KabarJakarta.com - Presiden Rusia Vladimir Putin diyakini akan mengobarkan Perang Dunia III dalam beberapa hari ke depan. Hal itu diungkapkan Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace.
Wallace memprediksikan Putin kemungkinan akan memobilisasi masyarakat Rusia karena kegagalan operasi militer Rusia terhadap Ukraina sejak 24 Februari 2022 dengan dalih ingin melakukan ‘denazifikasi’ di negara itu.
Putin juga mengancam akan meluncurkan senjata nuklir ke negara-negara Barat jika mereka merintangi segala upayanya.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan, ancaman senjata nuklir dari negaranya sangat serius, bukan gertak sambal.
“Saya tidak akan terkejut. Dia (Putin) kemungkinan akan mengumumkannya pada awal Mei 2022. Dia akan menegaskan tengah berperang dengan negara Nazi dan perlu memobilisasi massal rakyat Rusia,” kata Wallace dikutip dari Daily Star.
Wallace memastikan pihaknya harus membantu rakyat Ukraina secara efektif, dan menjaga momentum untuk terus mendorong mereka.
Pernyataan Wallace ini dilontarkan saat 8.000 tentara Inggris melakukan latihan militer di Eropa Timur untuk bersiap menghadapi agresi militer Rusia.
Ini merupakan salah satu pengerahan militer terbesar sejak Perang Dingin. Puluhan kendaraan lapis baja (tank) akan dikirim ke sejumlah negara dari Finlandia hingga Makedonia Utara pada musim panas ini.
Hal itu dilakukan di bawah rencana yang telah ditingkatkan sejak Rusia melakukan invansi ke Ukraina.
Kementerian Pertahanan Inggris mengaku telah merencanakan persiapan ini cukup lama. Tapi rencana itu akhirnya ditingkatkan setelah invasi Rusia ke Ukraina terjadi.
Rusia Rayakan Kemenangan di Perang Dunia II
Sementara itu, informasi lain menyebutkan pada tanggal 9 Mei 2022 mendatang, Rusia akan merayakan kemenangan mereka di Perang Dunia II.
Hari itu merupakan hari libur nasional yang berbeda dengan lainnya. Sangat personal bagi banyak keluarga di Rusia juga merupakan kesempatan besar untuk propaganda negara Beruang Merah tersebut.
Di tanggal tersebut juga disebut-sebut akan digunakan Presiden Putin untuk mengumumkan kemenangan besar dalam perang di Ukraina.
Sejarah Perang Dunia II
Perang Dunia II adalah konflik bersenjata terbesar di dunia hingga saat ini. Peristiwa ini dimulai dengan invansi Jerman ke Polandia pada September 1939 dan berakhir pada tahun 1945.
Dalam peristiwa ini, puluhan juta orang tewas, dan jutaan lainnya mengungsi ke berbagai negara di dunia.
Uni Sovyet (nama negara Rusia saat itu), adalah salah satu negara dalam aliansi yang mengalahkan Nazi Jerman dalam Perang Dunia II. Negara tersebut mungkin yang paling terdampak buruk, karena sebagian besar pertempuran terjadi di Uni Sovyet.
Pada Mei 1945, Nazi menandatangani penyerahan tanpa syarat di Perang Dunia II, menerima kekalahannya di Eropa.
Dokumen legal ini mengakhiri pertemuan di kawasan tersebut, meskipun perang sekutu melawan Jepang di Asia berlanjut sampai bulan Agustus 1945.
Penyerahan secara definitif kekalahan Nazi Jermah ditandatangani di dekat Berlin pada 8 Mei 1945, dan Jerman secara resmi menghentikan semua operasi pada pukul 23.01 waktu setempat atau lewat dini hari waktu Moskow, Uni Sovyet.
Hari Kemenangan (Victory Day) ini juga dikenal dengan sebutan Victory in Europe (VE) Day, karena itu diperingati setiap tanggal 8 Mei di kebanyakan negara di Eropa dan di Amerika Serikat (AS), dan pada tanggal 9 Mei di Rusia, Serbia, dan Belarus.
Hari Kemenangan ini mengakhiri perang panjang dan berdarah bagi warga Uni Sovyet yang banyak orang kehilangan anggota keluarganya.
Tak hanya dirayakan sebagai Hari Kemenangan saja, hari bersejarah itu, 9 Mei, digunakan untuk menjadi alat ideologi penting bagi Uni Sovyet hingga kini nama negara tersebut berubah menjadi Rusia.
Putin dan Jokowi Melakukan Percakapan
Sementara itu Kantor Kepresidenan Rusia yang dilansir RIA Novosti, Kamis (28/4), menyebutkan soal Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) melakukan percakapan di telepon.
Dalam pembicaraan tersebut, keduanya membahas situasi di Ukraina dan membahas kerja G20.
Belum ada laporan secara rinci dari Kremlin tentang hasil pembicaraan atau kesepakatan apa pun dalam pembicaraan telepon Vladimir Putin dengan Jokowi.
Dalam pembicaraan tersebut, Putin memaparkan dan menguraikan penilaian Rusia terhadap situasi di Ukraina dalam konteks operasi militer khusus yang sedang berlangsung.
“Atas permintaan Joko Widodo, Vladimir Putin menguraikan penilaian Rusia terhadap situasi di Ukraina dalam konteks operasi militer khusus yang sedang berlangsung,” kata pernyataan itu, seperti dinyatakan kantor kepresidenan Rusia yang dilansir RIA Novosti, Kamis (28/4).
Menurut pernyataan Kremlin, kedua pemimpin menyepakati kontak lebih lanjut dan disebutkan percakapan itu terjadi atas inisiatif pihak Indonesia.
Selain itu, Putin dan Jokowi membahas kemajuan persiapan KTT G20. “Masalah kerja sama Rusia-Indonesia dibahas, serta, dengan mempertimbangkan kepemimpinan Jakarta di G20, berbagai aspek kegiatan Indonesia dan Rusia di G20,” kata laporan itu.
Rusia melancarkan operasi militer di Ukraina pada 24 Februari. Presiden Vladimir Putin menyebut tujuannya adalah perlindungan orang-orang yang menjadi sasaran intimidasi dan genosida oleh rezim Kiev selama delapan tahun.
Untuk ini, menurut Putin, Rusia melakukan "demiliterisasi dan denazifikasi Ukraina", untuk mengadili semua penjahat perang yang bertanggung jawab atas "kejahatan berdarah terhadap warga sipil" di Donbass.
Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, Angkatan Bersenjata hanya menyerang infrastruktur militer dan pasukan Ukraina. Rusia mengeklaim berhasil menyelesaikan tugas utama tahap pertama pada 25 Maret dan secara signifikan mengurangi potensi tempur Ukraina.
Tujuan utama di serangan ke Ukraina, kata Putin, adalah pembebasan Donbass, yaitu Republik Rakyat Donetsk dan Republik Rakyat Lugansk.
Sehari sebelumnya Jokowi juga sempat berkomunikasi dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky melalui sambungan telepon.
Dalam perbincangan tersebut, Jokowi mengungkapkan dukungan Indonesia terhadap upaya negosiasi damai antara Rusia dan Ukraina.
Selain itu, Indonesia kata Presiden juga siap untuk memberikan bantuan kemanusiaan.
“Yesterday I spoke to President@ZelenskyyUa of Ukraine. I reiterated Indonesia’s support to any efforts for peace negotiations to succeed and stand ready to provide humanitarian assistance,” tulis Presiden.
Sementara itu Zelensky dalam akun Twitter-nya menyampaikan bahwa dalam komunikasinya dengan Presiden Jokowi, Ukraina diundang untuk hadir dalam KTT G20 di Indonesia pada Oktober 2022.