KabarJakarta.com — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk mengantisipasi cuaca panas menjelang Jakarta Running Festival (JRF) dan konser Kanye West pada 24–25 Oktober 2026. Langkah ini ditempuh agar ribuan peserta lari, penonton konser, dan masyarakat dapat beraktivitas dengan lebih nyaman di tengah suhu udara yang masih relatif tinggi.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjelaskan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta untuk menjalankan OMC pada 22–23 Oktober.
"Saya memerintahkan Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) untuk melakukan OMC pada tanggal 22-23," ujar Pramono di Balai Agung, Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (21/10).
Pramono menginginkan operasi tersebut dapat membantu menurunkan suhu udara sebelum kedua acara berlangsung. Ia juga berharap kondisi atmosfer mendukung pembentukan awan hujan sehingga penyemaian awan dapat menghasilkan hujan.
"Sebenarnya kalau hari ini bisa, ya mulai dari hari ini. Jadi saya berharap, mudah-mudahan sebelum pelaksanaan Jakarta Running Festival, Jakarta sudah lebih sejuklah. Mudah-mudahan volume awannya memenuhi itu," katanya.
Dua hari mengupayakan hujan
OMC bukan teknologi yang menciptakan awan dari langit cerah. Operasi ini bekerja dengan memanfaatkan awan yang sudah terbentuk secara alami, kemudian merangsang proses pembentukan hujan melalui penyemaian awan atau cloud seeding.
Berdasarkan mekanisme umum OMC yang diterapkan di Indonesia, pekerjaan dimulai dengan pemantauan kondisi atmosfer menggunakan radar cuaca, citra satelit, dan analisis meteorologi. Petugas mencari awan potensial yang memiliki kandungan air dan kondisi yang sesuai untuk disemai.
Jika awan memenuhi persyaratan, pesawat yang membawa bahan semai, umumnya berupa garam natrium klorida (NaCl), akan digunakan dengan cara menyebarkan partikel tersebut ke awan sasaran. Partikel garam membantu butiran air di dalam awan bergabung dan membesar hingga berpeluang jatuh sebagai hujan.
Proses ini dikenal sebagai peningkatan curah hujan atau rain enhancement. Namun, metode, waktu penerbangan, lokasi penyemaian, serta jumlah bahan semai harus ditentukan berdasarkan hasil pemantauan dan analisis tim meteorologi.
Dengan demikian, jadwal 22–23 Oktober merupakan periode operasi yang disiapkan Pemprov DKI. Rincian teknis pelaksanaan, termasuk lokasi penyemaian dan jumlah penerbangan, belum dijelaskan dalam keterangan Pramono.
Dua hari operasi juga tidak berarti hujan pasti turun selama dua hari berturut-turut. Keberhasilan OMC bergantung pada ketersediaan awan yang sesuai dan dinamika atmosfer pada saat pelaksanaan.
Menurut penjelasan BMKG, OMC merupakan intervensi terbatas terhadap proses atmosfer yang sudah berlangsung secara alami, bukan cara untuk mengendalikan cuaca sepenuhnya.
Suhu Jakarta mencapai 35 derajat
Prakiraan BMKG menunjukkan cuaca Jakarta pada 21 Oktober masih berpotensi panas. Suhu maksimum di sejumlah wilayah, termasuk Jakarta Selatan dan Jakarta Timur, diperkirakan mencapai 33–35 derajat Celsius.
Pada 22–23 Oktober, suhu maksimum di Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur diprakirakan berada di kisaran 31–33 derajat Celsius. Pada 24 Oktober, suhu maksimum di sejumlah wilayah tersebut masih berpotensi mencapai 32–33 derajat Celsius. Sementara itu, pada 25 Oktober, suhu maksimum diprakirakan berkisar 30–33 derajat Celsius, bergantung pada wilayahnya.
Kondisi itu menunjukkan bahwa cuaca panas belum tentu langsung berakhir ketika operasi dimulai. BMKG juga memperkirakan kondisi cerah, cerah berawan, hingga berawan masih mendominasi sebagian wilayah Jakarta selama periode tersebut.
Salah satu faktor yang memengaruhi kondisi panas adalah kuatnya penerimaan radiasi matahari ketika tutupan awan terbatas. Pada siang hari, permukaan tanah dan bangunan menyerap energi matahari lalu melepaskan kembali panas ke lingkungan.
Kepadatan bangunan, permukaan beton dan aspal, serta terbatasnya ruang terbuka hijau di sejumlah kawasan perkotaan juga dapat memperkuat efek pulau panas perkotaan. Akibatnya, panas dapat terasa lebih menyengat, terutama di kawasan dengan lalu lintas padat dan minim pepohonan.
Di sisi lain, perubahan musim dan kondisi atmosfer turut memengaruhi pembentukan awan serta distribusi hujan. Karena itu, suhu tinggi tidak dapat dijelaskan hanya oleh satu faktor.
Hujan dibutuhkan menjelang acara
Bagi peserta Jakarta Running Festival, cuaca panas bukan sekadar persoalan kenyamanan. Aktivitas fisik yang berlangsung lama di bawah terik matahari meningkatkan risiko dehidrasi, kelelahan akibat panas, hingga gangguan kesehatan yang lebih serius.
Tubuh harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan suhu normal ketika seseorang berlari. Apabila cairan tubuh berkurang dan pelepasan panas tidak berjalan efektif, risiko gangguan akibat panas meningkat.
Kondisi demikian tentunya menjadi perhatian penyelenggara, khususnya dalam menentukan pengaturan air minum, titik pertolongan medis, serta informasi keselamatan bagi peserta.
Penonton konser juga berpotensi menghadapi masalah serupa, utamanya jika harus mengantre atau berdiri dalam kerumunan di ruang terbuka. Hujan yang turun sebelum atau selama periode acara berpotensi membantu mendinginkan permukaan dan menurunkan suhu udara untuk sementara.
Selain itu, hujan dapat membantu mengurangi debu di sejumlah lokasi. Namun, manfaat tersebut tidak otomatis membuat semua kawasan menjadi lebih sejuk sepanjang hari. Tingkat kelembapan dapat meningkat setelah hujan, sementara suhu kembali naik ketika matahari bersinar.
Karena itu, upaya mendatangkan hujan perlu berjalan beriringan dengan langkah adaptasi di lokasi acara. Penyelenggara tetap perlu menyediakan akses air minum, area teduh, ventilasi yang memadai, serta prosedur penanganan peserta atau penonton yang mengalami gangguan kesehatan akibat panas.
Kendala terbesar, awan tidak bisa dipesan
Tantangan utama OMC adalah ketergantungan pada kondisi atmosfer. Bahan semai tidak dapat menggantikan ketiadaan awan yang memenuhi persyaratan. Jika awan terlalu sedikit, kandungan airnya tidak memadai, atau kondisi angin dan atmosfer tidak mendukung, peluang keberhasilan operasi dapat menurun.
Sebaliknya, awan yang tersedia juga tidak selalu menghasilkan hujan tepat di lokasi dan waktu yang diharapkan. Pergerakan awan, arah angin, serta perubahan kondisi atmosfer dapat memengaruhi lokasi turunnya hujan.
Waktu yang terbatas menjadi tantangan bagi Pemprov DKI. Operasi direncanakan pada 22–23 Oktober, sedangkan kedua agenda internasional berlangsung pada 24–25 Oktober. Ini memperlihatkan, hasil operasi harus bergantung pada peluang atmosfer dalam jendela waktu yang relatif singkat.
Pramono menyatakan pemerintah akan mengupayakan hujan hingga 25 Oktober jika kondisi memungkinkan.
"Yang jelas, sampai tanggal 25 itu sendiri, saya sudah memerintahkan. Kalau memang bisa dibantu didorong untuk diturunkan hujan. Kami akan menurunkan hujan," paparnya.
Pada akhirnya, keberhasilan Pemprov DKI tidak cukup diukur dari terlaksananya penerbangan penyemaian awan. Hasilnya perlu dilihat dari perubahan curah hujan dan suhu, serta dampaknya terhadap keselamatan dan kenyamanan masyarakat.
OMC merupakan salah satu upaya menghadapi cuaca panas, tetapi bukan jaminan bahwa Jakarta akan sejuk saat dua agenda besar berlangsung. Dengan prakiraan yang masih menunjukkan potensi suhu tinggi, kesiapan penyelenggara dan perlindungan peserta tetap menjadi bagian penting dari antisipasi pemerintah.