KabarJakarta.com - Peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes memprediksi NasDem, Demokrat dan PKS akan menjalin kerja sama dalam membentuk koalisi. Menurut Arya, pilihan koalisi antarpartai semakin terbatas lantaran sudah munculnya beberapa koalisi.
“Dalam formasi koalisi partai menjelang pilpres itu sekarang saya melihat indikasi bahwa pilihan-pilihan untuk berkoalisi meskipun masih cair koalisinya tetapi pilihan-pilihan koalisi itu mulai terbatas karena dipengaruhi oleh munculnya beberapa koalisi mulai solid,” kata Arya, Selasa (12/7/2022).
“Misalnya Koalisi Indonesia Bersatu (KIB), kemudian pilihan terbatas itu juga terjadi karena situasi internal partai lain yang belum memberikan indikasi akan berkoalisi ke partai mana," lanjutnya.
Berdasarkan hal itu, Arya melihat, NasDem sudah mulai mengerucut kepada Partai Demokrat dan PKS untuk berkoalisi. NasDem, menurutnya, dinilai cukup sulit membangun koalisi dengan partai yang lebih besar, seperti PDIP dan Gerindra.
“NasDem memang kecenderungannya mengerucut formasi koalisi sekarang itu, pilihannya pada dua partai, yaitu Demokrat dan PKS, kenapa? Karena pilihan NasDem untuk di luar partai itu tidak mudah,” jelas Arya.
Pada Kamis (23/6) lalu, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bertemu dengan Ketua Umum NasDem Surya Paloh. AHY mengunjungi markas Partai NasDem dan menyebut pihaknya terbuka untuk berkoalisi pada Pilpres 2024. Hanya, Surya Paloh belum memberi keputusan terkait rencana koalisi tersebut.
“Kemungkinan itu ada, cukup besar. Hanya saja belum hari ini,” ucap Paloh di NasDem Tower, Jakarta Pusat, Kamis (23/6).
Diungkapkan Paloh, kedekatan NasDem dengan Demokrat merupakan modal awal untuk membangun koalisi. Ia pun menyebut saat ini NasDem tengah membenahi sektor internal partai.
“Chemistry itu ada. Itu modal dasar yang bisa dikapitalisasi untuk sesuatu. Kita lihat perkembangannya juga. Tidak hanya kita mengenal, harus tahu kemampuan kita dan kelemahan kita,” kata Paloh.