Langsung ke konten
News

Riset ESDM: Penggunaan Air Perpipaan Bantu Tahan Penurunan Tanah Jakarta

Redaksi Diperbarui
Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin memberikan paparan di Bandung, Jumat (30/10/2026). Foto: ANTARA
Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin memberikan paparan di Bandung, Jumat (30/10/2026). Foto: ANTARA

KabarJakarta.com — Jakarta menghadapi persoalan lingkungan yang tidak sederhana. Selain ancaman banjir dan rob, ibu kota juga terus dibayangi penurunan permukaan tanah. Salah satu faktor yang selama ini menjadi perhatian adalah pengambilan air tanah secara berlebihan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Namun, upaya memperluas layanan air bersih melalui jaringan perpipaan mulai menunjukkan dampak yang lebih luas. Penggunaan air perpipaan tidak hanya mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap air tanah, tetapi juga berkontribusi dalam memperlambat laju penurunan permukaan tanah Jakarta.

Direktur Utama PT Air Minum Jaya (Perseroda) atau PAM Jaya, Arief Nasrudin, menjelaskan hasil penelitian Badan Geologi Kementerian Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) selama periode 2018 hingga 2025, menunjukkan adanya perubahan kondisi air tanah yang berkaitan dengan semakin luasnya penggunaan layanan air perpipaan.

"Terbukti, volume air di tanah sudah mulai terisi dan bisa menahan laju turunnya muka tanah yang ada di Jakarta," kata Arief di Bandung, Jumat (30/10).

Menurut Arief, temuan tersebut menjadi indikasi bahwa peningkatan akses air perpipaan mulai mengurangi tekanan terhadap cadangan air tanah. Ketika kebutuhan air rumah tangga dapat dipenuhi melalui jaringan pipa, masyarakat tidak lagi harus sepenuhnya mengandalkan sumur untuk memperoleh air bersih.

Selama ini, pengambilan air tanah secara berlebihan menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap penurunan permukaan tanah di Jakarta. Karena itu, mengurangi ketergantungan terhadap sumber air bawah tanah menjadi bagian penting dalam upaya mengatasi persoalan tersebut.

Arief mengapresiasi penelitian yang dilakukan oleh Kementerian ESDM itu. Dengan demikian, hasil tersebut menjadi salah satu indikator penting untuk melihat dampak perluasan layanan air perpipaan terhadap kondisi lingkungan ibu kota.

"Riset Kementerian ESDM, Jakarta telah berhasil menahan laju penurunan muka tanah. Ini menandakan, masyarakat Jakarta sudah banyak menggunakan air perpipaan," terangnya.

Perluasan jaringan berdampak pada lingkungan

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan infrastruktur air bersih memiliki manfaat yang lebih luas daripada sekadar menyediakan kebutuhan dasar masyarakat.

Perluasan jaringan perpipaan juga merupakan bagian dari strategi pengelolaan lingkungan perkotaan. Semakin banyak warga yang mendapatkan akses air bersih dari jaringan perpipaan, semakin besar pula peluang mengurangi pengambilan air tanah.

Meski demikian, perluasan layanan air perpipaan bukan satu-satunya solusi untuk mengatasi penurunan permukaan tanah. Pengendalian penggunaan air tanah, pengawasan pengambilan air tanah bawah, serta pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan tetap diperlukan.

Dalam konteks tersebut, Arief mengapresiasi dukungan Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta yang selama ini bekerja sama dengan PAM Jaya dalam memperluas akses layanan air bersih.

Sinergi kedua lembaga diwujudkan melalui koordinasi pembangunan dan pengembangan infrastruktur air perpipaan. Dinas SDA berperan dalam mendukung pengelolaan sumber daya air serta pembangunan infrastruktur terkait, sementara PAM Jaya bertanggung jawab terhadap penyediaan dan pengembangan layanan air minum melalui jaringan distribusi.

Kolaborasi itu diperlukan agar pembangunan infrastruktur air bersih dapat berjalan lebih terintegrasi, mulai dari ketersediaan pasokan hingga perluasan jaringan yang menjangkau permukiman warga.

"Ini sesuatu yang merupakan fakta, bahwa layanan 83 persen ternyata terlihat dari riset yang dilakukan, bukan oleh kami. Ini Badan Geologi yang telah melakukan riset," tutur Arief.

Mengejar pelayanan 100 persen pada 2029

Perluasan layanan air perpipaan di Jakarta sejauh ini menunjukkan perkembangan yang cukup besar. Berdasarkan data PAM Jaya hingga September 2026, jumlah pelanggan telah mencapai 1.222.484 sambungan dengan total penerima manfaat sekitar sembilan juta jiwa.

Cakupan pelayanan air perpipaan tercatat sebesar 83,27 persen. Dengan demikian, masih terdapat sekitar 16,73 persen wilayah atau masyarakat yang perlu dijangkau agar seluruh warga Jakarta dapat memperoleh layanan air bersih melalui jaringan perpipaan.

Untuk melayani pelanggan yang ada saat ini, PAM Jaya memiliki kapasitas suplai air sebesar 23.051 liter per detik (LPS). Kebutuhan distribusi tersebut didukung jaringan pipa sepanjang 13.094 kilometer yang tersebar di berbagai wilayah Jakarta.

Meski demikian, capaian tersebut belum membuat pekerjaan PAM Jaya selesai. Perusahaan daerah itu masih harus mengejar target cakupan pelayanan air perpipaan 100 persen pada 2029.

Untuk mencapai sasaran tersebut, PAM Jaya membidik peningkatan jumlah pelanggan menjadi 2.016.011 sambungan. Kapasitas suplai air juga ditargetkan meningkat menjadi 32.159 LPS, sedangkan panjang jaringan pipa akan diperluas hingga 16.234 kilometer.

Pengembangan infrastruktur tersebut turut didukung pembangunan dan pengoperasian 28 Instalasi Pengolahan Air (IPA) untuk memastikan ketersediaan pasokan air bersih bagi masyarakat.

Target tersebut membutuhkan penambahan kapasitas produksi, pengembangan jaringan distribusi, serta percepatan pembangunan infrastruktur hingga menjangkau kawasan yang belum terlayani.

Pola kerja berkelanjutan

Arief mengakui, upaya mencapai pelayanan 100 persen membutuhkan kerja berkelanjutan dan dukungan seluruh pemangku kepentingan. Pemerintah daerah, PAM Jaya, serta masyarakat memiliki peran penting dalam mempercepat pemerataan akses air bersih.

Baginya, keberhasilan memperluas layanan air perpipaan tidak semata-mata diukur dari bertambahnya jumlah pelanggan. Lebih dari itu, perubahan pola pemenuhan kebutuhan air masyarakat diharapkan ikut mengurangi tekanan terhadap sumber air tanah.

Dengan demikian, target pelayanan 100 persen pada 2029 bukan hanya menjadi agenda pembangunan infrastruktur, melainkan juga bagian dari upaya menjaga keberlanjutan lingkungan Jakarta. Perluasan akses air bersih diharapkan menjadi salah satu langkah untuk menekan laju penurunan permukaan tanah sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat ibu kota.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua