KabarJakarta.com — Peningkatan kesejahteraan masyarakat tidak bisa hanya mengandalkan penyaluran bantuan sosial. Warga juga perlu dibekali keterampilan, memperoleh akses ke sumber penghasilan, serta mendapatkan pendampingan yang konsisten agar mampu mengembangkan potensi dan membangun kemandirian. Persoalan utamanya adalah bagaimana memastikan dukungan tersebut memberikan dampak nyata yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) mendorong penguatan kapasitas dan kemandirian warga melalui penyelenggaraan puncak penghargaan Mandaya Awards dan Innovillague 2026 yang berlangsung pada Selasa (27/10). Ajang ini mempertemukan pemerintah daerah, pemerintah desa, perguruan tinggi, pesantren, dunia usaha, lembaga filantropi, serta mahasiswa dalam satu gerakan pemberdayaan masyarakat.
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, A. Muhaimin Iskandar, menjelaskan keberhasilan pemberdayaan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Agar dampaknya semakin luas, gagasan dan program inovatif yang lahir di masyarakat perlu dikembangkan serta diterapkan di berbagai wilayah. Dengan begitu, manfaatnya bisa dirasakan oleh lebih banyak warga dari beragam latar belakang.
"Setiap aksi nyata yang lahir dari desa, kampus, pesantren, termasuk dunia usaha membuktikan bahwa pemberdayaan masyarakat akan berhasil, saat semua pihak bergerak bersama. Tugas kita, memastikan manfaatnya bisa dirasakan semakin banyak masyarakat," ujar Muhaimin di Jakarta, Selasa (27/10).
Penghargaan ini diharapkan tidak berhenti sebagai bentuk pengakuan atas pencapaian penerimanya, tetapi juga menjadi pemicu lahirnya perbaikan dan penerapan program-program yang memberikan dampak positif bagi kehidupan masyarakat. Lebih jauh, Mandaya Awards dan Innovillague diharapkan menjadi sarana untuk mengenali praktik yang berhasil, menyebarkan pengetahuan, dan mendorong lahirnya inisiatif serupa di wilayah lain.
Dari penghargaan menuju gerakan bersama
Mandaya Awards pertama kali diselenggarakan Kemenko PM pada 2025. Penghargaan ini menyasar beragam unsur yang berkontribusi dalam pemberdayaan masyarakat, termasuk pemerintah daerah, sektor usaha, kalangan akademisi, dan organisasi kemasyarakatan. Sementara itu, Innovillague menjadi wadah bagi mahasiswa untuk merancang terobosan yang relevan dengan tantangan dan kebutuhan masyarakat perdesaan.
Pada penyelenggaraan 2025, Mandaya Awards memberikan penghargaan kepada 52 penerima dalam tiga kategori. Setahun kemudian, kedua ajang tersebut kembali diselenggarakan dengan cakupan partisipasi yang lebih luas.
Dalam proses seleksi 2026, Kemenko Pemberdayaan Masyarakat menerima 764 naskah yang memuat program dan inovasi, melibatkan sekitar 1.600 orang yang aktif menggerakkan kegiatan pemberdayaan.
Jumlah tersebut menunjukkan beragamnya inisiatif yang berpotensi dikembangkan. Meski demikian, tingkat partisipasi yang tinggi belum cukup untuk dijadikan tolok ukur keberhasilan program. Pertanyaan yang lebih penting ialah sejauh mana program-program tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan, memperluas kesempatan ekonomi, dan memperkuat kemandirian masyarakat.
Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Daerah Tertentu Kemenko PM, Abdul Haris, menekankan perlunya perubahan pendekatan dalam menangani persoalan sosial.
"Kita tentu, tidak ingin memberi bantuan secara terus-menerus, tetapi harus mengubah paradigma. Setiap bantuan harus diupayakan menuju pemberdayaan,” ujarnya saat menjelaskan penyelenggaraan ajang tersebut.
Pendekatan ini penting karena bantuan yang tidak disertai penguatan kapasitas berisiko membuat masyarakat terus bergantung pada dukungan dari luar. Pemberdayaan masyarakat bertujuan membekali warga dengan kemampuan untuk mengoptimalkan sumber daya di sekitarnya, mengembangkan usaha produktif, dan menentukan pilihan yang mendukung peningkatan taraf hidup secara mandiri.
Kolaborasi menentukan keberlanjutan
Setiap pihak memiliki peran yang berbeda dalam proses tersebut. Dukungan pemerintah dapat diwujudkan melalui penyusunan kebijakan yang mendukung, pembangunan sarana dan prasarana, serta perluasan akses masyarakat terhadap sumber pendanaan. Perguruan tinggi menyumbangkan pengetahuan, riset, serta pendampingan teknis. Dunia usaha membantu membuka pasar dan memperkuat rantai pasok, sedangkan lembaga filantropi dapat mendukung pembiayaan maupun pengembangan kapasitas.
Pesantren dan pemerintah desa dapat menjadi penggerak pemberdayaan masyarakat karena memiliki hubungan erat dengan warga serta memahami kebutuhan dan persoalan yang mereka hadapi sehari-hari. Sementara itu, mahasiswa dapat berkontribusi melalui pemetaan masalah, perancangan alternatif penyelesaian, hingga pengujian gagasan di lapangan lewat penelitian terapan dan program pengabdian kepada masyarakat.
Kolaborasi diperlukan agar sebuah inovasi tidak berhenti ketika kegiatan proyek selesai atau pendanaan berakhir. Program yang awalnya berhasil dalam lingkup kecil selalu membutuhkan dukungan kelembagaan, sumber daya manusia, pembiayaan, dan akses pasar agar dapat bertahan.
Replikasi inovasi bukan menyalin program
Meski demikian, keberhasilan di satu daerah tidak otomatis dapat diterapkan dengan hasil yang sama di daerah lain. Setiap wilayah memiliki kondisi geografis, sumber daya, kebiasaan masyarakat, dan tantangan ekonomi yang berbeda.
Oleh sebab itu, sebelum diterapkan di wilayah lain, setiap program perlu dikaji terlebih dahulu untuk mengetahui faktor-faktor kunci yang mendukung keberhasilannya. Model pengolahan hasil pertanian, misalnya, dapat dipelajari daerah lain melalui aspek teknologi, pengelolaan usaha, dan pemasaran. Namun, penerapannya tetap harus disesuaikan dengan komoditas, kemampuan warga, dan kebutuhan pasar setempat.
Proses tersebut membutuhkan dokumentasi praktik baik, pendampingan, evaluasi, serta pengukuran hasil yang jelas. Indikatornya tidak cukup berupa jumlah pelatihan atau peserta, tetapi juga perubahan pendapatan, keberlangsungan usaha, penciptaan lapangan kerja, dan kemampuan masyarakat mengelola program secara mandiri.
Kemenko PM berharap Mandaya Awards dan Innovillague 2026 dapat memperluas penerapan program pemberdayaan yang efektif ke berbagai wilayah. Penyebaran praktik baik tersebut diharapkan mampu menciptakan kesempatan usaha yang lebih luas dan berkontribusi terhadap penurunan angka kemiskinan secara berkelanjutan.
Namun, capaian sebuah program tidak semata-mata ditentukan oleh penghargaan yang diperoleh penyelenggaranya. Hal yang lebih penting adalah sejauh mana inovasi tersebut dapat menjadi contoh bagi pihak lain dan menghasilkan perubahan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Pekerjaan berikutnya adalah memastikan inisiatif yang mendapat apresiasi tidak berhenti pada seremoni. Diperlukan dukungan, pendampingan, dan penerapan yang sesuai dengan kebutuhan setiap daerah agar praktik baik tersebut berkembang menjadi upaya bersama untuk memperkuat kemandirian dan kesejahteraan masyarakat.