Langsung ke konten
News

Komunitas Back to Nature, Rutin 1 Bulan Sekali Lakukan ‘Ritual’ Mandi Bareng di Air Terjun

Redaksi Diperbarui
KabarJakarta_Default_ImageNews-250x190-1
KabarJakarta_Default_ImageNews-250x190-1

KabarJakarta.com -- Ada banyak cara untuk menghibur diri di sela-sela rutinitas sehari-hari. Tapi apa pun bentuknya tentu harus disesuaikan dengan fashion dan tentunya anggaran. Bagi Komunitas ‘Back to Nature’, menikmati keindahan alam merupakan prioritas utama.

“Kami tinggal di perkotaan. Ada yang tinggal di Jakarta, Tangerang, ada juga yang tinggal di Yogyakarta,” kata Eki Pranowo kepada KabarJakarta.com saat ditemui di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, Rabu (5/1/2022).

Pria yang akrab disapa Andreas ini mengatakan, Komunitas Back to Nature tercipta dari kesamaan hobi, yaitu travelling ke alam.

Katanya lagi, para personelnya terdiri dari berbagai macam profesi dan sudah lama saling kenal. “Ada yang pemusik, desainer, guru, dan karyawan, ada juga yang wirausahawan dan jurnalis,” jelas Eki.

“Kami sudah saling kenal sejak kecil. Teman sejak kecil, ada yang dari SMPN 57 Jakarta, SMPN 58, SMP Budi Asih, SMP Tamah Harapan, SMAN 43 Jakarta, SMA Bina Bhakti, kampus yang sama, dan sekolah-sekolah lainnya,” tambahnya.

Ia menyebutkan, selama ini travelling yang dilakukan Komunitas Back to Nature masih di wilayah Jawa Barat, tapi tidak menutup kemungkinan akan merambah ke wilayah lainnya di Indonesia.

“Dua bulan terakhir ini kami konvoi pakai sepeda motor ke Curug Saderi, Curug Walet, Curug Payung. Semuanya berada di wilayah Bogor,” ungkap Eki.

Fajar Lukita menambahkan, sepertinya sudah menjadi kebiasaan dalam setiap bulannya seluruh personel ‘Back to Nature’ mandi bareng-bareng di air terjun.

Banest, panggilan pria yang berprofesi sebagai pemusik kafe ini menuturkan, terkandung filosofi di setiap perjalanan travelling yang mereka lakukan, yaitu kebersamaan.

“Kami memang sejak dulu sering bersama-sama. Pulang sekolah begadang bersama-sama, nginap di salah satu rumah teman, naik gunung bareng, dan banyak lagi deh. Cuma pacaran aja yang masing-masing,” ujarnya berseloroh.

Kata Fajar, setiap dalam perjalanan touring tidak langsung ‘tancap gas’ ke lokasi yang dituju, melainkan selalu berhenti di tengah perjalanan untuk mengisi perut atau sekadar ngopi. “Di momen-momen seperti ini tercipta kebersamaan, ketawa-ketiwi mengenang masa lalu kita, kalau diingat bikin ketawa,” imbuhnya.

Filosofi lainnya, lanjut Fajar, dipilihnya lokasi alam sebagai tempat travelling Komunitas Back to Nature yaitu mendekati diri kepada Yang Maha Kuasa melalui ciptaan-Nya.

Sementara itu, Wardiyanto yang berprofesi sebagai guru mengatakan, komunitas Back to Nature tidak menutup diri bagi ada yang ingin bergabung, khususnya teman-temannya di masa kecil dan sekolah.

“Kami lahir dan tumbuh di daerah Jakarta Selatan, termasuk sekolah kami ada di daerah ini. kami sangat membuka diri kalau ada yang ingin bersama-sama menikmati alam, bahkan di luar sekolah kami,” tuturnya.

Rencananya, lanjut Enggeh, panggilan akrabnya, di touring berikutnya, Back To Nature berencana akan menyisihkan sebagian rejekinya untuk diserahkan kepada masyarakat yang dibutuhkan.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua