KabarJakarta.com - Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi menjelaskan dua penyebab naiknya harga kedelai impor. Penyebab pertama adalah cuaca buruk El Nina di Argentina, Amerika Selatan.
Katanya, Hal itu mengakibatkan harga kedelai per gantang naik dari US$12 menjadi US$18.
Penyebab kedua, adalah permintaan kedelai tinggi, terutama dari China. Menurut Lutfi, China memiliki lima miliar babi, dan pakannya adalah kedelai.
Awalnya, kata Mendag Lutfi, pakan babi di China bukanlah kedelai. Namun kini pakan utamanya adalah kedelai.
Mendag mengatakan, pihaknya akan membuat mitigasi dan menyiapkan kebijakan untuk mengantisipasi tingginya harga kedelai. Dia berjanji, pekan depan akan mengumumkan kebijakannya seperti apa.
Dia menyebutkan, saat ini kebutuhan kedelai dalam negeri adalah 3 juta ton. Sementara stok dalam negeri yang tersedia hanya 500-700 ton pertahun.
Untuk menutupi kekurangannya, Indonesia mengimpor kedelai dari negara lain, terutama dari Kawasan Amerika Selatan.
Perajin tempe ancam mogok massal
Di sisi lain, perajin tempe dan tahu panik dengan tinggi harga kedelai. Para perajin yang tergabung dalam Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu (Gakoptindo) mengancam akan mogok produksi pada 21-23 Februari 2022.
Ketua Umum Gakoptindo Aip Syarifudin menyatakan, pihaknya akan mogok karena bahan baku utama tempe dan tahu adalah kedelai.
Dijelaskannya, jika harga kedelai tinggi, maka modal yang dikeluarkan juga tinggi. Sementara laba yang didapat tidak seimbang dengan modal yang dikeluarkan. Akibatnya, perajin tempe dan tahu merugi.
“Perajin tempe rumahan itu sehari beli kedelai 20 Kg, untuk modal dagang biasanya kedelai Rp9.000-10.000 per kilogram,” ujarnya.
“Anggaplah harga kedelai Rp10.000 per Kg, jadi modalnya Rp200.000. Setelah jadi olahan tempe dijual dan dapatnya Rp250.000. Keuntungan Rp50.000 untuk makan dan Rp200.000 untuk modal besoknya jualan lagi. Tapi sekarang harga kedelai naik di harga Rp11.000 Kg, ya engak cukup,” ucap Aip Syarifudin.