Langsung ke konten
News

Jalan Jaksa Riwayatmu Kini, Tempatnya Ekspatriat Berkantong Tipis Berkumpul

Redaksi Diperbarui
KabarJakarta_Default_ImageNews-250x190-1
KabarJakarta_Default_ImageNews-250x190-1

KabarJakarta.com -- Bagi masyarakat DKI Jakarta, Jalan Jaksa yang berlokasi di wilayah Jakarta Pusat sudah tidak asing bagi mereka. Lokasi ini terkenal karena banyaknya wisatawan macanegara atau ekspatriat ala backpacker yang identik dengan uang pas-pasan.

Namun tahukah Anda, Jalan Jaksa menyimpan catatan tentang kehidupan pariwisata di Jakarta?

Sejak tahun 1969, kawasan ini sudah dikenal di kalangan turis asing sebagai lokasi penginapan dengan tarif yang terjangkau.

Seiring perkembangan kota, Jalan Jaksa yang dahulu kala merupakan gang atau jalanan sempit, kini letaknya berada di kawasan pusat Ibu Kota Negara, persisnya di depan Gedung DPRD DKI Jakarta dan Pemprov DKI Jakarta.

Pada era 1980-an, Jalan Jaksa mencapai kejayaan. Ada sekitar 20 hotel murah meriah di sana. Seiring waktu berjalan, sejumlah kafe juga bermunculan.

Jalan Jaksa tidak hanya menjadi tempat bagi para turis asing menginap, tetapi juga sudah menjadi tempat berkumpulnya para ekspatriat di Jakarta.

Setelah tahun 1998, orang Indonesia mulai melirik Jalan Jaksa sebagai tempat alternatif penginapan. Sebelumnya lokasi ini tidak dilirik sama sekali oleh pengusaha lokal. Sejumlah rumah warga dibeli dan dijadikan hotel besar.

Ada juga rumah warga yang beralih menjadi perluasan kantor-kantor di seputar Jalan Kebon Sirih. Sedangkan sebagian penginapan di dalam gang juga beralih menjadi kos-kosan untuk mengakomodasi kebutuhan pekerja di sekitar kawasan Jalan Kebon Sirih, Wahid Hasyim, dan sekitar Jalan Medan Merdeka.

Geliat Jalan Jaksa semakin menjadi-jadi. Sejumlah minimarket yang merangkap restoran mungil beroperasi 24 jam, membuat kehidupan di Jalan Jaksa ikut berputar 24 jam. Berbagai bisnis lainnya pun bermunculan seperti laundry kilat untuk melayani kebutuhan turis dengan waktu kunjungan singkat.

Adalah Hostel Wisma Delima yang menjadi primadona destinasi tempat penginapan murah. Sebab, Wisma Delima merupakan tempat penginapan pertama yang sudah ada di Jalan Jaksa sejak era 1960-an.

Pemilik Wisma Delima, Boy Lawalata, mengatakan bahwa dulunya tempat penginapan ini sangat ramai dengan turis mancanegara.

Roda kehidupan terus berputar, kini Wisma Delima tak gemilang seperti dulu. Sebelumnya banyak kamar yang disewakan, kini hanya tersisa sekitar lima unit saja.

“Yang tiga kamar dijadikan kos-kosan.,” kata Boy Lawalata.

Plang bertuliskan Wisma Delima pun sudah tidak terpasang lagi. “Dulu ada plangnya, sudah lama, rusak seingat saya,” tuturnya.

Kini, ruang depan atau pintu masuk Wisma Delima sudah dijadikan warung kopi.

Nasib serupa juga dialami penginapan lainnya, Djody Hostel. Awalnya pamor tempat penginapan ini seperti Wisma Delima. Menjadi pilihan wisatawan mancanegara untuk menginap. Sebab biaya sewanya per hari hanya Rp150.000-200.000.

Staf Djody Hostel, Rusdi, mengatakan bahwa dulunya tempat penginapan ini ada dua gedung. Namun, satu gedung tersebut sudah dijual karena sepi peminat.

“Sekarang sepi banget, paling hanya lima kamar terisi. Kalau dulu bisa sampai 50-an hingga 100 kamar bisa terisi,” tutur Rusdi.

Rusdi mengisahkan, pada tahun 1980 sampai 2000-an, Djody Hostel memiliki sekitar 60 karyawan. Namun, seiring kemajuan zaman, perlahan-lahan pemasukan hostel berkurang. Alhasil, satu per satu karyawan mengundurkan diri. Kini yang tersisa hanya dirinya seorang.

Janki, warga setempat, sangat menyayangkan hingga saat ini perhatian Pemprov DKI terhadap Jalan Jaksa masih terbilang mimin. Lokasi ini belum menjadi bagian dari Kampung Deret atau Kota Tematik.

Menurutnya, Festival Jalan Jaksa yang digelar setiap tahun sangat membutuhkan sentuhan baru dan dukungan dari Pemprov DKI. Katanya, festival ini cenderung monoton dengan menampilkan yang sifatnya umum.

Ia berharap janji Pemprov DKI akan membuat Kampung Tematik di Jalan Jaksa segera diwujudkan. Dengan cara ini Jalan Jaksa tetap akan menjadi ruang tamu yang menarik. Jika tidak, maka tidak akan jauh berbeda dengan jalan lain di Jakarta.

“Pernah ada wacana soal ini, tetapi kami hanya mendengarnya. Belum ada perkembangan lagi,” ungkapnya.

Saat ini, kata Janki, warga masih setia memelihara modal sosial mereka sebagai tuan rumah yang ramah, tetapi dianggap belum cukup.

Frank, seorang wisatawan mancanegara mengaku di Jalan Jaksa dirinya melihat cara pembuatan dodol hingga siap dimakan. Saat mencicipi dodol Betawi ia sangat menyukai rasanya.

“Rasanya mirip dengan makanan yang pernah kami makan, tetapi cara pembuatan dan bahan bakunya yang berbeda,” ucap Frank.

Ia mengaku tidak tertarik dengan sifatnya yang umum atau sesuatu yang mudah didapat di tempat lain. Dirinya membutuhkan sesuatu yang khas dan bersifat lokal. Hal seperti ini yang seharusnya dikembangkan. Paling tidak, Jalan Jaksa menjadi ruang tamu yang menarik. Di mana para tamu dapat mencicipi sajian kuliner, budaya, dan kreativitas warga Jakarta.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua