KabarJakarta.com — Bagi Rini, hujan bukan sekadar pertanda pergantian musim. Bagi warga RT 15/RW 05, Kelurahan Kuningan Barat, Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, hujan justru menjadi pengingat akan ancaman banjir yang telah menghantui kehidupan mereka selama hampir 40 tahun.
Bahkan, hujan dengan intensitas yang tidak terlalu tinggi pun bisa membuat air mulai memasuki permukiman. Situasi itu membuat warga harus selalu bersiap menghadapi kemungkinan terburuk, termasuk meninggalkan rumah ketika air terus meninggi.
"Kalau musim hujan, hujan sedikit juga, sudah datang airnya," kata Rini di Jakarta, Jumat (30/10).
Rini masih mengingat betul, banjir besar yang pertama kali melanda kawasan tempat tinggalnya pada 1997. Kala itu, ketinggian air mencapai sekitar 2 (dua) meter, bahkan hampir menyentuh genteng rumah warga.
Sejak saat itu, banjir seolah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Meski kawasan tersebut sempat relatif aman pada masa kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, persoalan serupa kembali menghantui warga dalam beberapa waktu terakhir.
Bagi mereka, banjir bukan hanya soal air yang masuk ke dalam rumah. Persoalan yang lebih berat adalah lamanya genangan bertahan. Dalam kondisi tertentu, air baru benar-benar surut setelah tiga hingga empat hari.
Selama itu pula, warga harus meninggalkan rumah dan mencari tempat yang lebih aman. Masjid dan lokasi yang lebih tinggi menjadi tempat perlindungan sementara ketika permukiman mulai terendam.
"Semua mengungsi. Ada yang ke masjid, dan tempat lain. Pokoknya ke tempat yang agak tinggi," ujar Rini.
Pengalaman menghadapi banjir berulang kali membuat warga mengubah kebiasaan di rumah. Rini mengaku tidak lagi menyimpan banyak barang di lantai dasar. Perabot dan barang berharga sebisa mungkin ditempatkan di bagian rumah yang lebih tinggi agar tidak rusak ketika air kembali masuk.
Langkah tersebut menjadi bentuk antisipasi sederhana yang bisa dilakukan warga di tengah ancaman banjir yang belum sepenuhnya teratasi. Namun, memindahkan barang ke tempat lebih tinggi tidak serta-merta menghilangkan kerugian yang ditimbulkan.
Ketika banjir datang, aktivitas sehari-hari ikut lumpuh. Warga kesulitan memenuhi kebutuhan makanan karena akses keluar dari permukiman terputus.
"Rugi semua-semuanya. Makan juga susah mencari, karena akses keluar sulit," tutur Rini.
Kondisi tersebut membuat warga berharap penanganan banjir di Kali Mampang tidak berhenti pada pekerjaan pengerukan sesaat. Mereka menginginkan normalisasi dilakukan secara optimal agar aliran air lebih lancar dan risiko banjir yang selama ini berulang dapat dikurangi.
Harapan itu kembali mengemuka setelah Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau pekerjaan normalisasi Kali Mampang segmen Poncol, Kuningan Barat, pada Kamis (29/10).
Peninjauan dilakukan untuk memastikan pengerukan sedimentasi dan pemeliharaan turap berjalan sesuai rencana menjelang musim hujan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berharap pekerjaan tersebut akan meningkatkan kapasitas aliran sungai sehingga mampu mengurangi potensi genangan di kawasan rawan banjir.
Pramono menjelaskan, Mampang dan sejumlah wilayah sekitarnya memiliki kerawanan banjir karena kondisi geografis yang berupa cekungan. Hujan dengan intensitas sekitar 100 milimeter per hari dapat memicu genangan dan banjir di sejumlah titik.
Berdasarkan data pekerjaan, pengerukan Kali Mampang telah mengangkat sekitar 4.393 meter kubik sedimentasi. Namun, masih terdapat sekitar 14.727 meter kubik material yang harus dikeruk.
Selain pengerukan, pemeliharaan turap dilakukan di Kali Mampang-Jalan Poncol Jaya sepanjang 300 meter. Penanganan juga menyasar Kali Krukut yang telah dikeruk sebanyak 8.507,3 meter kubik sedimentasi, dengan pekerjaan tersisa sekitar 142.692,7 meter kubik.
Meski demikian, normalisasi Kali Mampang bukan pekerjaan sederhana. Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike, menilai penanganan banjir di kawasan tersebut membutuhkan perencanaan jangka panjang karena menghadapi sejumlah kendala di lapangan.
Menurut Yuke, kondisi wilayah yang rendah dan cekung menjadi salah satu faktor yang membuat kawasan Mampang rentan terendam. Persoalan semakin kompleks karena permukiman warga di bantaran kali tumbuh cukup padat, bahkan berada di antara gedung-gedung bertingkat dan pusat bisnis.
Kepadatan tersebut membuat akses menuju sungai menjadi terbatas. Akibatnya, mobilisasi alat berat untuk melakukan pengerukan tidak mudah dilakukan. Normalisasi pun hanya bisa dikerjakan di titik-titik yang memungkinkan.
"Ini memang jadi pekerjaan rumah panjang. Upaya yang sudah dilakukan, mudah-mudahan bisa mengurangi banjir. Tetapi sepertinya, nggak bisa diselesaikan dalam jangka pendek," ujar Yuke, Jumat (30/10).
Karena itu, Yuke menilai pengerukan sungai saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan banjir. Penanganan harus dilakukan secara menyeluruh, termasuk dari wilayah hulu agar debit air yang mengalir menuju kawasan Mampang dapat dikendalikan.
Salah satu upaya yang didorong adalah pembangunan tampungan air, seperti Embung Kebagusan. Infrastruktur tersebut diharapkan mampu menahan sementara aliran air hujan sekaligus mengendalikan debit yang menuju Kali Mampang dan Kali Krukut.
Di sisi lain, penataan permukiman di bantaran kali juga dinilai perlu menjadi bagian dari solusi. Penyediaan hunian yang layak bagi warga terdampak diharapkan dapat membuka ruang bagi normalisasi sungai dan pembangunan tampungan air dengan kapasitas lebih besar sesuai kebutuhan lapangan.
"Langkah ini dinilai penting untuk membuka ruang bagi normalisasi sungai, sekaligus pembangunan tampungan air yang lebih besar, sesuai kebutuhan dan kondisi lapangan," imbuhnya.
Yuke menegaskan, DPRD DKI mendukung upaya pemerintah daerah dalam mengatasi banjir melalui koordinasi dan perencanaan yang matang. Namun, penyelesaian persoalan di kawasan tersebut harus dilakukan secara bertahap karena berbagai keterbatasan yang masih dihadapi.
Bagi Rini dan warga Kuningan Barat lainnya, berbagai rencana penanganan itu membawa harapan baru. Mereka tidak lagi ingin setiap hujan turun selalu dibayangi kecemasan, memindahkan barang, atau bersiap meninggalkan rumah selama berhari-hari.
Setelah hampir 4 dekade hidup berdampingan dengan banjir, warga berharap normalisasi Kali Mampang benar-benar memberikan perubahan. Bagi mereka, keberhasilan penanganan banjir bukan semata-mata diukur dari berapa banyak sedimentasi yang berhasil diangkat, melainkan dari berkurangnya air yang masuk ke rumah dan pulihnya kehidupan sehari-hari setiap kali musim hujan tiba.