Langsung ke konten
News

Gultik Bulungan, Wisata Kuliner Ngehits di Kalangan Anak Muda Jakarta

Redaksi Diperbarui
KabarJakarta_Default_ImageNews-250x190-1
KabarJakarta_Default_ImageNews-250x190-1

KabarJakarta.com -- Jakarta memiliki banyak tempat makan legendaris, salah satunya Gulai Tikungan (Gultik) di kawasan Bulungan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Wisata kuliner ini sangat hits di kalangan anak muda Ibu Kota.

Berada di antara Jalan Mahakam dan Jalan Bulungan, Gultik sudah ada sejak awal 1980-an.

Dinamakan gulai tikungan karena banyak pedagan gulai yang mangkal di tikungan jalan tersebut. Walau tergolong kuliner kaki lima, Gultik selalu ramai pengunjung.

Pada malam hari kawasan ini sangat ramai, bahkan sampai menjelang pagi. Pelanggan yang datang pun beragam, dari yang mengendarai mobil sampai kendaraan umum.

Mayoritas yang datang adalah anak muda. Tapi tidak sedikit juga pekerja kantoran dan orang tua yang membawa keluarganya.

Beberapa pedagang Gultik sudah berjualan sejak puluhan tahun, salah satunya Mas Tondo. Ia berjualan sejak tahun 1984. Awalnya Mas Tondo saat itu masih bersekolah dan hanya sekadar membantu pamannya.

Lulus sekolah, Mas Tondo memutuskan meneruskan usaha pamannya yang kini sudah pensiun.

“Dulu paman saya berjualan nasi gulai berkeliling. Dia mulai berjualan di Bulungan karena diajak temannya,” kata Mas Tondo.

Awalnya, kata Mas Tondo, pedagang Gultik hanya ada tujuh penjual saja. Sejak awal berjualan, dirinya tidak pernah bergeser tempat sedikitpun. “Dari awal jualan sudah di sini,” tuturnya.

Kedai Mas Tondo berada di belakang pusat perbelanjaan Blok M Plaza atau di seberang Ayam Bakar Ganthari.

Katanya, di awal berjualan, para pedagang Gulai tidak yakin bisa seramai seperti sekarang. Semakin hari jumlah pelanggannya terus bertambah, hingga ramai seperti sekarang. Untuk melayani pelanggan-pelanggannya, Mas Tondo dibatu oleh seorang kerabatnya.

Setiap hari, Mas Tondo mengaku bisa menjual hingga 100 porsi. Bahkan di akhir pekan bisa mencapai 200-300 porsi.

Ia memperkirakan, saat ini pedagang Gultik jumlahnya sekitar 20 yang tersebar di beberapa titik di kawasan Bulungan.

Setiap Pedagang Punya Resep Rahasia

Mas Tondo mengaku dirinya punya resep tersendiri, begitu juga dengan pedagang Gultik lainnya. Meski begitu, rasanya hampir sama walau tiap penjual cara memasaknya berbeda.

“Saya punya bumbu rahasia yang diturunkan dari paman saya. Gulai yang saya jual ini adalah gulai sapi. Saya menggunakan beberapa bagian sapi, seperti urat, tetelan, lemak, sampai jeroan sapi,” terang Mas Tondo.

Dalam penyajiannya, gulai dengan kuah santan yang tidak begitu kental dan rasanya gurih disiramka di atas sepiring nasi, ditambah taburan bawang goring, kecap, dan kerupuk. Bagi penyuka rasa pedas, bisa menambahkan sambal.

Kalau Anda sedang lapar atau terbiasa makan dengan porsi besar, satu porsi gulai tikungan pasti akan kurang. Anda bisa menambah lagi.

Soal harga tidak usah khawatir. Satu porsi harganya sangat terjangkau dan murah meriah, yaitu berkisar Rp15.000.

Selain itu, sebagai toppingnya, Mas Tondo menyediakan secara terpisah sate usus, sate ati, ampela dan telur puyuh yang harganya per buah Rp5.000.

Bagi pelanggan yang datang, Mas Tondo menyiapkan bangku plastik untuk mereka duduk. Sebelumnya, para pedagang menyediakan meja kecil, tapi dilarang oleh pihak pengelola. Dengan begitu pelanggan menyantap Gultik sambil memegang piring.

Setiap hari para pedagang Gultik di kawasan Bulungan ini buka dari pukul 17.00 WIB sampai dengan 04.00 pagi.

“Dulu kita bisa jualan 24 jam, tapi sekarang di dekat Blok M Plaza ini hanya boleh buka mulai sore hari. Kalau di daerah Mahakam ada yang jualan dari pagi sampai sore, tapi orangnya berbeda. Kemudian dilanjutkan lagi sampai pedagang yang lain mulai sore sampai pagi hari,” jelasnya.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua