KabarJakarta.com - PT MRT Jakarta menemukan objek “harta karun” di tengah proyek pembangun Fase 2, yaitu Saluran Air Kuno Batavia dan bagian Struktur Jembatan Glodok. Penemuan itu merupakan Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB).
Tim Arkeolog dari kontraktor MRT Jakarta, Junus Satrio Atmodjo mengungkapkan Jembatan Glodok Kuno ditemukan di lokasi proyek MRT Jakarta Fase 2A Glodok-Kota.
Berikut penjelasan penemuan harta karun tersebut:
Jembatan Glodok Kuno
Jembatan ini ditemukan 1 meter di bawah persimpangan Jalan Pinangsia Raya, Pintu Besar Selatan, dan Jalan Pancoran.
Kata Junus, saat ini lokasi jembatan tersebut sudah ditutup kembali sehingga tidak terlihat lagi dari permukaan.
Junus menjelaskan, dulunya Jalan Pancoran dan Pinangsia bukan jalanan seperti sekarang.
“Kita sekarang sedang berdiri di atas jembatan kuno,” ujar Junus di lokasi penemuan, Selasa (20/9).
Kata dia, jembatan kuno ini tidak akan dipindahkan seperti objek cagar budaya lainnya yang ditemukan di lokasi yang sama. Pihaknya nanti hanya akan mengambil material untuk dipamerkan di museum yang akan dibangun di Stasiun MRT Kota.
Rel Trem Peninggalan Hindia Belanda
Tim arkeolog dari kontraktor MRT Jakarta juga menemukan rel trem kuno peninggalan Hindia Belanda dari tahun 1869-1959, yang dulunya memiliki panjang mencapai 800 meter. Trem itu berhenti beroperasi pada tahun 1960-an.
“Rel trem ini juga berbelok. Di Jalan Gajah Mada dia agak belok dikit, kemudian lurus. Jadi simpang ini banyak ceritanya,” kata Junus.
Saluran Air Kuno Batavia
Penemuan lainnya yaitu Saluran Air Kuno Batavia peninggalan zaman VOC ditemukan di lokasi proyek MRT Jakarta Fase 2A Glodok-Kota. Saluran air sepanjang 400 meter ini dibangun oleh VOC dan digunakan untuk menyalurkan air bersih kepada penduduk Benteng Dalam yang kini merupakan kawasan wisata Kota Tua.
Junus Satrio menjelaskan, saluran air ini ditemukan sekitar 1,5 meter dari permukaan tanah. Jalur pipanisasi itu dulunya membentang dari persimpangan Glodok dekat Orion Plaza hingga kawasan Pasar Ikan.
“Orion Plaza dulunya tempat penyaringan air. Bangunan seng ini dulunya adalah banteng kecil. Ini sempat jadi penjara. Bung Hatta (Wakil Presiden RI Pertama), sempat pernah dipenjara di sini tahun 1940-an. Tapi kemudian dijual maka jadilah Orion Plaza. Ini adalah cikal bakal air masuk menuju ke dalam Kota Batavia, mulai dari sini,” ungkap Junus.
Pembangunan saluran air yang terbuat dari terakota ini direncanakan sejak tahun 1730. Akan tetapi, pipa air itu baru bisa berfungsi pada tahun 1800-an.
Saat itu, upaya antisipasi lingkungan kota yang kotor dilakukan VOC dengan memasok air bersih dari arah selatan, di mana ujung pipa atau waterleiding bermula di daerah Jalan Pancoran, di sebuah tempat bernama Waterplaats atau kolam air, kemudian berakhir di sekitar Pasar Ikan.
Saluran pipa bahkan melewati gedung Wali Kota (Stadhuis) dan Kastil Batavia. Setidaknya, kebutuhan air bersih untuk ribuan penduduk dalam kastil dilayani oleh saluran pipa ini, baik untuk minum maupun mencuci.