KabarJakarta.com - Mal Blok M merupakan salah satu mal yang berada di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, yang pernah menjadi ikon pada masanya. Posisinya yang berada di bawah halte TransJakarta Blok M membuat tempat itu menjadi strategis karena selalu dilewati penumpang bus.
Namun, hal tersebut tidak membuat mal bawah tanah itu hidup. Mal yang pernah berjaya di era 1990-an hingga 2.000-an ini kini sepi pembeli, sehingga membuat pedagangnya satu per satu menutup usahanya.
Pada Minggu (20/11/2022), tersisa hanya tiga kios yang masih bertahan di sana. Pada disi kiri, ada stau toko yang masih buka. Toko itu menjual pakaian pria dan wanita, mulai dari celana pendek dan celana Panjang, hingga baju dengan harga mulai dari Rp35.000. Sementara di sisi kanan ada dua toko yang buka, juga berjualan pakaian.
Adapun pakaian yang mereka jual didominasi pakaian bekas yang merupakan barang impor. Pakaian-pakaian itu dijual seharga mulai Rp35.000. Beruntung, masih ada beberapa calon pembeli yang datang dari sekadar melihat-lihat saja hingga membeli pakaian-pakaian murah itu.
Rizky (30), salah satu pedagang yang pernah berjualan di Mal Blok M menceritakan bagaimana dia harus tutup usahanya akibat pandemi COVID-19 pada Maret 2020.
Pedagang pakaian pria yang merintis usahanya sejak 2017 itu mengaku tak sanggup lagi membawa sewa kios di Mal Blok M.
“Sudah enggak ada pelanggan, sepi banget, sedangkan harga sewa juga enggak turun. Karena enggak ada pemasukan, uangnya dari mana untuk bayar sewa,” ujarnya.
Pemasukan yang tak seberapa, lanjut Rizky, tidak cukup untuk menutupi biaya sewa toko. Omzet penjualan yang anjlok begitu terasa ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan penutupan operasional mal di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
“Akibat pandemi COVID-19, mal untuk masyarakat menengah ke bawah terkena dampaknya. Karena mereka di rumah saja, enggak nyari makan, jadi lebih mengutamakan kepentingan perut dulu,” tuturnya.
Imbasnya, pemasukan Rizky saat itu turun drastis hingga 70%, dari yang sebelumnya bisa mencapai Rp1 jita per hari, kemudian hanya memperoleh sekita Rp300.000 per hari. Kondisi ini serupa hampir dialami semua pedagang di Mal Blok M.
Kata Rizky, satu per satu pedagang menutup kiosnya karena tidak lagi mampu membayar sewa. “Sekarang yang tersisa hanya tiga kios,” ujar Rizky.
“Sebelum pandemi COVID, mal ini bertahan. Karena enggak ada tenant yang buka, jadi kelihatan sepi. Padahal, di tahun 2022 kondisinya sudah membaik, enggak seperti awal kemunculan COVID,” jelasnya.
Jika kondisinya seperti ini terus, Rizky mengaku tak berencana untuk berwirausaha kembali selama perekonomian belum pulih sepenuhnya akibat pandemi COVID-19. Kini, pria asal Bogor, Jawa Barat ini sedang mencari pekerjaan di Jakarta.
“Sekarang ini nganggur. Ke sini (Mal Blok M) hanya main saja. Lagi nyari kerjaan, kalau usaha lagi belum berani,” ucapnya.
Masih ada pelanggan yang datang
Meski begitu, masih ada pelanggan yang datang ke toko-toko di area lantai dasr Mal Blok M tersebut. Ketiganya memiliki pangsa pasar yang berbeda dengan produk yang sama, yaitu pakaian.
Satu di antaranya, yang terletak di sebelah kiri pintu masuk mal, yang menjajakan pakaian pria dan wanita. Kios ini menawarkan aneka ragam celana hingga baju Panjang dan pendek.
Kemudian, dua toko lainnya di sebelah kana pintu masuk juga menjual aneka pakaian, seperti pakaian untuk ibu dan anak dengan harga mulai dari Rp35.000.
Sedangkan toko yang berada di depannya menjual baju impor murah. Rentang harganya berkisar dari Rp15.000 sampai dengan Rp100.000. Toko inilah yang masih ramai dikunjungi pembeli tanpa habisnya.
Satu pembeli bisa menghabiskan waktu beberapa menit, atau bahkan dua jam sendiri untuk memilih-milih pakaian di sini. Seorang karyawan bernama Suli (40) mengatakan bahwa toko itu sudah menjajakan pakaian di sana sejak tahun 2019. Toko tersebut sempat terdampak di awal pandemi COVID-19 lantaran kebijakan penutupan serentak mal di kawasan Jabodetabek pada masa PSBB. Namun, menurut Suli, tidak terjadi perubahan omzet yang signifikan akibat pandemi.
“Sekarang lumayan masih ramai, bisa Rp 4-7 juta kalau weekend. Karyawannya juga ada empat,” kata Suli saat ditemui di Mal Blok M.
Dia menduga, toko tempatnya bekerja tetap ramai pembeli lantaran menawarkan berbagai macam pakaian dengan harga cukup murah. Selain itu, saat ini hanya ada tiga kios yang bertahan di sana sehingga tidak begitu banyak persaingan yang terjadi dengan toko lainnya.
“Alhamdulillah ramai, ada aja yang ke sini,” ucapnya bersyukur.
Faktor lainnya, menurut Suli, posisi toko yang tepat berada di bawah Halte TransJakarta Blok M membuat pengguna bus melewati toko tersebut. “Orang yang naik turun busway pasti melewati toko ini. Yang kerja di sekitar sini juga banyak jadi pelanggan, karena sudah kenal,” tuturnya.
Suli berharap ketiga toko yang bertahan ini masih akan terus berada di sana agar pembeli bisa dihadapkan dengan banyak pilihan toko. Meski tidak ada saingan pembeli, Suli merasa banyaknya kios yang kosong membuat sepanjang lorong lantai dasar menjadi terlihat sepi. Ia pun membandingkan suasana Mal Blok M saat masih berjaya dulu sebelum pandemi COVID-19 datang melanda.
“Perbedaannya jelas banget, lebih ramai yang dulu. Banyak toko yang buka, sampai berdesak-desakan. Itu sebelum pandemi. Sekarang yang datang ke sini pada heran, kok beda ya dengan dulu,” tuturnya.
Karena itu, Suli bersyukur kios tempat dia bekerja masih ramai peminat. Dengan demikian, ia masih memiliki pekerjaan dan penghasilan bulanan. “Masih bersyukur karena masih ramai, jadi saya masih kerja, enggak di-PHK seperti toko-toko lainnya,” pungkasnya.
Barang bagus, harga murah
Seorang pembeli, Billy (30), mengaku puas berbelanja di sana lantaran barang-barang yang didapat bagus dan harganya murah. Sesekali ia juga terkadang bisa mendapatkan barang yang branded.
“Sering ke sini sejak pertama buka, waktu itu belum pandemi. Harganya murah, terkadang dapat jackpot, dapat yang branded. Asal enggak capek aja nyarinya,” ujar Billy.
Ia menyebutkan, barang impor yang dijual di toko tersebut sangat murah. Untuk rentang harganya berkisar mulai Rp15.000 hingga Rp100.000. Billy tahu tentang toko itu sejak sebelum pandemi. Kala itu, ia senang mengitari kawasan Blok M untuk berbelanja sambil mencuci mata. Kebetulan, ia juga bekerja di Pasar Raya yang lokasinya masih satu kawasan dengan Mal Blok M.
“Lagi ngelihat-ngelihat, eh dapat yang bagus. Harus sabar milihnya kalau ingin dapat yang bagus. Kalau saya sukanya model yang lama, keren-keren,” imbuhnya.
Billy mengatakan, toko tersebut sudah menjadi langganannya untuk berbelanja pakaian. Tempat tinggalnya yang masih berada dekat dengan kawasan Mal Blok M membuat dirinya gampang untuk menjangkau toko tersebut.
Terkadang, dia mengajak temannya sambil merekomendasikan tempat belanja favoritnya itu. Namun, tak jarang juga Billy datang ke toko itu sendirian agar bisa menghabiskan waktu berlama-lama, bahkan hingga melebihi dua jam.
Ia pun kemudian mengenang kembali suasana Mal Blok M yang sebelum pandemi sangat ramai oleh pedagang dan pembeli. “Dulu ramai banget, desak-desakan untuk jalan saja. Banyak ABG yang datang ke tempat ini.
Lanjut dia. Tak sekadar tempat berbelanja, dulu kawasan Mal Blok M juga sering dijadikan tempat nongkrong anak-anak muda di Jakarta. “Kalau sudah ke Blok M berarti gaul. Blok M dulu tempat anak muda Jakarta nongkrong, sekarang enggak ada,” ungkap Billy.
Saking ramainya kawasan Blok M dulu, pengunjung yang berdesak-desakan harus mewaspadai aksi copet. “Sekarang justru enggak rawan copet. Dulu Sabtu, malam Minggu, itu ramai, rawan copet, sekarang enggak. Pokoknya enggak kayak dulu, lebih aman sekarang. Tapi sekarang tokonya banyak yang tutup,” pungkas Billy.