KabarJakarta.com -- Rentetan kecelakaan yang melibatkan bus TransJakarta membuat warga Jakarta ragu terhadap moda transportasi massal tersebut. Mereka khawatir akan keselamatan nyawanya.
Yudha, 45 tahun, salah seorang pengguna TransJakarta, mengaku resah dengan rentetan kasus kecelakaan TransJakarta yang terjadi beberapa terakhir ini, bahkan sampai merenggut jiwa penumpangnya.
Ia berpendapat, Pemprov DKI berkewajiban memastikan keselamatan pengguna kendaraan umum tersebut. Padahal, Pemprov DKI menyarankan warganya untuk menggunakan transportasi umum agar Ibu Kota tidak macet
“Bagaimana warga Jakarta mau naik transportasi umum kalau banyak kasus kecelakaan karena faktor kelalaian dan lainnya,” ucap Yudha, Minggu (5/12/2021).
Meski begitu, Yudha mengaku sampai saat ini dirinya masih menggunakan bhs TransJakarta jika berpergian daripada mobil pribadi.
“Sejujurnya saya punya mobil. Saya memilih naik bus TransJakarta karena ekonomis, juga ga capek nyari tempat parkir kalau bawa mobil sendiri," tuturnya.
Pengguna bus TransJakarta lainnya, Ari mengatakan, kenyamanan dan keamanan berkendara umum merupakan hak setiap penumpang.
Menyinggung sikap PT TransJakarta yang sudah memberikan sanksi kepada sopir atau mitra operator yang terlibat kecelakaan, baginya tidak cukup. Kembali ia katakan, sebaiknya PT TransJakarta meningkatkan aspek keselamatan penumpang.
“Penumpang kan tidak perduli yang salah sopir atau operator. Kita naik naik bus tidak mungkin bisa memilih operator atau sopir yang mana sesuai keinginan mereka. Kita tahunya TransJakarta,” bebernya.
Seperti diberitakan sebelumnya, terhitung sejak satu bulan terakhir sedikitnya lima kecelakaan dialami bus TransJakarta. Pada 25 Oktober 2021 lalu, kecelakaan melibatkan dua bus Transjakarta di Halte Cawang-Ciliwung, Jakarta Timur. Dalam peristiwa itu 2 orang tewas dan 31 lainnya luka-luka.
Hasil penyelidikan menyebutkan, bus yang ada di belakang menabrak pada kecepatan tinggi, yakni 55,4 Km per jam. Bus yang ditabrak pun terpental cukup jauh, sekitar 17 meter, dari tempat ia semula berada.
Hasil pemeriksaan dari pihak kepolisian menunjukkan bahwa sopir yang menabrak bus di Halte Cawang-Cililitan, berinisial J, diduga terserang epilepsi sesaat sebelum tabrakan terjadi.
“Hasil pemeriksaan dari pihak kedokteran kepolisian dan juga dari laboratorium forensik, memang si pengemudi bus B7747 TK ini punya bawaan penyakit, riwayat kesehatan epilepsi,” ujar Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Sambodo Purnomo Yogo.
Empat hari berselang, bus Transjakarta kembali mengalami kecelakaan. Kali ini, bus bernomor polisi B 7719 TGR menabrak separator di Jalan Iskandar Muda, Gandaria City, Jakarta Selatan.
Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, tetapi arus lalu lintas di sekitar Gandaria City sempat tertahan imbas kecelakaan.
Kecelakaan bus TransJakarta kembali terjadi, Kamis (2/12), sebuah bus Transjakarta menabrak Pos Polisi di persimpangan PGC. Dalam peristiwa ini satu orang petugas sterilisasi busway harus dilarikan ke RS Kramatjati karena mengalami luka serius akibat kecelakaan tersebut.
Esok harinya, Jumat (3/12), sebuah bus TransJakarta mengalami kecelakaan menabrak separator di depan Ratu Plaza Senayan.