KabarJakarta.com — Pembangunan kota Jakarta tidak berhenti hanya ketika jalan selesai dibangun, transportasi publik diperluas, atau ruang terbuka hijau bertambah. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan seluruh fasilitas tersebut tetap terawat dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat ibu kota.
Di tengah perubahan Jakarta menuju kota global, keterlibatan generasi muda merupakan salah satu bagian penting untuk menjaga keberlanjutan pembangunan sekaligus keharmonisan warganya.
Pesan itu disampaikan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat menghadiri Workshop Aspirasi Orang Muda Jakarta-Kawula 17 Goes to School di Balairung, Balai Kota DKI Jakarta, Senin (26/10).
Dalam kesempatan tersebut, Pramono mengingatkan bahwa pembangunan dan kehidupan masyarakat yang harmonis tidak akan bertahan dengan sendirinya. Diperlukan keterlibatan generasi muda secara aktif untuk merawat hasil pembangunan, menjaga hubungan antarmasyarakat, serta memastikan Jakarta terus berkembang menjadi kota yang lebih baik dan berkelanjutan.
"Anak-anakku sekalian, semua kalian harus ikut bertanggung jawab untuk merawat kota ini. Sebagai calon-calon pemimpin bangsa ke depan, kalian yang bertanggung jawab untuk merawat dan menjaga," ujar Pramono.
Ruang aspirasi orang muda
Workshop Aspirasi Orang Muda Jakarta-Kawula 17 Goes to School menjadi ruang pertemuan antara pemerintah dan generasi muda untuk membicarakan masa depan Jakarta. Kegiatan yang berlangsung di Balairung, Balai Kota DKI Jakarta, tersebut menempatkan anak muda sebagai bagian penting dalam pembangunan kota, bukan sekadar penerima manfaat kebijakan.
Melalui ruang dialog seperti ini, aspirasi generasi muda menjadi bahan pertimbangan dalam melihat persoalan perkotaan yang dihadapi. Pengalaman mereka menggunakan transportasi publik, mengakses fasilitas pendidikan, menghadapi persoalan lingkungan, hingga berinteraksi di ruang publik dapat memberikan perspektif yang berbeda bagi pemerintah.
Pelibatan anak muda juga penting untuk menumbuhkan kesadaran bahwa persoalan kota tidak hanya merupakan tanggung jawab pemerintah semata. Warga memiliki peran dalam menjaga fasilitas umum, mengurangi sampah, menghormati perbedaan, dan membangun lingkungan yang aman bagi semua orang.
Namun, partisipasi tidak boleh berhenti hanya melalui penyampaian pendapat di sebuah forum. Aspirasi tersebut perlu memperoleh tindak lanjut yang jelas, sementara pemerintah perlu membuka ruang bagi anak muda untuk terlibat dalam proses perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi kebijakan.
Dengan demikian, generasi muda dapat memahami bagaimana keputusan publik dibuat sekaligus mengawasi apakah kebijakan tersebut benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Pembangunan harus memberi manfaat nyata
Pramono mengungkapkan, transformasi pembangunan Jakarta yang dilanjutkan oleh para pemimpin saat ini perlu dijaga agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara berkelanjutan.
Pembangunan transportasi publik, penambahan ruang terbuka hijau, dan peningkatan fasilitas umum merupakan bagian dari upaya membentuk kota yang lebih layak huni. Sejatinya, infrastruktur tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, namun juga turut menentukan kualitas kehidupan warga sehari-hari.
Transportasi publik yang terintegrasi, misalnya, dapat mempermudah mobilitas masyarakat, mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi, serta membantu menekan kemacetan dan polusi udara. Sementara itu, ruang terbuka hijau akan menyediakan tempat bagi warga untuk beraktivitas, berinteraksi, sembari menikmati lingkungan yang lebih sehat.
Fasilitas publik yang mudah diakses juga penting untuk memastikan setiap kelompok masyarakat memperoleh kesempatan yang setara. Kota yang nyaman bukan hanya kota yang hadir dalam wujud bangunan modern, melainkan kota yang mampu memenuhi kebutuhan warganya, termasuk anak-anak, penyandang disabilitas, lansia, termasuk kelompok rentan lainnya.
Karena itu, keberlanjutan pembangunan membutuhkan 2 (dua) hal sekaligus, yakni kebijakan pemerintah yang tepat dan berdampak luas, serta partisipasi masyarakat untuk menjaga serta memanfaatkan fasilitas secara bertanggung jawab.
Transisi energi dan tantangan lingkungan
Pada kesempatan itu, Pramono turut memaparkan sejumlah program Pemprov DKI Jakarta, mulai dari penanganan banjir, perluasan layanan transportasi publik, pengelolaan sampah, hingga upaya mengurangi polusi udara.
Salah satu rencana yang disampaikan adalah penggunaan bus listrik untuk seluruh bus yang beroperasi di Jakarta pada 2030. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga berencana membangun tiga pembangkit listrik tenaga sampah mulai 2026.
"Saya sudah putuskan, sampai 2030, semua bus yang beroperasi di Jakarta harus memakai bus listrik. Yang kedua, pembangkit-pembangkit listrik di DKI. Mulai tahun ini, akan kita bangun 3 pembangkit listrik dari tenaga sampah," jelasnya.
Rencana tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan Jakarta juga menghadapi tantangan untuk menyeimbangkan kebutuhan mobilitas, pengelolaan sampah, dan kualitas lingkungan bagi warganya.
Meski demikian, keberhasilan program tersebut tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur. Pemerintah tetap perlu memastikan pelaksanaannya efektif, manfaatnya terukur, dan dampak lingkungannya terkendali.
Generasi muda dapat mengambil bagian melalui kebiasaan yang lebih ramah lingkungan, pengawasan terhadap kebijakan publik, serta pengembangan gagasan dan inovasi untuk menjawab persoalan perkotaan.
Kepemimpinan dan tanggung jawab bersama
Pramono meyakini, Jakarta mampu berkembang menjadi kota yang lebih baik, inklusif, dan nyaman sepanjang dipimpin oleh sosok yang memiliki karakter kuat, bertanggungjawab, serta kreativitas dalam mengelola berbagai potensi kota.
"Kalau Jakarta ataupun kota ataupun negara apapun, kalau mendapatkan pemimpin yang bisa kemudian mengorkestrasi, membuat kotanya menjadi baik, indah, nyaman, pasti penduduknya akan merasa nyaman," tandasnya.
Kepemimpinan memang menentukan arah pembangunan. Namun, kualitas sebuah kota juga bergantung pada kemampuan pemerintah mendengarkan warganya, menindaklanjuti kebutuhan mereka, dan memastikan kebijakan berjalan secara konsisten.
Di sisi lain, generasi muda perlu mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang tidak hanya kreatif, tetapi juga memiliki integritas, kepedulian sosial, dan keberanian menyampaikan kritik berdasarkan fakta.
Masa depan Jakarta pada akhirnya tidak cukup dibangun melalui proyek fisik atau pergantian kepemimpinan. Kota ini membutuhkan pola kesinambungan kebijakan, masyarakat yang saling menghormati, termasuk generasi muda yang bersedia mengambil tanggung jawab.
Pesan Pramono menjadi pengingat bahwa Jakarta bukan semata-mata warisan yang dinikmati hari ini. Kota ini juga menuntut tanggung jawab bersama dalam hal merawatnya, agar pembangunan dan keharmonisan masyarakat dapat terus bertahan bagi generasi berikutnya.