Langsung ke konten
News

Fitur Otomatis Boeing jadi Penyebab Lion Air Jatuh

Redaksi Diperbarui
KabarJakarta_Default_ImageNews-250x190-1
KabarJakarta_Default_ImageNews-250x190-1

KabarJakarta.com--Salah satu penyebab jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP jenis Boeing 737 Max 8 lantaran ketidaksesuaian desain pesawat Boeing 737 MAX 8 dengan reaksi pilot. Utamanya, jika terjadi kerusakan pada Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS), fitur baru pada pesawat pengangkut 178 penumpang itu.

Demikian disampaikan Kasubkom Penerbangan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Nurcahyo Utomo, saat merilis hasil investigasi menyeluruh penyebab jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP jenis Boeing 737 Max 8, di kantor KNKT, Jumat (25/10). Hasil investigasi ini bertepatan dengan setahun peristiwa jatuhnya pesawat tersebut atau pada 29 Oktober 2018 di perairan Karawang.

 "Ada beberapa ketentuan yang tidak sesuai, jadi asumsinya pilot akan memberikan trim (upaya menyeimbangkan) yang cukup, tapi hal tersebut tidak terjadi," kata Nurcahyo kepada wartawan di Jakarta, Jumat (25/10).

Selain itu, Nurcahyo juga menyoroti Boeing yang menganggap sistem satu sensor sudah sesuai. Akan tetapi pada kenyataannya justru menimbulkan persoalan.

"Dengan sistem yang mengandalkan sistem sensor ini, kami menilai sangat memungkinkan sistem seperti ini sensor bisa rusak," ujar Nurcahyo.

Nurcahyo lebih lanjut menerangkan, ada delapan faktor lainnya yang dinilai berkontribusi menyebabkan kecelakaan pesawat tersebut. Salah satunya adalah tidak ada panduan pelatihan ataupun informasi mengenai MCAS di buku panduan pilot. Alhasil, soal sistem baru tersebut tak diketahui pilot.

"Hal ini ditunjukkan saat gejala MCAS mulai aktif, mereka tidak mengenali sistem ini ditimbulkan karena apa," ungkap Nurcahyo.

Sementara itu, Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono mengatakan, hasil investigasi ini merupakan hasil olah data kurang lebih 463 data, dan data lain berupa hardcopy yang dianalisis secara cermat dan hati-hati. Dikatakan Soerjanto, hasil investigasi ini khususnya ditujukan untuk seluruh keluarga korban Lion Air JT-610.

Pada Senin, 29 Oktober 2018, Basarnas
memastikan pesawat Lion Air rute Bandara Internasional Soekarno Hatta- Bandara Depati Amir Pangkalpinang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat. Kementerian Perhubungan menyebut pesawat itu membawa 178 penumpang dewasa, 1 penumpang anak-anak dan 2 bayi dengan 2 Pilot dan 5 FA (flight attendant).

"Karena itu kami perlu waktu untuk menyelesaikan investigasi," ucap Soerjanto dalam kesempatan yang sama.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua