Langsung ke konten
News

Mengapa Orang yang Sudah Divaksin Masih Bisa Terkena Virus COVID-19?

Redaksi Diperbarui
KabarJakarta_Default_ImageNews-250x190-1
KabarJakarta_Default_ImageNews-250x190-1

VAKSIN COVID-19 dikembangkan dengan satu tujuan utama, yakni mengurangi risiko komplikasi terburuk penyakit tersebut, yang terkait dengan perawatan di rumah sakit, intubasi, dan kematian.

Teknologi apa pun yang digunakan untuk membuat vaksin, mereka semua punya tujuan awal yang sama: memaparkan sistem imun kita pada virus atau bakteria (atau bagian-bagiannya) untuk melatih sel-sel pertahanan tubuh melawan agen infeksi yang sebenarnya.

Proses imun ini sangat, sangat kompleks dan melibatkan banyak sel dan antibodi. Karena itu, respons imun sangat bervariasi tergantung pada jenis virus, kemampuannya bermutasi, cara pembuatan vaksin, dan kondisi komorbid pasien.

Bagaimanapun, sangat sulit untuk mengembangkan agen imunisasi yang mampu mencegah infeksi itu sendiri, yaitu, memblokir masuknya penyebab penyakit ke dalam sel.

Namun ini satu poin yang sangat penting, bahkan pada kasus ketika vaksin tidak bisa mencegah infeksi, respons imun yang diciptakan oleh vaksin dapat menyebabkan gejala menjadi tidak begitu parah, sehingga mencegah sakit parah dan kematian.

Itu terjadi dengan vaksin influenza dan rotavirus, misalnya orang yang sudah diimunisasi dapat terinfeksi. Namun risiko mengalami komplikasi serius dengan penyakit-penyakit ini jauh berkurang.

Dan fenomena yang sama persis kita lihat dengan COVID-19: meskipun imunisasi tidak memperlambat gelombang kasus baru, mereka efektif mencegah keparahan sebagian besar infeksi.

Buktinya adalah gelombang terbaru, yang terjadi antara akhir 2021 dan awal 2022 dan terkait dengan varian Omikron.

Meskipun jumlah kasus di banyak negara mencapai rekor, tingkat rawat inap dan kematian secara signifikan lebih rendah jika dibandingkan dengan gelombang-gelombang sebelumnya.

Sebuah studi oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) dan Departemen Keamanan Dalam Negeri AS yang diterbitkan pada bulan Maret lalu menghitung cakupan perlindungan ini.

Data itu mengungkapkan bahwa orang dewasa yang telah menerima tiga dosis vaksin COVID memiliki risiko 94% lebih rendah untuk memerlukan rawat inap, ventilasi mekanis, atau kematian, dibandingkan dengan mereka yang tidak diimunisasi.

Bukti ketiga dari efek perlindungan ini berasal dari penelitian follow up yang dilakukan oleh Zoe dan King's College dan yang kami sebutkan pada awal artikel ini.

Beberapa gejala covid yang parah, seperti sesak napas dan demam tinggi, lebih sering ditemukan pada awal pandemi, ketika vaksin belum tersedia.

Setelah beberapa kali gelombang kasus dan, terutama, setelah sebagian besar populasi mendapatkan dosis vaksin, jenis gejala ini mulai turun peringkatnya, dan secara bertahap digantikan oleh laporan-laporan tentang gejala ringan, seperti hidung meler, sakit kepala, dan bersin-bersin.

Dari sudut pandang praktis, virus masih dapat menyerang sel-sel di mulut, hidung, dan tenggorokan pada orang dengan dua atau lebih dosis vaksin, dan menyebabkan gejala khas pilek.

Untungnya, dalam banyak kasus, sistem kekebalan yang aktif mencegah patogen dari mencapai paru-paru dan seluruh tubuh, tempat-tempat yang dapat menyebabkan sesak napas, demam, inflamasi, dan konsekuensi lainnya yang lebih serius.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua