KabarJakarta.com - Taman Ismail Marzuki (TIM) dikenal sejak dulu sebagai tempat berkumpulnya para seminal menuangkan pikiran dan ekspresinya. Lokasinya di salah satu sudut Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat. Lokasinya pun tidak jauh dengan gedung-gedung bersejarah yang berada di Cikini, salah satunya Gedung Joang 45.
Di dalam komplek Taman Ismail Marzuki terdapat 6 ruang teater modern, gedung arsip, bioskop, galeri, dan balai pameran.
Selain itu terdapat pula Planetarium Jakarta yang diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1964.
Tidak hanya sekadar arena pertunjukan seni dan budaya, TIM juga memiliki catatan sejarah dan saksi bisu perkembangan seni di Indonesia. Berikut sejarah berdirinya Taman Ismail Marzuki
Sejarah Pembangunan TIM
Sebelum TIM menjadi pusat kesenian, para seniman menuangkan ekspresinya di Pasar Senen dan Balai Budaya Jakarta.
Pada tahun 1968, terjadi perbedaan ideologi politik yang mengakibatkan para seniman tidak bisa berkarya lagi di sana.
Dikutip dari laman Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin, mencari tempat pengganti bagi para seniman. Dan, terpilihlah lahan di area Cikini Raya.
Lahan itu sebelumnya adalah ruang rekreasi terbuka Taman Raden Saleh dan kebun binatang Jakarta.
Ali Sadikin merangkul dan meminta para seniman membuatkan konsep pembangunan. Para seninam dan budayawan berkumpul untuk mendiskusikan pembangunan TIM di Kantor Harian KAMI dan pondokan Salim Said yang terletak di Matraman Raya.
Kala itu, tokoh seniman dan budaya yang sering berkumpul adalah Arifin C Noer, Goenawan Mohamad, Edi Zulverdi, dan Sukardjasman.
Akhirnya, rancangan pembentukan TIM jadi dan kemudian diketik oleh Arifin C Noer. Berkas itu kemudian diserahkan ke Christianto Wibisono dan diteruskan kepada Ali Sadikin. Hingga akhirnya, Ali Sadikin menyetujui bahwa Pemprov DKI akan menyediakan sarana, dana, dan fasilitas penunjang operasional TIM. Sedangkan pengelolaan TIM diserahkan kepada seniman dan budayawan.
Ali Sadikin juga membentuk Badan Pembina Kebudayaan atau yang kini dikenal sebagai Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Lembaga itu beranggotakan 25 orang yang diketuai Trisno Soemardjo.
Sedangkan anggotanya di antaranya Arief Budiman (sastrawan), Zaini (pelukis), Binsar Sitompul (musikus), Sardono W Kusumo (penata tari), Teguh Karya (sutradara), dan Taufiq Ismail (penyair).
Anggota lainnya yaitu Pramana Padmodaryana (pemain teater), Goenawan Mohamad (sastrawan), H.B Jassin (kritikus sastra), Misbach Yusa Biran (sutradara film dan sineas), dan Ayip Rosidi (penulis).
Asrul Sani (penulis naskah drama dan sutradara film), Moh. Amir Sutaarga, Oesman Effendi, D. Djajakusuma (sutradara film), Sjuman Djaja (sutradara film) dan D.A Peransi (perupa), juga tercatat sebagai anggota Badan Pembina Kebudayaan.
Adapun dipilihnya nama Ismail Marzuki sebagai bentuk penghormatan terhadap karya-karyanya yang lebih dari 200 lagu.
Ismail Marzuki merupakan seniman asal Betawi yang telah menciptakan lagu-lagu perjuangan bangsa seperti Berkibarlah Benderaku, Nyiur Melambai, Halo Halo Bandung, dan Sepasang Mata Bola.
Ismail Marzuki telah dianugerahi gelar pahlawan nasional secara resmi diumumkan pada 10 November 2004.
Tempat Pertunjukan Seni Skala Internasional
Sejak didirikan, TIM menjadi saksi perkembangan seni di Indonesia. Pada waktu itu, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) memberikan fasilitas kepada para seniman.
Sastrawan W.S. Rendra mengatakan bahwa karya dari Sardono W. Kusomo bertajuk Samgita Pancasona (1969) lahir di TIM. Pertunjukan teater juga aktif ditampilkan oleh Teater Koma dan Teater SAE.
Tidak hanya karya dalam negeri, TIM juga sering menjadi sarana pertunjukan kelas dunia. Salah satunya koreografer ternama dunia asal Amerika Serikat Martha Graham pernah tampil di TIM pada tahun 1974.
Selain itu juga ada koregrafer asal Jerman Pina Bausch (1974), pertunjukan kelompok butoh pertama di Indonesia Byakkosha (1981).
Menjadi Area Perkuliahan
Para seniman yang awalnya hanya berkumpul dan menampilkan karyanya akhirnya menjadi pengajar pada Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ). Letak kampus berada di area belakang kompleks TIM.
Sebelum menjadi gedung perkuliahan, area ini dulunya merupakan arena pacu balap anjing. Pada 25 Juni 1976, Presiden Indonesia Soeharto meresmikan lembaga pendidikan seni yang berada di TIM.
Sistem pendidikan yang diambil menggunakan sistem sanggar atau padepokan. Tenaga pengajar pun kebayakan para seniman yang sudah sering menampilkan hasil karyanya di lingkungan TIM.
Lima tahun setelah diresmikan, lembaga pendidikan beralih nama menjadi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dengan sistem pendidikan formal sesuai dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) saat itu.
Saat ini, Pemprov DKI Jakarta telah merampung melakukan revitalisasi area kompleks TIM. Tahap revitalisasi pertama adalah pembangunan fasilitas baru di Plaza Graha Bhakti Budaya, hotel, masjid Amir Hamzah, pusat kuliner, gedung perpustakaan, dan galeri seni. Sedangkan pada tahap kedua, melakukan renovasi pada gedung planetarium, asrama seni budaya, dan gedung teater.