ISLAM adalah agama mayoritas penduduk DKI Jakarta. Pada zaman dulu, para ulama-ulama Betawi gigih mensiarkan ajaran agama Islam.
Diketahui bahwa para ulama Betawi memiliki peran penting dalam mengawal Kota Jakarta pada masa lalu hingga kini. Perjalanan Jakarta penuh sejarah dan selalu ada peran para ulama.
Di kawasan Tanjung Kait, Mauk, Tangerang, dekat kelenteng terdapat bangunan makam berarsitektur Tionghoa, dicat warna merah dan kuning menyala, lengkap dengan altar persembahan.
Sepintas orang akan menganggap hal itu wajar saja karena mengira itu adalah makan warga keturunan Tionghoa. Namun ternyata, menurut budayawan Betawi, Ridwan Saidi, makam itu adalah kuburan Ema Datuk, seorang ulama Muslim. Kini kuburan itu telah berubah menjadi makam atau bong Tionghoa.
Ridwan Saidi mengaku terkejut melihat perubahan drastis itu. Padahal, dia memiliki foto makam Ema Datuk yang masih seperti kuburan Islam pada umumnya, memakai cungkup dan nisan dari kayu. Di halaman luar masih terdapat atap bekas kuburan lama yang telah dibongkar.
Dulu ketiga gunung Krakatau Meletus, wilayah dekat kuburan itu satu-satunya yang bebas dari debut dan terjangan tsunami. Padahal, di desa sekitarnya seperti Desa Keramat, Kampung Melayu, habis disapu air bah. Maka banyak orang menyelamatkan diri di makam itu.
Terkait ulama penyebar Islam di Betawi Ridwan menjelaskan bahwa masyarakat Betawi mengenal nama tujuh wali penyebar Islam.
Dalam proses Islamisasi di Betawi terdapat tujuh wali Betawi, antara lain Pangeran Darmakumala dan Kumpi Datuk yang dimakamkan berdekatan, di tepi kali Ciliwung, dekat Kelapa Dua, Jakarta Timur.
Lalu ada Habib Sawangan yang dimakamkan di depan Pesantren Al Hamidiyah, Depok. Pangeran Papak dimakamkan di Jalan Perintis Kemerdekaan, Jakarta Timur, dan Ema Datuk dimakamkan di Tanjung Kait, Mauk, Tangerang. Selain itu, Datuk Ibrahim makamnya di Condet, Jakarta Timur, dan Wali Ki Aling makamnya tidak diketahui.
Mereka hidup sebelum penyerbuan Falatihan ke Sunda Kelapa. Tapi tidak terlalu banyak orang yang tahu keberadaan makam-makam wali penyebar agama Islam itu.
Makam Datuk Ibrahim yang terletak di Jalam Datuk Ibrahim, Condet, di dalam komplek musholah di gang kecil. Meski dipagar besij namun sekilar terlihat seperti taman bunga.
Selain itu tidak terdapat papan nama yang menunjukkan makam Datuk Ibrahmin, tidak terlihat makam seorang ulama besar pada zamannya.
Penyebar Islam setelah tujuh wali itu antara lain Habib Husein Alaydrus yang dimakamkan di Luar Batang, Jakarta Utara, Kong Jamirun dimakamkan di Marunda, Jakarta Utara, dan Datuk Biru dimakamkan di Rawabangke, Jatinegara, Jakarta Timur, serta Habib Alqudsi dari Kampung Bandan, Jakarta Utara. Sedangkan Datuk Tanggoro dimakamkan di Cililitan, Jakarta Timur, dan Ki Balung Tunggal di Condet.
Di Mekah, terdapat Syeikh Junaid Al-Betawi, yang berasal dari Kampung Pekojan, Jakarta Barat. Ia amat termasyur karena menjadi imam di Masjid Haram. Syeh Junaid wafat di Mekah pada 1840 dalam usia 100 tahun.
Di antara murid Syekh Junaid yanh sampai kini kitab-kitabnya masih tersebar di dunia Islam adalah Syekh Nawawi al Bantani.
Sejauh ini penyebaran Islam di Betawi masih menjadi perdebatan. Ada anggapan bahwa proses Islamisasi di Jakarta dan sekitarnya baru terjadi sejak Falatihan, panglima Kerajaan Islam Demak menaklukan Sunda Kelapa pada 22 Juni 1527.
Menurut Ridwan Saidi, proses Islamisasi di Jakarta dan sekitarnya sudah terjadi jauh lebih awal. Bahkan, lenih dari 100 tahun sebelum kedatangan bala tantara Falatihan yang mengusir orang Barat (Portugis) di Teluk Jakarta (sekitar Pasar Ikan).
Islam masuk pada tahun 1412 yang dibawa oleh Syekh Kuro, seorang ulama dari Campa (Kamboja). Pada tahun tersebut, ia telah membangun sebuah pesantren di Tanjung Puro, Karawang.
Menurut kitab ‘Sanghyang Saksakhanda’, sejak pesisir utara Pulau Jawa mulai dari Cirebon-Karawang dan Bekasi terkena pengaruh Islam yang disebarkan orang-orang Pasar, maka tidak sedikit orang-orang Melayu yang masuk Islam.
Islamisasi di tanah Betawi semakin berkembang ketika Sultan Agung melancarkan dua kali ekspedisi ke Batavia untuk menyerang VOC. Para prajurit Mataram setelah gagal mengusir Belanda, tinggal di Jakarta. Mereka banyak menjadi juru cakwah yang handal.
Mereka telah mempelopori berdirinya surau-surau di Jakarta yang kini menjadi masjid seperti Masjid Kampung Sawah, Jembatan Lima yang didirikan pada tahun 1717. Salah seorang ulama besar kampung ini adalah guru Mansyur. Ia lahir tahun 1875.