Langsung ke konten
News

Sejarah Kebangkrutan VOC di Batavia, Gara-gara Berkolusi dengan Bengkong

Redaksi Diperbarui
KabarJakarta_Default_ImageNews-250x190-1
KabarJakarta_Default_ImageNews-250x190-1

KabarJakarta.com - Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), adalah perusahaan Hindia Belanda yang berdiri pada tahun 1602, adalah kongsi dagang terkaya yang pernah ada dalam sejarah.

Sebuah artikel di Dutch Review menyebut, kekayaan perusahaan-perusahaan besar saat ini, seperti Google, Facebook, ataupun Apple, tidak mampu menandingi kekayaan VOC.

“VOC memiliki nilai saham perusahaan sebesar 78 juta Gulden Belanda. Itu merupakan nominal yang sangat besar, serta keberhasilan bisnis yang cukup solid,” tulis artikel tersebut.

“Pada puncaknya, saham VOC bernilai setara dengan gabungan Apple, Microsof, Amazon, ExxonMobil, Berkshie Hathaway, Tencent, dan Wellls Fargo, dengan total US47,9 triliun,” tulis artikel itu lagi.

Seperti diketahui, VOC pernah sangat berkuasa di Kota Batavia (sekarang DKI Jakarta). Namun di kota ini pula akhirnya VOC mengalami kebangkrutan total dan tidak mampu bangkit lagi.

Bukan akibat kalah perang atau persaingan perdagangan, VOC bangkrut melainkan karena para pejabatnya melakukan korupsi.

Kompeni Belanda sempat mendapat kekayaan dan kemakmuran yang melimpah ruah kala menguasai perdagangan di Batavia.

Mengutip dari buku ‘Kisah-kisah Edan Seputar Djakarta Tempo Doeloe’ karya Zaenuddin HM, waktu itu ketika keluar rumah, seorang nyonya Belanda harus dikawal oleh lima orang budak belian. Budak itu ada yang khusus memayunginya, membawa tempat sirih, tempolong ludah, dan bertugas sebagai penggotong tandu.

“Budak-budak ini didatangkan dari Kepulauan Andaman, Malabar, Malaka, dan Goa dengan biaya yang sangat mahal,” tulis Zaenuddin HM.

Kalangan elit Belanda juga membangun vila-vila mewah di sekitar Ancol, Jakarta Utara, dekat Jalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk, untuk tempat bersantai di akhir pekan.

Vila-vila yang mereka punya itu memiliki puluhan, bahkan ratusan kamar, karena juga menjadi tempat menginap para budak.

Untuk ukuran masa yang cukup lama, penguasa dan orang-orang VOC di Batavia hidup dalam gelimang harta benda serta kemewahan duniawi yang tiada tara.

“Akan tetapi, untuk mencari harta dan kemewahaan itu, pejabat kompeni Belanda mulai melakukan kecurangan-kecurangan, yakni berkolusi dengan para pengusaha China yan kala itu memainkan peran penting,” tulis Zaenuddin lagi.

Di masa kekuasaan Gubernur Jenderal JP Coen, misalnya, kolusi itu dilakukan dengan seorang China bernama Souw Beng Koen alias Bengkong.

Coen dan Bengkong sering bertemu dan melakukan perdagangan dengan cara licik dan korup. Menurut Zaenuddin, uang yang seharusnya masuk ke kas pemerintah VOC, justru masuk ke kantong pribadi mereka.

Rupanya, mental Coen itu ditiru oleh para pejabat bawahannya. Korupsi kemudian dilakukan oleh banyak oknum pejabat VOC dan di hampir di seluruh sektor perniagaan. VOC menjadi sarang koruptor. Sejak itulah korupsi kian ganas dan merajalela di Batavia.

Pada 31 Mei 1799, akibat utang-utang yang menumpuk (sebesar 140 juta Gulden), VOC dinyatakan bangkrut. Oleh pemerintah Hindia Belanda, kongsi dagang itu akhirnya dibubarkan. Tamatlah riwayat VOC.

Namun, tak terdengar kabar apakah para koruptor itu dihukum gantung. Padahal, pemerintah kolonial Belanda saat itu kerap menghukum gantung kaum pribumi yang mereka anggap telah melakukan pelanggaran hukum mereka.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua