Langsung ke konten
News

IPM Jakarta 2026 Naik jadi 85,88, Kualitas Hidup Penduduk Terus Membaik

Redaksi Diperbarui
Dokumentasi - Ribuan manusia dengan busana warna-warni  berbaris rapih menghadiri upacara peringatan HUT ke-495 DKI Jakarta  di Monumen Nasional pada Rabu (22/6). Foto: ANTARA
Dokumentasi - Ribuan manusia dengan busana warna-warni berbaris rapih menghadiri upacara peringatan HUT ke-495 DKI Jakarta di Monumen Nasional pada Rabu (22/6). Foto: ANTARA

KabarJakarta.com — Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jakarta pada 2026 mencapai 85,88. Angka tersebut meningkat 0,83 poin atau 0,98 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang sebesar 85,05. Peningkatan ini menunjukkan adanya perbaikan kualitas pembangunan manusia di Ibu Kota, baik dari aspek kesehatan, pendidikan maupun standar hidup masyarakat.

Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto, menjelaskan capaian tersebut mempertahankan status pembangunan manusia Jakarta dalam kategori sangat tinggi.

"Dengan capaian itu, status pembangunan manusia Jakarta, tetap berada dalam kategori sangat tinggi," kata Kadarmanto di Jakarta, Kamis (5/11).

Jika dilihat dalam 5 (lima) tahun terakhir, IPM Jakarta menunjukkan tren peningkatan secara konsisten. Pada 2022, IPM tercatat sebesar 82,77, kemudian naik menjadi 83,55 pada 2023. Peningkatan berlanjut pada 2024 menjadi 84,15 dan mencapai 85,05 pada 2025.

Dengan demikian, dalam kurun waktu 2022 hingga 2026, IPM Jakarta bertambah 3,11 poin. Tren tersebut memperlihatkan perbaikan capaian pembangunan manusia yang berlangsung secara bertahap dari tahun ke tahun.

Menurut Kadarmanto, peningkatan IPM pada 2026 terjadi pada seluruh indikator penyusunnya. Ketiga dimensi tersebut meliputi umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, serta standar hidup layak.

IPM merupakan indikator yang digunakan untuk melihat keberhasilan pembangunan manusia. Pengukurannya tidak hanya bertumpu pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan sejauh mana masyarakat memiliki kesempatan untuk hidup sehat, memperoleh pendidikan, dan menikmati standar kehidupan yang layak.

Harapan hidup penduduk Jakarta meningkat

Pada dimensi kesehatan, BPS DKI Jakarta mencatat Umur Harapan Hidup (UHH) Saat Lahir pada 2026 mencapai 76,44 tahun. Angka ini meningkat 0,17 tahun dibandingkan tahun sebelumnya.

UHH menggambarkan perkiraan rata-rata lama hidup bayi yang baru lahir apabila pola angka kematian yang berlaku pada saat itu terus berlangsung. Dengan capaian tersebut, bayi yang lahir di Jakarta pada 2026 diperkirakan dapat hidup hingga usia sekitar 76,44 tahun.

Kenaikan indikator ini menjadi salah satu gambaran perbaikan kondisi kesehatan masyarakat. Namun, angka harapan hidup merupakan indikator statistik pada tingkat populasi, bukan jaminan usia hidup setiap individu.

Kadarmanto mengatakan peningkatan umur harapan hidup tersebut menandakan adanya perbaikan taraf kesehatan masyarakat di Jakarta.

Pendidikan menunjukkan kemajuan

Selain kesehatan, dimensi pengetahuan juga mengalami peningkatan. BPS mengukur aspek ini melalui dua indikator, yakni Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-Rata Lama Sekolah (RLS).

Pada 2026, HLS Jakarta mencapai 14 tahun atau meningkat 0,20 tahun dibandingkan tahun sebelumnya. Indikator ini menunjukkan lamanya sekolah yang diharapkan dapat ditempuh anak berusia tujuh tahun pada masa mendatang, dengan asumsi pola pendidikan saat ini tetap berlangsung.

ini menunjukkan, anak yang mulai memasuki usia sekolah pada 2026 di Jakarta memiliki harapan untuk menempuh pendidikan selama 14 tahun.

Sementara itu, RLS mencapai 11,76 tahun atau meningkat 0,17 tahun dibandingkan 2025. Berbeda dengan HLS, RLS menggambarkan rata-rata lama pendidikan formal yang telah dijalani penduduk berusia 25 tahun ke atas.

Kedua indikator tersebut memberikan gambaran mengenai perkembangan akses dan capaian pendidikan di Jakarta. HLS mencerminkan peluang pendidikan bagi generasi yang lebih muda, sedangkan RLS menunjukkan tingkat pendidikan yang telah dicapai penduduk dewasa.

Pengeluaran penduduk ikut meningkat

Dimensi ketiga adalah standar hidup layak yang diukur menggunakan pengeluaran riil per kapita per tahun yang disesuaikan.

Pada 2026, indikator tersebut tercatat sebesar Rp21,43 juta per kapita per tahun. Nilainya meningkat Rp755 ribu atau 3,65 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Indikator ini digunakan untuk menggambarkan kemampuan penduduk dalam memenuhi kebutuhan hidup berdasarkan pengeluaran yang telah disesuaikan dengan perubahan harga dan daya beli.

Peningkatan pengeluaran riil per kapita menunjukkan adanya perbaikan pada dimensi standar hidup layak. Meski demikian, angka rata-rata tersebut tidak serta-merta menggambarkan kondisi ekonomi seluruh penduduk secara merata.

Yang terlihat dari capaian IPM Jakarta 2026

Secara keseluruhan, data BPS menunjukkan pembangunan manusia di Jakarta mengalami kemajuan dalam tiga aspek sekaligus. Penduduk memiliki perkiraan usia hidup lebih panjang, peluang pendidikan yang semakin baik, serta peningkatan kemampuan pengeluaran riil per kapita.

Kenaikan IPM dari 82,77 pada 2022 menjadi 85,88 pada 2026 juga memperlihatkan bahwa perbaikan kualitas pembangunan manusia berlangsung secara konsisten dalam lima tahun terakhir.

Namun, capaian IPM yang tinggi tidak otomatis berarti seluruh persoalan kesejahteraan masyarakat telah terselesaikan. Indikator tersebut merupakan gambaran agregat yang belum sepenuhnya memperlihatkan kesenjangan kualitas pendidikan, akses layanan kesehatan, maupun kemampuan ekonomi antarkelompok masyarakat.

Karena itu, tantangan pembangunan Jakarta berikutnya bukan sekadar mempertahankan kenaikan IPM, melainkan memastikan manfaat pembangunan dapat dirasakan lebih merata oleh seluruh lapisan penduduk. Peningkatan angka harapan hidup, pendidikan, dan pengeluaran riil perlu berjalan beriringan dengan pemerataan akses serta peningkatan kualitas layanan publik.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua