Langsung ke konten
News

Sebaiknya Nama JIS Diganti Jadi Stadion MH Thamrin

Redaksi Diperbarui
KabarJakarta_Default_ImageNews-250x190-1
KabarJakarta_Default_ImageNews-250x190-1

KabarJakarta.com - Sejarawan mengusulkan nama Jakarta International Stadium (JIS) diganti dengan nama Stadion MH Thamrin. Dia menggaungkan usulannya itu dengan mengajukan petisi melalui www.change.org

JJ Rizal memaparkan sejumlah argumentasi kenapa dirinya mengusulkan agar nama JIS diganti menjadi Stadion MH Thamrin. Selain menganggap penamaan JIS melanggar UU Nomor 24 Tahun 2009 karena menggunakan Bahasa Inggris, nama tersebut tidak dapat memacu semangat untuk memajukan persepakbolaan Indonesia karena tidak menggunakan nama tokoh sejarah yang inspiratif.

Sejarawan LIPI, Asvi Warman Adam melalui mengusulkan nama Suratin. Nama ini adalah pendiri Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Tapi JJ Rizal menilai ada sosok lain yang tepat, yakni MH Thamrin, karena tanpa tokoh ini organisasi PSSI sulit terwujud saat itu.

“MH Thamrin adalah pahlawan nasional sekaligus tokoh Betawi, warga asli Jakarta. Dia juga dikenal sebagai penggila sepak bola dan punya visi sepak bola modern di Indonesia sebagai reaktor kebangsaan,” kata JJ Rizal.

Dia pun menjelaskan visi sepak bola MH Thamrin, yakni tumbuh dari kampung-kampung. MH Thamrin melihat sepak bola pribumi bermutu tapi didiskriminasi. Karena itu ia selalu menggunakan posisinya di Gementeraaden (Dewan Kota) dan Volksraad (Dewan Rakyat), untuk menyuarakan isu ini.

Thamrin, lanjut JJ Rizal, meyakini sepak bola bukan sekadar olahraga rakyat, melainkan medium gerakan kebangsaan.

Riset sejarah oleh Srie Palupi, “Politik dan Sepak Bola”, membenarkan hal itu. Sepak bola yang masuk Hindia pada akhir abad ke-19 berbareng ideologi-ideologi besar yaitu Nasionalisme, Komunisme, Islamisme, Sosialisme yang diterima dan tumbuh jadi counter culture terhadap perkembangan masyarakat serta sejarah kolonial. Inilah jalan keluar yang ditawarkan MH Thamrin.

Visi sepakbola MH Thamrin terbukti, di negeri jajahan, profesionalisme itu tumbuh karena para pemain merumput dengan keyakinan mempertaruh sejarah dan kultur sepak bola sejak diterima di negerinya, yaitu sebagai counter culture kolonialisme.

“Dari sini, ia (MH Thamrin) membangun sepakbola modern Indonesia sebagai reaktor kebangsaan, sehingga Jakarta jadi ibukota sepakbola kebangsaan Indonesia. Inilah warisan MH Thamrin yang berharga dan khas, tapi terlupa,” tegas JJ Rizal.

Saat ulang tahun VIJ (Voetbalbond Indonesia Jakarta) pada Oktober 1930, MH Thamrin mengumumkan membeli lapangan di Pulo Piun, Laan Trivelli, di Cideng, dengan merogoh 2.000 Gulden untuk membuatnya layak. Hal ini dilakukan karena Gementeraad dan Volksraad tak memberikan respons memadai ketika dirinya menyampaikan kabar ikhwal kasus Suratin dan para pemain VIJ yang dipecat perusahaan Belanda karena ikut sepak bola pribumi. Juga terjadinya sabotase pertandingan perserikatan oleh VBO karena buruknya kondisi lapangan sepak bola pribumi.

Selepas dari penjara Sukamiskin, Sukarno oleh MH Thamrin pernah diajak ke lapangan VIJ. Ia melakukan kick off awal musim kompetisi PSSI antara VIJ melawan PSIM Yogyakarta 16 Mei 1932. Dengan cara itu, kata Rizal, rakyat jadi tahu, Sukarno telah kembali. Hal itu juga untuk menyiasati tuduhan Sukarno ikut berpolitik lagi.

Darma bakti dan warisan MH Thamrin yang begitu besar kepada sepakbola, kata JJ Rizal, jadi utang budi tak ternilai. Seharusnya ini cukup menggugah kesadaran buat mencicil, dan mengganti nama JIS dengan MH Thamrin Stadion Internasional Jakarta adalah awal yang baik.

“Bangunan monumental harus diimbangi nama dari amal sejarah yang monumental dan tak kering-kering mengalirkan keteladanan bagi sepakbola serta kebangsaan kita hari ini juga masa depan,” tuturnya.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua