Langsung ke konten
News

PSI Cerai dengan 3 Kader Potensialnya

Redaksi Diperbarui
Kabarjakarta.com
Kabarjakarta.com

KabarJakarta.com - Menjelang Pemilu 2024, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kehilangan tiga kader potensialnya. Teranyar, Michael Victor Sianipar menyatakan melepas jabatan Ketua DPW PSI DKI Jakarta, sekaligus hengkang dari partai yang menasbihkan dirinya partai anak muda.

Keputusan ketiga kader PSI yang keluar dari partai beragam alasannya. Ada karena pertimbangan pribadi, hingga menganggap sudah tidak bisa sejalan dengan partai tersebut.

Berikut 3 kader PSI potensial yang hengkang jelang Pemilu 2024:

Tsamara Amany

Tsamara Amany mengumumkan pengunduran dirinya dari PSI pada April 2022. Langkahnya itu mengejutkan karena tak ada kabar konflik antara dirinya dengan PSI.

“Per hari ini, tanggal 18 April 2022, saya resmi mengundurkan diri sebagai pengurus dan kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI),” kata Tsamara Amany dalam cuitannya, Senin (18/4).

Dia pun mengucapkan terima kasih telah diberi banyak kesempatan selama di PSI. Sekadar informasi, Tsamara sempat menjadi caleg DPR RI dari PSI pada Pemilu 2019.

Tsamara menyebut keputusannya ini sudah dipertimbangkan secara pribadi. Dia mengaku butuh perjalanan baru di luar partai politik.

“Keputusan ini saya ambil atas dasar pertimbangan pribadi. Saya merasa membutuhkan perjalanan baru di luar partai politik. Untuk saat ini saya ingin fokus mengabdi untuk Indonesia melalui cara-cara lainnya. Salah satunya dengan menyuarakan isu perempuan dan mengabdi untuk kepentingan perempuan,” ujarnya.

Surya Tjandra

Berbeda dengan Tsamara Amany, Surya Tjandra mengaku keluar dari PSI pada Oktober 2022 karena ingin mendukung eks Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan maju jadi calon presiden 2024.

Seperti diketahui, selama Anies menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, PSI menempatkan diri sebagai oposisi dari mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) itu.

“Sudah tidak di PSI. Tapi pastinya, saya belum bergabung dengan partai mana pun sekarang ini. Saya mau bantuin Pak Anies sampe tuntas,” kata Surya dalam diskusi Total Politik bertajuk ‘5 Tahun Anies Sudah Sampai Mana?’ di Kantor Total Politik, Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Minggu (23/10).

Namun, dia mengaku sudah ditawari bergabung dengan partai lainnya. dia menyatakan tidak menutup kemungkinan akan bergabung dengan partai yang mendukung Anies.

“Ada beberapa tawaran dan saya hargai itu. Kita sempat ketemuan tapi belum fix. Kita lihat aja dulu apakah Pak Anies bisa nyapres atau enggak,” ujarnya.

“Kalau Pak Anies enggak bisa nyapres, kita lihat saja nanti,” sambungnya.

Michael Sianipar

Baru-baru ini Michael Victor Sianipar mengundurkan diri dari jabatan Ketua DPW PSI DKI Jakarta. Dia menyebut nilai-nilai di PSI sudah berubah dan memiliki masalah sistemik.

“Yang saya harapkan adalah konsistensi dari nilai-nilai yang disampaikan saat partai ini berdiri. Bahwa nilai-nilai itu benar-benar diterapkan dan bukan sekadar jargon belaka. Saat saya merasa kenyataan sudah tidak seperti yang dijanjikan dan dicitrakan, maka saya rasa sudah cukup juga perjuangan saya di partai ini,” kata Michael Sianipar, Jumat (9/12).

Dia menyatakan, selama memimpin PSI di Jakarta, dia bekerja berdasarkan nilai-nilai PSI yang ada sejak awal berdiri.

“Sebagai Ketua PSI DKI kemarin, saya sudah berusaha menerapkan nilai-nilai itu di Jakarta, yaitu transparansi dengan adanya laporan keuangan dan laporan kinerja tahunan PSI Jakarta, meritokrasi dengan adanya evaluasi kinerja berkala pengurus dan anggota DPRD kami, demokrasi dengan adanya ruang untuk semua unsur menyampaikan pendapat dan didengar, dan kekritisan partai pemuda di mana saya mengawal PSI Jakarta untuk bersikap kritis dan obyektif di tingkatan kami yaitu provinsi DKI Jakarta dalam mengawal kerja pemerintah,” jelas Michael.

Tak hanya itu, Michael menyarankan agar PSI melihat ke dalam apa yang sudah dikerjakan dan apa yang sudah dicapai. Sebab, menurutnya hal tersebut agar sesuai dengan apa yang sudah dijanjikan dan ditawarkan dari awal PSI berdiri.

“Bagi saya tantangan terbesar PSI adalah memenuhi ekspektasi besar yang dijanjikan di awal, dengan standar dan nilai-nilai yang ditawarkan saat partai berdiri. Dan setelah delapan tahun berdiri, refleksi diri perlu dilakukan untuk memastikan sudah sejauh mana dan apakah arah institusi berkembang sudah merefleksikan cita-cita dan ekspektasi itu,” imbuhnya.

Menurutnya, jika partai tidak menyadari permasalahan di internal akan sulit meyakinkan politisi muda untuk ikut bergabung. Dia menyebut persepsi yang dibangun tidak seperti kondisi sebenarnya.

“Akan sulit bagi PSI untuk meyakinkan orang baik dan politisi muda bergabung dan berjuang di PSI jika institusi partai tidak menyadari permasalahan yang ada di dalam dan mengambil langkah serius untuk berbenah. Untuk apa membangun persepsi seolah semua baik-baik saja, padahal banyak sekali orang di luar dan dalam partai yang mengatakan perlu pembenahan menyeluruh. Perlu ada ruang kekritisan di dalam tubuh PSI kalau masih mau ada harapan tetap kompetitif di 2024,” pungkasnya.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua