Langsung ke konten
News

Pro Kontra Konversi Kompor Gas ke Kompor Listrik, Lebih Irit Mana?

Redaksi Diperbarui
Kabarjakarta.com
Kabarjakarta.com

KabarJakarta.com - Pemerintah akan mengonversi kompor gas ke kompor listrik untuk rumah tangga. Konversi ini disebut sebagai upaya mengurangi subsidi elpiji 3 Kg yang ternyata banyak dinikmati masyarakat golongan mampu. Intinya, pemerintah berniat menghentikan impor LPG pada tahun 2030.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyebut pihaknya di tahun 2023 mendatang pihaknya telah menyiapkan program konversi kompor gas ke kompor listri dengan menyasar 5 juta keluarga penerima manfaat. Ia mengklaim, program konversi ini menghemat anggaran negara.

Seiring dijalankannya program konversi itu, pemerintah akan mengurangi peredaran Elpiji 3 Kg secara bertahap, terutama di wilayah yang memperoleh jatah penyediaan paket kompor listrik induksi secara gratis.

Namun demikian, terdapat sejumlah kendalam dalam konversi kompor gas ke kompor listrik.

Kendala dan Kekurangan Kompor Listrik

Sebenarnya di tahun 2020, wacana pengkonversian kompor gas ke kompor listrik sudah mencuat. Direktur Eksekutif for Essential Service Room Fabby Tumiwa kala itu mengatakan, kompor induksi membutuhkan daya listrik yang besar.

Kata dia, biasanya kompor indukri memiliki daya listrik mulai dari 880-1.400 watt per unit atau rata-rata 1.000-1.200 watt per unit.

“Artinya, hanya rumah tangga yang tersambung listrik minimal 2.200 VA atau bahkan 3.300 VA ke atas yang berpotensi mengganti kompor elpiji ke kompor induksi,” kata Fabby Tumiwa dikutip dari Kontan.co.id, Jumat (11/9/2022).

Harga Kompor Listrik Mahal

Selain itu, faktor harga jual kompor induksi relatif mahal juga akan mempengaruhi minat masyarakat. Menurut Fabby, kompor induksi berkualitas baik harganya di kisaran Rp700.000 hingga Rp2 juta per unit.

Dengan harga tersebut, masyarakat yang bisa membeli kompor induksi jumlahnya terbatas. Misalnya, masyarakat kelas menengah yang menjadi pelanggan PLN rumah tangga berdaya 2.200 VA ke atas.

“Kompor induksi cocoknya untuk masyarakat yang tinggal di hunian vertikal atau apartemen,” ujarnya.

Keuntungan Menggunakan Kompor Listrik

Kompor induksi sejatinya dapat memberikan manfaat besar bagi penggunanya. Termasuk pada tingkat keamanannya yang lebih baik ketimbang kompir elpiji.

- Lebih Hemat

Penggunaan kompor induksi lebih hemat energi karena tingkat efisien yang lebih tinggi, ditambah biaya energi untuk memasak dengan kompor tersebut 10-15 persen lebih rendah dibandingkan kompor elpiji.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menjelaskan, untuk memasak dengan jumlah energi gas elpiji sebesar 1 Kg, masyarakat mengeluarkan uang hingga Rp5.250 per Kg. Sementara, dengan kompor listrik harga memasak setara dengan gas elpiji hanya Rp4.530.

“Tentu saja dengan menggunakan kompor induksi biaya memasak bisa lebih hemat 10-15 persen dibandingkan menggunakan elpiji,” ucap Darmawan dalam Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR RI, Rabu (14/9/2022).

- Lebih Cepat

Dari hasil pengujian Puslitbang PLN dan Balitbang Kementerian ESDM, untuk memanaskan air 2,5 liter dari 20 derajat Celcius ke 90 derajat Celsius, kompor listrik bisa melakukannya lebih cepat.

Hasil pengjuan itu memperlihatkan kompor listrik dengan tenaga 1.800 watt dapat memanaskan air dalam waktu 8 menit 47 detik. Sementara kompor elpiji butuh waktu 10 menit 29 detik.

Uji Coba Penggunaan Kompor Listrik

Pada tahap awal, pemerintah sedang melakukan uji coba di beberapa kota di Indonesia seperti Solo, Denpasar, dan Sumatera yang masing-masing diberikan kompor listrik ke 1.000 rumah tangga dengan kapasitas daya listrik antara 450-900 VA.

Terkait hal ini, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menjelaskan, pengguna kompor induksi akan menggunakan jalur khusus, dan tidak mengganggu listrik yang sudah terpasang. Selama ini, masyarakat menilai dengan menggunakan kompor listrik, maka daya listik akan dinaikkan dan menambah beban pembayaran listrik.

“Untuk aplikasi kompor induksi ini memang ada miss-interprestasi di masyarakat. Seakan kami meningkatkan daya dan tarif listrik pelanggan kami yang 450 VA. Untuk kompor induksi, kami menggunakan MCB jalur khusus, yang artinya tidak tersambung dengan pola konsumsi listrik menggunakan struktur daya terpasang maupun golongan tarif lama,” terangnya.

Gerindra Tolak Konversi Kompor Listrik

Partai Gerindra menyatakan keberatan terhadap rencana pemerintah mengkonversi elpiji 3 Kg dengan kompor listrik. Alasannya, kompor listrik memakan daya besar.

Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani menyatakan bahwa partainya menolak wacana pengkonversian gas elpiji 3 Kg ke kompor listrik dengan daya 1.200 watt karena akan membebani rakyat kecil.

“Ada pandangan yang menginginkan agar listrik dengan daya 450 watt dihapus. Dengan tegas kami menyatakan tidak setuju. Kenapa? Karena listrik dengan daya 450 VA ini dipakai oleh rakyat kecil, penghuni kontrakan petakan, para buruh, nelayan, dan petani, juga pelaku UMKM tidak bisa menikmati itu,” kata Ahmad Muzani, Rabu (21/9).

Dia menyarankan, sebaiknya kelebihan pasokan listrik dialihfungsikan kepada industry-industri dan pengembangan mobil listrik yang sedang tren.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua