Langsung ke konten
News

Kewartawanan Sebagai Alternatif Model Pembelajaran

Redaksi Diperbarui
Kabarjakarta.com
Kabarjakarta.com

KEGIATAN jurnalistik atau kewartawanan bisa menjadi alternatif model pembelajaran kontekstual. Kegiatan ini berguna mengasah empat keterampilan masa depan: kreativitas, kritisisme, komunikasi dan kolaborasi sekaligus mempertebal kepedulian, empati dan kemanusiaan peserta didik.

Pembelajaran kontekstual semacam ini akan membuat belajar dan bersekolah tidak berarti duduk menyimak guru berbicara dalam kungkungan tembok bangunan kelas. Kebutuhan mengaktualisasikan diri yang biasa terdapat pada diri anak muda bisa disalurkan ke kegiatan-kegiatan selain menyimak, membaca, menulis atau berdiskusi yang notabene dilakukan di dalam ruangan (in-door).

Peserta didik bekerja dalam kelompok dan bertugas melakukan peliputan atas masalah sosial (social issue) yang ditentukan guru pembimbing (fasilitator). Peliputan bertujuan menghasilkan suatu karya jurnalistik narasi yang bisa dipublikasikan, misalnya di web atau diterbitkan sebagai buku.

Karya tulis jurnalistik narasi itu bisa pula berupa film pendek atau video dokumenter dengan sub-title bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Modifikasi karya tulis menjadi karya audio-video disebabkan adanya sebagian peserta didik yang lebih menikmati menonton daripada membaca. Dan karena difasilitasi orang tua, sebagian mereka ada yang memiliki keterampilan menyunting karya audio-video tersebut.

Bukan hanya bernalar, cerdas, kritis dan mempunyai daya analisis yang tajam namun dalam kerja peliputan itu peserta didik juga akan belajar bekerja sama dalam tim. Ada yang mewawancara, mentranskrip hasil wawancara, ada yang bertindak selaku editor yang memadukan hasil wawancara, ada yang menerjemah ke dalam bahasa Inggris, ada yang me-lay out karya tulis bersama foto-foto. Kemudian mereka matangkan bersama dalam bentuk karya tulis jurnalistik narasi.

Jika karya jurnalistiknya berupa tayangan video berarti ada yang melakukan syuting, mengedit gambar, menulis transkrip teks, menyiapkan subtitle, mengisi suara (dubbing) dan efek suara-hingga menjadi karya audio video yang menarik disimak.

Sebelum terjun ke masyarakat, di kelas guru pembimbing akan memandu peserta didik dalam sejumlah diskusi pengantar. Dalam diskusi itu guru pembimbing mengangkat sejumlah ketimpangan dan masalah sosial, penyebab, dampak dan alternatif solusi yang mungkin diberikan.

Guru pembimbing juga bisa mengundang wartawan sungguhan untuk memberi semacam diskusi pemantik. Peserta didik bisa diberi informasi bahwa kerja kewartawanan adalah profesi yang menarik sekaligus berisiko. Utamanya manakala menyentuh isu-isu sensitif yang bersinggungan dengan kepentingan penguasa atau pihak-pihak tertentu yang tidak bertanggung jawab. Suka duka kerja kewartawanan bisa ditransfer kepada peserta didik yang tak lama lagi kelak memasuki dunia aktual orang dewasa.

Untuk peserta didik yang memiliki perminatan ilmu-ilmu sosial dan humaniora model pembelajaran bisa ditingkatkan menjadi pembelajaran berbasis masalah. Jadi selain meliput mereka juga memikirkan alternatif solusi yang mungkin diberikan kepada narasumber atau objek liputan.

Untuk peserta didik dengan perminatan sains, model pembelajaran bisa ditingkatkan menjadi pembelajaran berbasis proyek. Semuanya tergantung pada situasi dan kondisi di masing-masing lokal.

Saat melakukan peliputan itu peserta didik akan melakukan wawancara mendalam dan observasi yang intens. Karena produk yang dihasilkan berupa jurnalistik narasi (reportase mendalam) diharapkan mereka terlibat secara pemikiran dan emosi terhadap masalah sosial yang dihadapi narasumber atau objek liputan.

Hanya perlu dipastikan bahwa masalah sosial itu tidak mengandung kerawanan-kerawanan yang membahayakan nyawa dan keselamatan peserta didik. Masalah sosial seperti distribusi narkoba atau premanisme masih terlalu rawan sebagai objek liputan. Akan tetapi masalah-masalah sosial seperti kemiskinan, pencemaran lingkungan, penanganan korban bencana alam, pengelolaan dan pengasuhan anak yatim dan semisalnya masih sangat mungkin digarap. Semua objek liputan itu tentu harus terlebih dulu mendapat persetujuan dan pengesahan dari guru pembimbing.

Sebagai alternatif model pembelajaran, kegiatan kewartawanan sesungguhnya tidak asing bagi peserta didik yang tergolong kalangan milenial. Mereka terlahir sebagai ‘digital natives’ dan sudah terbiasa ‘melapor-laporkan’ kegiatan pribadi dan peristiwa di sekitarnya lewat blogging dan micro-blogging (media sosial). Jadi, potensi jurnalisme warga (citizen journalism) sudah mereka miliki.

Dalam kegiatan pembelajaran itu etika kewartawanan seperti cover both sides dan objektivitas (kejujuran) harus benar-benar dicerap peserta didik sebagai etika mutlak dalam kerja jurnalistik. Ingat bahwa penyebaran berita bohong (hoaks) merupakan masalah yang cukup parah di era cyber seperti sekarang. Peserta didik juga harus diingatkan bahwa jurnalistik bukanlah karya sastra di mana angan-angan dan khayalan bisa dicampuradukkan ke dalam pemberitaan.

Untuk menghasilkan reportase mendalam peserta didik akan banyak ngobrol dan mendampingi narasumber guna memahami betul pikiran, perasaan dan perilaku narasumber. Interaksi ini sangat mungkin menumbuhkembangkan sisi manusiawi peserta didik. Proses-proses psikologis saat melakukan wawancara dan observasi akan memperkaya pengalaman mental mereka.

Lebih bagus bila narasumber atau objek peliputan berada tidak jauh dari kompleks bangunan sekolah. Tujuannya agar ada jembatan komunikasi yang terbangun antara sekolah sebagai institusi pendidikan dengan masyarakat sekitar. Sekolah tidak menjadi menara gading –kantong para elit terdidik di tengah lautan massa dan publik yang tidak saling menyapa, melainkan jejaring yang tumbuh dalam sinergi dan kebersamaan.

Sekolah memang bukan lembaga sosial atau lembaga donasi tetapi kebermanfaatan sekolah hendaknya dirasakan juga oleh warga yang tinggal di dekatnya. Selain itu, mencari narasumber dari kalangan warga juga tidak terlalu sulit karena manajemen sekolah biasanya membina hubungan baik bersama aparat pemerintah dan aparat keamanan setempat.

Salah satu kompetensi lain yang diharapkan tumbuh pada peserta didik adalah agar ia menjadi pembelajar yang berdaya (impactful) yang berorientasi tindakan dan mampu memfasilitasi perubahan. Dengan demikian peserta didik mengalami pembelajaran bermakna dan persoalan tipisnya relevansi antara dunia pendidikan dengan dunia nyata bisa sedikit banyak teratasi.

Wallahu a’lam.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua