KabarJakarta.com --- Dibalik banyaknya ucapan selamat untuk perusahaan Grab atas keberhasilannya mengakuisisi Uber, terdapat kasus buruk bagi citra perusahaan transportasi online yang identik dengan warna hijau putih tersebut.
Pasalnya, pada Selasa 27 Maret 2018, perempuan tuli yang disapa Nia hendak memesan jasa transportasi online Grabbike hendak menuju he Little Hijabi Homeschooling (sekolah bilingual untuk tuli), hanya saja ketika mendapatkan pengemudi Grab di indomaret Juanda Bekasi, Nia malah mendapatkan penolakan akibat kondisi fisiknya.
"Saat isu saya keluar dari stasiun Bekasi dan pesan grab di Indomaret Juanda Bekasi yang terkenal sebagai basecamp grabbike, Karena ramai oleh pengemudi grabbike dan parkiran motor yang berantakan, aku bermaksud menjelaskan ciri khas dan ketulian saya agar menghindari miskomunikasi. Ternyata di luar dugaan, aku dapat respon kasar. Aku tanpa berpikir panjang langsung screenshot. 5 detik kemudian, dia sudah cancel," jelas Perempuan bernama lengkap Annisa Rahmania saat diwawancarai via WA oleh Redaksi KabarMakassar.com pada Rabu, 28 Maret 2018.
Nia yang saat itu bingung dengan adanya penolakan karena kondisi fisiknya kemudian melakukan pemesanan Grabbike lain hingga mendapatkan pengganti pengemudi yang lebih ramah.
"Aku pesan lagi dan dapat pengganti yang jauh lebih kalem dan baik. Seandainya pengemudi sebelumnya menolak secara halus meminta cancel, it's okay," jelasnya.
Kasus yang dirasakan Nia viral setelah dalam perjalanan ke The Little Hijabi Homeschooling Nia melaporkan kejadian itu dengan berbagi screenshot ke Twitter dan Instagram resmi Grab sebagai pengingat untuk mengedukasi para pengemudi untuk melayani disabilitas dengan lebih baik.
"Tetapi bahasa pengemudi tersebut sudah tidak bisa dibiarkan berlalu. Nanti dia semakin berani menyepelekan pelanggan disabilitas selanjutnya," kesal perempuan yang juga merupakan freelance di Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia itu.
Sejauh ini, Nia mengkonfirmasi telah dikabarkan oleh Surya Sahetapy, salah satu sahabat tulinya yang menjelaskan adanya ajakan pihak Grab untuk berdiskusi kedepannya.
"Ada ajakan pertemuan dari pihak Grab untuk berdiskusi. Belum tahu kapan," tambahnya.
Nia juga menjelaskan adanya hambatan penyelesaian kasusnya mengingat pengemudi transportasi online yang menolaknya tidak menggunakan akun aslinya atau tidak sesuai dengan akun yang menerima pesanan Grabbike Nia.
"Berdasarkan informasi yang aku terima via DM dari nama yang tertampil dalam chat ternyata sudah tidak bekerja kemudian dikasih ke temannya. Temannya mengakui nomornya dibajak. Mereka pun beri klarifikasi di youtube dengan judul Klarifikasi soal hina orang yang tuli," jelas Nia.
Hingga saat ini, Nia masih menunggu penjelasan dari pihak Grab terkhusus menekankan pentingnya rules yang lebih memperhatikan persoalan perpindahan tangan atau perubahan nomor plat agar tidak membingungkan pelanggan.
Nia juga berharap agar seluruh perusahaan transportasi online lebih memperhatikan keramahan pada semua disabilitas mengingat masih banyaknya diskriminasi yang terjadi baik namun luput dari perhatian Pemerintah maupun Swasta.
"Teruntuk perusahaan transportasi online, segera melibatkan semua disabilitas untuk mengedukasi para pengemudi tentang pelayanan yang benar dan tepat agar mereka nantinya lebih siap melayani disabilitas di lapangan dan juga menghilangkan stigma negatif terhadap disabilitas. Dan untuk teman-teman disabilitas, semoga pengalaman aku dijadikan pelajaran yang bermanfaat bagi mereka agar lebih berani melaporkan perilaku yang diskriminatif dan menyikapi permasalahan dengan kepala dingin," Harap Nia menutup wawancara dengan Redaksi KabarMakassar.com.
Kasus Nia menjadi viral curhatannya dipublikasikan oleh akun Instagram Surya Sahetapy yang mengunggah screenshot perbincangan Nia dengan pengemudi Grabbike yang menghinanya.