tetapi juga menyentuh kualitas hidup masyarakat.

Kategori Bersih menilai inovasi pengelolaan sampah, sanitasi, hingga kampanye kesadaran lingkungan. Sementara itu, kategori Nyaman meliputi keamanan, respons pelayanan publik, keteraturan wilayah, serta ketersediaan ruang yang ramah bagi warga.

Untuk kategori Indah, penilaiannya berfokus pada penataan ruang publik dan estetika lingkungan. Adapun kategori Sejahtera meliputi pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), inklusi sosial, layanan sosial, serta partisipasi masyarakat.

Cakupan tersebut menunjukkan bahwa BSA tidak hanya membandingkan kemajuan antarkelurahan berdasarkan kondisi fisik. Kompetisi ini juga menyoroti kemampuan pemerintah setempat bersama masyarakat dalam menghasilkan solusi terhadap persoalan sehari-hari, termasuk melalui teknologi terapan yang dapat digunakan dan dikembangkan warga.

Meski demikian, tantangan utamanya adalah memastikan inovasi yang ditampilkan tidak berhenti sebagai materi penilaian. Praktik yang terbukti bermanfaat perlu dipertahankan setelah kompetisi selesai, sehingga perubahan yang dihasilkan tidak bersifat sementara.

Penjurian final

Penjurian final melibatkan 4 (empat) juri, yaitu Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Pembangunan dan Tata Kota Nirwono Joga, Ketua Umum Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Lingkungan Indonesia Endra S. Atmawidjaja, Dewan Pembina Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) Wicaksono Sarosa, serta pengamat tata kota Yayat Supriyatna.

Sigit berharap pengembangan peran lurah sebagai urban estate manager, yakni pengelola kawasan perkotaan di tingkat kelurahan, dapat mempercepat pencapaian Jakarta sebagai kota global.

Festival kelurahan juga direncanakan menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-500 Jakarta pada 2027. Namun, nilai strategisnya tidak semata terletak pada perayaan tersebut. 

Ukuran yang lebih mendasar adalah apakah kegiatan ini mampu membangun pola kerja yang mempertemukan pemerintah, komunitas, pelaku usaha, dan warga dalam menyelesaikan persoalan wilayah.

Dengan demikian, keberhasilan festival tidak cukup dilihat dari kemeriahan panggung atau banyaknya inovasi yang dipamerkan. Festival akan memiliki arti sebagai barometer pembangunan apabila mampu memperkuat gotong royong, meningkatkan kualitas pelayanan, dan mendorong pemberdayaan warga secara berkelanjutan. 

Di tingkat kelurahan, pembangunan yang berhasil bukan hanya lingkungan yang terlihat lebih baik, melainkan juga masyarakat yang semakin mampu menjaga dan mengembangkan wilayahnya sendiri.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua