KabarJakarta.com — Gelombang laut tinggi yang menerjang perairan Kepulauan Seribu pada akhir Oktober menyebabkan kerusakan pada tanggul pemecah gelombang (breakwater) di sisi timur Pulau Panggang, Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara. Sejumlah kubus beton masif yang menjadi bagian dari konstruksi tanggul bergeser, bahkan roboh akibat kuatnya hantaman ombak.
Kerusakan tersebut berpotensi mengurangi fungsi tanggul dalam melindungi kawasan pesisir. Terlebih, keberadaan infrastruktur ini menjadi salah satu benteng yang menjaga permukiman warga dari ancaman abrasi dan limpasan air laut saat pasang atau rob.
Merespons kondisi tersebut, Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Kepulauan Seribu bergerak melakukan perbaikan. Sepanjang 100 meter tanggul yang mengalami kerusakan kini telah selesai ditangani setelah pengerjaan dilakukan secara bertahap sejak 28 Oktober.
Kepala Seksi Pengamanan dan Pengembangan Pesisir Pantai Suku Dinas SDA Kepulauan Seribu, Wahyu Maulana, menjelaskan perbaikan melibatkan 7 (tujuh) personel Pasukan Biru. Pekerjaan tersebut rampung pada Kamis (5/11).
"Perbaikan sepanjang 100 meter itu kami kerjakan secara bertahap, sejak 28 Oktober. Kami mengerahkan 7 personel dan rampung kemarin," ujar Wahyu, Jumat (6/11).
Dalam prosesnya, petugas terlebih dahulu menyusun kembali kubus-kubus beton masif yang bergeser dan roboh akibat gelombang tinggi. Setelah posisinya dikembalikan, setiap kubus diperkuat menggunakan tali pengikat khusus.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga susunan kubus tetap stabil dan memperkuat konstruksi tanggul ketika kembali menghadapi hantaman gelombang laut. Dengan demikian, perbaikan tidak hanya mengembalikan bentuk tanggul seperti semula, tetapi juga memperkuat keterikatan antarbagian konstruksinya.
Wahyu menjelaskan, breakwater memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan kawasan pesisir. Bangunan pengaman pantai ini berfungsi mengurangi energi gelombang sebelum mencapai garis pantai.
Ketika energi gelombang berhasil diredam, tekanan air terhadap daratan di belakang tanggul dapat dikurangi. Kondisi tersebut membantu memperlambat pengikisan pantai atau abrasi sekaligus mengurangi risiko gelombang pasang menerjang kawasan permukiman.
Bagi warga Pulau Panggang yang tinggal di kawasan pesisir, keberadaan tanggul menjadi bagian penting dari perlindungan lingkungan tempat tinggal mereka. Kerusakan pada konstruksi tersebut berpotensi mengurangi kemampuan kawasan pantai menghadapi gelombang tinggi, terutama ketika cuaca laut sedang tidak bersahabat.
Karena itu, pemeliharaan infrastruktur pengaman pantai perlu dilakukan secara berkelanjutan. Selain memperbaiki tanggul yang rusak, Sudin SDA Kepulauan Seribu juga terus menggencarkan penanaman mangrove sebagai bagian dari upaya memperkuat perlindungan pesisir melalui pendekatan alami.
"Perbaikan itu bagian dari pemeliharaan infrastruktur pesisir. Kami juga menggencarkan penanaman mangrove, sebagai upaya memperkuat perlindungan kawasan pesisir secara alami," terang Wahyu.
Sementara itu, Lurah Pulau Panggang, Jamaluddin, mengapresiasi respons cepat personel Pasukan Biru Sudin SDA dalam menangani kerusakan tanggul. Menurutnya, penanganan tersebut penting untuk menjaga fungsi infrastruktur pelindung pantai, terutama setelah wilayah itu diterpa angin kencang dalam beberapa hari terakhir.
Ia menilai, breakwater di sisi timur Pulau Panggang merupakan salah satu infrastruktur penting untuk melindungi permukiman warga dari ancaman abrasi maupun limpasan air laut pasang.
Jamaluddin juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan kerusakan pada fasilitas pengaman pantai. Warga diminta segera melaporkan kepada pihak kelurahan atau instansi terkait, apabila menemukan bagian tanggul yang bergeser, retak, atau mengalami kerusakan lainnya.
"Respons cepat ini, memberi rasa aman bagi masyarakat pesisir, terutama di tengah kondisi angin kencang beberapa hari lalu. Kami juga mengingatkan warga agar segera melapor jika menemukan kerusakan infrastruktur pengaman pantai," tandasnya.