KabarJakarta.com - Wacana Polda Metro Jaya menggelar tes urine di kampus-kampus Jakarta diperdebatkan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM-SI). Mereka mempertanyakan rencana tes urine yang terkesan hanya menyasar kalangan mahasiswa.
Koordinator Pusat BEM-SI, M Yuza Augusti, menantang polisi untuk dites urine duluan. Ia juga meminta agar polisi mengurusi hal-hal yang lebih penting ketimbang melakukan tes urine kepada mahasiswa.
Yuza mempertanyakan rencana tes urine yang sekan-akan menyasar kalangan mahasiswa dan anak muda saja. Dia juga mempertanyakan riset yang membuktikan bahwa mahasiswa melakukan penyalahgunaan narkoba.
“Saya bukan untuk menolak atau menyetujui, tapi sebuah kritikan dan juga sebuah substansi yang diambil dari wacana itu apa sebetulnya? Apakah memang karena anak muda yang lebih banyak menggunakan narkoba? Enggak juga kan. Mana riset dan lain-lainnya? Itu yang kita perlu tahu. Jadi hal-hal tersebut yang mungkin masih dipertanyakan,” ucap Yuza usai menggelar aksi demonstrasi di Patung Kuda, Jakarta Pusat, Jumat (28/10).
Yuza menegaskan, dirinya tidak dalam kapasitas mendukung ataupun setuju dengan wacana tersebut. Namun, dirinya heran mengapa wacana tes urine itu terkesan tiba-tiba.
“Saya bilang mendukung enggak, menolak juga enggak. Yang kita butuhkan klarifikan, kenapa tiba-tiba semuanya mau dites urine? Ibarat ada permasalahan yang lebih besar untuk diurusi, kenapa tidak diurusi terlebih dulu? Kenapa tes urune, buat apa? Itu juga permasalahan juga,” ujarnya.
Tantang Polisi Dites Urine Terlebih Dahulu
Yuza Augusti berpendapat, seharusnya tes urine dilakukan semua kalangagn saja, tidak hanya mahasiswa. Ia pun menantang polisi untuk melakukan tes urine terlebih dahulu di internalnya.
“Peraturan ini kan untuk seluruh masyarakat Indonesia, kenapa cuma mahasiswa dan juga anak muda doang? Kalau memang mau adil semua masyarakat harus dites urine, atau mungkin juga bapak-bapak polisi juga dites,” tukasnya.
Baginya, tidak ada substansi polisi melakukan tes urine kepada mahasiswa. Ia katakan, banyak hal lebih besar yang seharusnya diurus polisi, seperti Tragedi Kanjuruhan dan kasus Ferdy Sambo.
“Kalau memang ternyata ada memang fenomena pengguna narkoba semain bertambah, ya perlu diatur dan dipersilakan melakukan tes urine. Tapi, kalau BBM masih kesulitan, Tragedi Kanjuruhan belum selesai, masalah Ferdy Sambo, kenapa tes urine ke mahasiswa yang diurus,” pungkas Yuza.
Polisi Sebut BEM-SI Salah Persepsi
Menanggapi itu, Direktur Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Mukti Juharsa meluruskan bahwa tes urine tidak hanya berfokus pada mahasiswa, tapi semua kalangan.
“Tidak ada pernyataan tes urine hanya untuk mahasiswa jika teman-teman menyimak detail runutan paparan/pernyataan lengkap kami pada tanggal 19 Oktober 2022,” kata Mukti, Sabtu (29/10).
Dia menegaskan tes urine akan dilakukan kepada semua pihak untuk menurunkan angka prevalensi narkoba di semua kalangan masyarakat.
“Tentunya Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya akan fokus menurunkan bagaimana angka prevalensi narkoba. Siapa pun, umur berapa pun, profesi apa pun, dan di mana pun akan jadi fokus kami,” tuturnya.
Dia menjelaskan, pihaknya akan bekerja sama dengan pihak kampus yang membutuhkan pengawasan terhadap mahasiswanya. Jika ada permintaan untuk pelaksanaan tes urine kepada mahasiswa, Polda Metro Jaya akan melaksanakannya.
“Ini salah persepsi. Kita seakan-akan ingin melakukan tes urine kepada mahasiswa. Yang benar adalah, kita akan mencoba bekerja sama dengan universitas. Jika dibutuhkan untuk tes urine, kita siap, untuk membantu mahasiswa maupun dengan universitas,” Terangnya.
Mengenai tantangan BEM-SI agar polisi melakukan tes urine di internalnya terlebih dahulu, Mukti memastikan pihaknya telah melaksanakan tes urine kepada anggotanya secara rutin.
“Polisi sudah melakukan tes urine secara rutin dan berkala, khususnya anggota Reserse Narkoba,” jelasnya.
Pengguna Narkoba Meningkat
Mukti Juharsa menjelaskan alasan pihaknya berusaha bekerja sama dengan kampus menggelar tes urine kepada mahasiswa, karena jumlah pengguna narkotika di Indonesia yang terus meningkat berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN).
Data pengguna narkotika versi BNN menyebutkan terjadi kenaikan jumlah pengguna narkotika dari 1,8% pada 2019 menjadi 1,95% pada 2021. “Bahwa data pengguna narkoba dari 2019-2021 meningkat. Dari tahun 2019 berjumlah 1,8%. Dan sekarang jumlahnya 1,95%,” kata dia.
Mukti menyebutkan, risiko perempuan terpapar narkotika juga meningkat dari 0,20% pada 2019 menjadi 1,21% pada 2021. Data itu juga menyebutkan sebanyak 88,4% penyalahgunaan disebabkan oleh pengaruh teman.
“Risiko terpapar perempuan meningkat. Di mana data BNN tahun 2019 jumlahnya 0,20%. Sementara di tahun 2021 naiknya 1,21%. Hal ini yang kita sangat khawatirkan bahwa kenaikan pengguna meningkat di wilayah Indonesia,” ungkapnya.
“Pola penyalahgunaan adalah 88,4% adalah pengaruh teman,” tambah Mukti.