Langsung ke konten
News

JRF 2026 Dimulai dengan Udara Lebih Sejuk, Polutan Jakarta Cenderung Turun

Redaksi Diperbarui
Pemprov DKI Jakarta telah menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sejak Rabu (21/10) lalu. Alhasil, pada hari pertama pelaksanaan Jakarta Running Festival (JRF) 2026, Sabtu (24/10), udara Jakarta pagi hari tadi terasa lebih sejuk. Foto: Pemprov DKI
Pemprov DKI Jakarta telah menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sejak Rabu (21/10) lalu. Alhasil, pada hari pertama pelaksanaan Jakarta Running Festival (JRF) 2026, Sabtu (24/10), udara Jakarta pagi hari tadi terasa lebih sejuk. Foto: Pemprov DKI

KabarJakarta.com — Ribuan pelari memulai Jakarta Running Festival (JRF) 2026 pada Sabtu (24/10) dengan kondisi udara yang terasa lebih sejuk. Di tengah aktivitas olahraga yang melibatkan lebih dari 37.000 peserta dari 48 negara, konsentrasi sejumlah polutan di lima wilayah Jakarta juga tercatat menurun pada pagi hari.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sebelumnya menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sejak Rabu (21/10). Upaya ini dilakukan untuk mengoptimalkan potensi hujan sekaligus mendukung kenyamanan peserta dalam ajang olahraga yang berlangsung selama dua hari, 24–25 Oktober 2026.

Selain OMC, pemerintah juga menyemprotkan kabut air atau water mist di sejumlah ruas jalan yang menjadi lintasan perlombaan. Kedua langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang lebih nyaman bagi pelari di tengah persoalan kualitas udara perkotaan.

Salah seorang peserta JRF 2026 asal Jakarta Selatan, Dwi, merasakan perbedaan kondisi udara pada pagi hari. Menurut dia, udara yang lebih sejuk membuat aktivitas berlari terasa lebih nyaman.

“Pagi ini, udaranya adem, jadi lebih enak buat lari. Tadi juga ada penyemprotan air di beberapa titik. Cukup membantu, apalagi saat sudah mulai ramai dan matahari naik,” ujar Dwi di Jakarta, Sabtu (24/10).

Konsentrasi polutan menurun di 5 wilayah

Kesan peserta tersebut sejalan dengan hasil pemantauan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta. Kepala DLH DKI Jakarta, Dudi Gardesi, mengungkapkan data Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (SPKU) menunjukkan kecenderungan penurunan konsentrasi partikulat PM2,5, PM10, dan sulfur dioksida pada Sabtu pagi, terutama pukul 04.00–07.00 WIB.

Di Jakarta Selatan, konsentrasi PM2,5 pada pukul 04.00–05.00 WIB tercatat berada pada kisaran 12–32 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Angka tersebut berada di bawah baku mutu 55 µg/m³ yang digunakan dalam pemantauan tersebut.

Sementara itu, kawasan pesisir Jakarta Utara mencatat konsentrasi PM2,5 sekitar 9–17 µg/m³ pada pukul 04.00–07.00 WIB.

Tren penurunan juga terpantau di Jakarta Barat, Jakarta Timur, dan Jakarta Pusat. Khusus di Jakarta Pusat, konsentrasi PM2,5 dan PM10 pada pagi hari tercatat berada pada kisaran 12–43 µg/m³.

Meski demikian, penurunan konsentrasi polutan dalam rentang waktu tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa kualitas udara Jakarta secara keseluruhan telah membaik. Data itu menggambarkan kondisi pada waktu pemantauan tertentu, bukan jaminan bahwa kualitas udara akan tetap baik sepanjang hari.

Dudi menjelaskan, perubahan konsentrasi polutan dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi meteorologi hingga aktivitas sumber emisi lokal. Kemungkinan kontribusi OMC juga perlu diperhitungkan.

"Kondisi bisa dipengaruhi berbagai faktor meteorologi, termasuk kemungkinan kontribusi OMC. Namun, diperlukan analisis lanjut untuk memastikan besarnya pengaruh dari masing-masing faktor dan keberlanjutan perbaikan kualitas udara Jakarta," jelasnya.

OMC membantu membersihkan udara

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, Marulitua Sijabat, menjelaskan OMC dilaksanakan untuk mengoptimalkan potensi hujan dan membantu menciptakan kondisi yang lebih nyaman bagi masyarakat, termasuk peserta JRF.

Berdasarkan laporan BPBD, operasi tersebut telah dilakukan melalui empat sorti penerbangan pada 21–23 Oktober menggunakan pesawat PK-SNH. Bahan semai yang digunakan adalah natrium klorida (NaCl) atau garam, dengan penyemaian di kawasan Bogor, Depok, Bekasi, dan Jakarta Selatan.

Dalam operasi modifikasi cuaca, bahan semai dimasukkan ke atmosfer untuk memengaruhi proses pembentukan awan dan peluang terjadinya hujan, bergantung pada kondisi atmosfer yang tersedia.

Hujan yang terjadi kemudian berpotensi membantu mengurangi partikulat di udara melalui proses deposisi basah (wet deposition). Dalam proses ini, partikel di atmosfer terbawa oleh tetesan air hujan dan jatuh ke permukaan tanah.

Pada Jumat (23/10), hujan ringan hingga sedang tercatat di Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Depok, Bogor, dan Tangerang Selatan.

Namun, hubungan antara OMC dan penurunan polutan tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan kesamaan waktu. Pengaruhnya perlu dievaluasi dengan mempertimbangkan intensitas hujan, arah dan kecepatan angin, kondisi atmosfer, serta perubahan emisi dari aktivitas manusia.

Water mist menyejukkan lintasan lari

Di tingkat jalanan, Pemprov DKI Jakarta juga mengandalkan penyemprotan water mist untuk membantu menurunkan suhu lingkungan dan meningkatkan kenyamanan pelari.

Kegiatan itu dilaksanakan Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan bersama Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta di sejumlah ruas jalan yang menjadi lintasan JRF 2026.

Kabut air akan membantu memberikan efek sejuk di sekitar lokasi penyemprotan. Tetesan air juga berpotensi menangkap sebagian partikel di udara, bergantung pada ukuran tetesan, kondisi cuaca, dan cara penyemprotan.

Meski demikian, manfaat tersebut perlu dibedakan dari perbaikan kualitas udara dalam skala luas. Efektivitas water mist tidak bisa diukur hanya dari sensasi sejuk yang dirasakan peserta. Pengukuran konsentrasi polutan sebelum dan sesudah penyemprotan diperlukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruhnya.

Karena itu, penyemprotan kabut air lebih tepat dipandang sebagai langkah pendukung kenyamanan di lokasi tertentu, bukan pengganti pengendalian emisi kendaraan dan sumber pencemaran lainnya.

Marulitua membeberkan, BPBD terus berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memantau perkembangan cuaca dan menentukan langkah berikutnya.

"Sesuai harapan, di hari pertama JRF, kondisi udara Jakarta terasa lebih nyaman. Kami terus memantau perkembangan cuaca bersama BMKG agar pelaksanaan OMC bisa tepat sasaran," ujarnya.

Dengan perlombaan yang berlanjut hingga Minggu (25/10), pemantauan cuaca dan kualitas udara menjadi penting untuk mengevaluasi efektivitas langkah yang telah dilakukan. 

Bagi para pelari, udara yang terasa lebih sejuk menjadi kabar baik. Namun, perbaikan kualitas udara yang berkelanjutan tetap membutuhkan data terukur dan pengendalian sumber pencemaran secara konsisten.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua