KabarJakarta.com — Penertiban parkir liar di kawasan Kolam Renang Bulungan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (8/10), berujung kericuhan antara petugas gabungan dan sejumlah pekerja proyek Kejaksaan Agung (Kejagung). Seorang anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) mengalami luka di dahi setelah dipukul menggunakan helm proyek hingga harus menerima enam jahitan.
Insiden tersebut bermula dari operasi cabut pentil (OCP) terhadap kendaraan yang diparkir di bahu jalan. Penertiban yang semula ditujukan untuk mengembalikan fungsi fasilitas publik itu kemudian berkembang menjadi bentrokan. Sejumlah petugas dilaporkan dikejar dan mengalami intimidasi di tengah situasi yang tidak terkendali.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo meminta kepolisian menuntaskan kasus tersebut melalui jalur hukum, meskipun pihak perusahaan yang berkaitan dengan proyek telah menyampaikan permintaan maaf dan menghendaki penyelesaian secara kekeluargaan.
“Saya minta, hal yang seperti ini, proses hukumnya tetap ditegakkan. Tetapi tentunya, kita tetap membuka pintu silaturahmi untuk itu,” kata Pramono di Jakarta Timur, Senin (12/10).
Bagi Pramono, permintaan maaf tidak menghapus kebutuhan untuk memproses dugaan kekerasan terhadap petugas yang sedang menjalankan tugas. Ia menegaskan pemerintah tidak boleh membiarkan tindakan intimidasi dan kekerasan terhadap aparat penegak ketertiban menjadi sesuatu yang dianggap biasa.
“Tadi malam pun, saya bilang kita nggak boleh kalah dengan premanisme yang dilakukan oleh siapa pun. Karena mereka itu sedang menjalankan tugas, saya minta ditegakkan aturan main,” terangnya.
Berawal dari parkir di bahu jalan
Kepala Satpol PP Kecamatan Kebayoran Baru Diki Zulkanain menjelaskan, penertiban dilakukan setelah muncul pengaduan warga mengenai kendaraan pekerja proyek yang diparkir di bahu jalan dan trotoar kawasan Bulungan.
Menurut Diki, lokasi tersebut bukan tempat parkir resmi. Tidak terdapat rambu parkir maupun juru parkir yang mengatur kendaraan di area itu.
“Yang jelas di sana kan, tidak ada rambu, tidak ada juru parkir. Saat kita tertibkan juga kan, yang menertibkan itu dari Dinas Perhubungan,” terang Diki.
Petugas gabungan dari Satpol PP, Dinas Perhubungan (Dishub), dan Dinas Sosial DKI Jakarta diterjunkan ke lokasi. Masing-masing instansi menjalankan tugas sesuai kewenangannya. Dishub menangani kendaraan yang parkir sembarangan, Satpol PP menertibkan pedagang kaki lima (PKL), sedangkan Dinas Sosial menangani pemerlu pelayanan kesejahteraan sosial (PPKS).
Diki menegaskan, operasi cabut pentil bukan dilakukan oleh Satpol PP, melainkan petugas Dishub.
Pada Senin (12/10), Kepala Satpol PP Jakarta Selatan Nanto Dwi Subekti menyebut petugas telah menindak 83 sepeda motor dan lima mobil dalam operasi penertiban di kawasan tersebut.
Jumlah kendaraan yang ditindak memperlihatkan skala persoalan parkir di lokasi itu. Namun, tindakan terhadap sejumlah kendaraan roda dua telah memicu ketegangan dengan para pekerja proyek yang berada di sekitar lokasi.
Pramono menegaskan, ketika petugas melakukan operasi cabut pentil, muncul provokasi dari sejumlah orang yang berada di lokasi. Situasi kemudian memanas dan pecah bentrokan antara para petugas Dishub dan pekerja proyek.
“Saat dilakukan di kolam renang Bulungan, Satpol PP dan dishub sedang melakukan penertiban, mencabut pentil ban. Supaya orang tidak parkir sembarangan. Tetapi dalam suasana itu, ada yang memprovokasi, terutama dari pekerja yang ada di tempat itu,” paparnya.
Menurut Pramono, petugas Dishub kemudian mundur. Namun, kericuhan tidak langsung berhenti. Sejumlah orang disebut sempat mengejar petugas, termasuk anggota Satpol PP, hingga akhirnya terjadi pemukulan.
“Dipukul, dihantam pakai helm. Satpol PP akhirnya mendapat perawatan di Puskesmas Kelurahan Selong dan menerima 6 jahitan,” ungkapnya.
Pedagang menyaksikan kericuhan
Kericuhan itu juga disaksikan oleh pedagang makanan yang biasa berjualan di sekitar proyek. Salah satunya Mike, pedagang nasi warteg keliling yang mengaku baru tiba di lokasi saat petugas melakukan penertiban.
Menurut Mike, petugas Satpol PP sempat mengarahkannya secara persuasif agar berpindah tempat berjualan. Tidak lama kemudian, ia melihat keributan yang melibatkan Satpol PP, polisi, Dishub, dan pekerja proyek.
Ia menduga kondisi pekerja yang kepanasan, lapar, dan tidak bisa langsung menggunakan sepeda motor karena ban telah dikempiskan turut memperburuk suasana. Namun, dugaan tersebut hanya didasarkan pada keadaan yang ia lihat dan informasi yang diterima, bukan kepastian mengenai penyebab bentrokan.
“Ya palingan, karena panas, kelaparan, terus terganggu mau makan siang,” kata Mike.
Mike mengaku tidak mengetahui secara langsung adanya informasi terkait petugas yang terluka. Setelah keributan mereda, ia melihat sejumlah sepeda motor masih berada di lokasi dengan kondisi ban kempis. Para pekerja kemudian mendatangkan kompresor untuk bisa mengisi kembali ban motor mereka.
Pedagang lainnya, Naryo, mengungkapkan bahwa kericuhan berdampak pada arus lalu lintas di sekitar Bulungan. Kendaraan dari arah Taman Puring tidak dapat melintas karena jalan dipenuhi aktivitas di tengah insiden tersebut.
“Waktu itu sampai macet total. Dari arah Taman Puring sampai enggak bisa jalan. Semua kendaraan dari arah sana ke sini nggak bisa jalan,” ujarnya.
Keterangan para pedagang memberikan gambaran mengenai dampak langsung kericuhan terhadap aktivitas di sekitar lokasi. Meski demikian, mereka tidak menyaksikan seluruh rangkaian kejadian sehingga keterangan tersebut belum dapat memastikan siapa yang pertama kali melakukan kekerasan.
Polisi masih mengidentifikasi pelaku
Kepolisian telah menerima laporan mengenai insiden tersebut pada Kamis (8/10). Hingga Senin, penyidik masih memeriksa saksi dan berupaya mengidentifikasi orang-orang yang diduga terlibat dalam pemukulan.
Kanit Reskrim Polsek Kebayoran Baru AKP Andre Simamora memaparkan, sejauh ini polisi telah memeriksa sekitar 5 (lima) saksi.
“Sementara kita sudah periksa beberapa saksi. Kurang dan lebihnya ada 5 saksi,” kata Andre kepada wartawan di Jakarta, Senin (12/10).
Ia menjelaskan, penyidik belum dapat memastikan identitas pelaku karena jumlah orang yang berada di lokasi cukup banyak. Polisi juga masih mendalami berapa orang yang terlibat dalam pemukulan.
“Sementara ini belum bisa kita identifikasi pelakunya, karena waktu itu ramai. Berapa orang yang melakukan pemukulan, kita juga belum bisa pastikan,” ujarnya.
Informasi awal menyebut adanya dugaan keterlibatan dua orang dalam kekerasan tersebut. Salah satunya diduga memukul petugas menggunakan helm proyek, sedangkan seorang lainnya diduga melakukan pemukulan terhadap petugas di sekitar lampu merah CSW. Dugaan itu masih perlu dibuktikan melalui penyelidikan kepolisian.
Pascakejadian, Pramono segera menghubungi Kepala Satpol PP DKI Jakarta Satriadi Gunawan untuk mengonfirmasi kejadian tersebut. Ia menyebut perwakilan perusahaan terkait proyek telah mendatangi Pemprov DKI Jakarta untuk menjelaskan kronologi peristiwa.
Meski membuka ruang komunikasi dan penyelesaian secara baik-baik, Pemprov DKI tetap meminta proses hukum berjalan. Kasus Bulungan kini menyisakan dua persoalan yang perlu ditangani secara bersamaan.
Pertama, penegakan hukum atas dugaan kekerasan terhadap petugas yang menjalankan tugas. Kedua, penertiban parkir di ruang publik agar tidak kembali memicu konflik serupa.
Bahu jalan dan trotoar merupakan fasilitas yang digunakan masyarakat untuk berlalu lintas, bukan ruang parkir bebas. Namun, penertiban juga membutuhkan pengendalian situasi agar tindakan administratif tidak berkembang menjadi bentrokan.
Penyelesaian kasus ini pada akhirnya bergantung pada hasil penyelidikan dan pembuktian hukum. Sementara itu, pemerintah daerah perlu memastikan pengaduan warga ditindaklanjuti secara konsisten, aturan parkir ditegakkan, dan keselamatan petugas maupun masyarakat tetap terjaga.