Langsung ke konten
News

Hanya Ganjar yang Bisa Jegal Anies, Puan Bagaimana?

Redaksi Diperbarui
Kabarjakarta.com
Kabarjakarta.com

KabarJakarta.com - Direktur Eksekutif Para Syndicate, Ari Nurcahyo menduga adanya sejumlah skenario yang mungkin terjadi pada Pilpres 2024 mendatang.

Skenario pertama, bila eks Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo maju sebagai calon presiden, atau keduanya tidak maju.

Menurut dia, bila Ganjar tidak maju sebagai capres, maka peluang paling besar memenangkan Pilpres 2024 adalah Anies. Begitu pula sebaliknya.

Hal itu, kata Ari, sejalan dengan hasil survei yang dilakukan sejumlah lembaga survei.

“Misalkan nanti Nasdem tidak dapat koalisi, sehingga Anies tidak maju,” kata Ari dalam sebuah diskusi di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (15/12) kemarin.

Di sisi lain, bila Anies maju sebagai capres, Ganjar juga akan didorong menjadi capres untuk mengimbanginya. “Karena memang secara elektoral, berdasarkan suveri, kompetisi dua orang ini sangat kuat. Hanya Ganjar yang bisa menghadapi Anies, atau hanya Anies yang bisa menghadapi Ganjar,” ujarnya.

Seperti diketahui, baru Partai Nasdem yang telah memutuskan untuk mengusung Anies Baswedan sebagai capres di Pilpres 2024. Penunjukan itu dilakukan oleh Ketua Umu Partai Nasdem, Surya Paloh, pada 3 Oktober 2022 di Nasdem Tower, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat.

Sementara itu, Ganjar Pranowo sempat menyatakan siap menjadi capres. Namun, hal itu berbuntut panjang. Pernyataan Ganjar itu menjadi perdebatan di internal PDIP.

Puan Hanya Didukung Elit PDIP

Sementara itu, pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Adi Prayitno mengatakan, elektabilitas Ketua DPP PDIP Puan Maharani sebagai kandidat capres 2024 masih mungkin ditingkatkan. Masih ada waktu kurang lebih 10 bulan ke depan hingga pendaftaran capres-cawapres Pemilu 2024 dibuka.

“Kalau bicara, mungkinkah elektabilitas Puan meningkat? Masih mungkin. Ada waktu kurang lebih 10 bulan ini akan menjadi batu ujian dan keseriusan dari kerja-kerja politik elit-elit PDIP,” kata Adi, Sabtu (17/12/2022).

Meski begitu, lanjut Adi, besar kecilnya elektabilitas Puan bergantung pada kerja-kerja elit PDIP.

Selama ini, Puan dinilai masih berkutat pada kinerjanya sebagai Ketua DPR RI. Sementara, dalam hal safari politik dan konsolidasi dengan jajaran partai atau basis massa di daerah, Puan masih tertinggal.

Jika pun Puan turun ke daerah, karena kepentingannya sebagai pimpinan parlemen. Namun, jika PDIP serius mengusung Puan sebagai capres, sudah saatnya kerja-kerja politik dimainkan.

“Mbak Puan dan timnya harus berpikir, kerja keras, bagaimana road show ke berbagai tempat, ke berbagai wilayah basis PDIP harus semakin aktif dilakukan,” saran Adi.

“Dan caranya tentu bukan hanya sebatas seremonial, tetapi hadir sebagai upaya untuk meyakinkan mereka bahwa Puan pantas diusung pada 2024,” sambungnya.

Lanjut Adi, dukungan untuk Puan maju sebagai capres mayoritas datang dari kalangan elit PDIP. Sementara, dukungan basis massa PDIP lebih condong ke Ganjar Pranowo. Ini tampak dari hasil survei berbagai lembaga yang menempatkan Ganjar di urutan teratas elektabilitas capres, dengan tingkat elektoral tembus 30%. Sementara, elektabilitas Puan jauh tertinggal di kisaran 1%, bahkan kurang.

Oleh karena itu, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri seakan dihadapkan pada dua pilihan, Ganjar yang elektabilitasnya besar tetapi bukan “Putra Mahkota” dari trah Soekarno, atau Puan yang tingkat elektoralnya minim namun golongan “Putri Mahkota”.

Menurut Adi, dengan sisa waktu yang ada, mendongkrak elektabilitas Puan bukan perkara mudah, apalagi untuk mengungguli Ganjar. “Bisa tidak elit-elit PDIP itu mengubah basis konstituen pemilih mereka yang condong ke Ganjar, beralih secara perlahan ke PUan. Itu bukan perkara mudah,” tukasnya.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua