KabarJakarta.com -- Pemerintah telah resmi memindahkan Ibu Kota Negara (IKN) dari Jakarta ke Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Jakarta akan merasakan dampak ekonominya.
Pengamat ekonomi Bhima Yudhistira Adhinegara berpendapat, dampak di bidang ekonomi yang dirasakan Jakarta tidak terlalu signifikan.
“Hanya bisnis pengadaan barang pemerintah saja yang bergeser ke Penajam, selain itu saya rasa tidak, tetap berbasis di Jakarta,” kata Bhima Yudhistira, Rabu (19/1/2022).
Menurut Bhima, alasan kantor-kantor atau pusat-pusat bisnis yang berkaitan dengan moneter dan perdagangan tetap berbasis di Jakarta, karena tingkat kepadatan bisnis, fasilitas, dan infrastrukturnya, serta moda transportasi publik sudah baik.
“Di Jakarta sudah ada MRT, LTR, TransJakarta, Jaklingko yang menghubungkan dari satu moda transportasi umum ke lainnya,” ujarnya.
Terpenting, lanjut Bhima, pelaku akan berpikir berulang kali jika ikut pindah ke Kalimantan Timur, karena akan menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Hal itu yang menjadi pertimbangan para pelaku bisnis.
“Tidak akan bergeser ke Kalimantan Timur. Jakarta akan tetap menjadi pusat bisnis dan perdagangan di Indonesia,” ucap Bhima.
Adapun yang terdampak dengan berpindahnya Ibu Kota Negara ke Kalimantan Timur adalah bisnis perumahan atau hunian. Selama ini harga hunian di Jakarta sangat sulit dijangkau oleh masyarakat. Dengan tidak lagi menyandang status sebagai Ibu Kota Negara, harga hunian di Jakarta akan lebih murah.
Justru, kata Bhima, kondisi ini membuka kesempatan bagi masyarakat Jakarta yang sampai saat ini kesulitan membeli hunian atau rumah karena harganya terlalu mahal.
“Harga hunian di Jakarta nanti tidak akan semahal seperti sekarang. Ini harus dimanfaatkan oleh masyarakat,” pungkasnya. (Edward)