PEREMPUAN penggemar sepak bola di Iran bisa bersuka cita. Pasalnya, untuk pertama kalinya dalam 40 tahun terakhir mereka dapat kembali menonton liga sepak bola di stadion. Demikian dikatakan juru bicara Kementerian Olahraga Iran seperti dikutip dari kantor berita ISNA.
Ini adalah pertama kalinya kaum perempuan di Iran boleh menonton sepak bola secara langsung di stadion sejal Revolusi Islam tahun 1979. Media lokal menyebut ini adalah langkah ‘bersejarah’.
Teheran secara umum melarang perempuan untuk menonton pertandingan sepak bola. Namun, pada Kamis (25/8), fans sepak bolah perempuan diizinkan masuk ke stadion untuk menonton pertandingan antara klub Teheran Esteghal dan Mes Kerman.
Sekitar 30 persen dari Stadion Asadi Teheran, atau sekitar 28.000 tiket, telah dialokasikan khusus perempuan yang menonton pertandingan tersebut.
Jika dinilai berjalan dengan baik dan positif, para suporter perempuan juga dapat diizinkan menonton di stadion-stadion Iran lainnya.
Harga Tiket Suporter Perempuan Mahal
Situs berita di Iran, Asriran, mengatakan bahwa empat jam sebelum pertandingan, tiket untuk suporter perempuan terjuan dengan harga sekitar US$70 atau sekitar Rp1 juta di pasar gelap. Sementara harga resmi dijual di kisaran US$2 atau sekita Rp30.000.
“Ini adalah peristiwa bersejarah,” lapor Hamshahri, surat kabar harian Kotamadya Teheran. “Untuk pertama kalinya, suporter perempuan Esteghlal datang ke Stadion Azadi (Teheran) untuk mendukung tim mereka melawan Mes Kerman”.
Sebenarnya, diperbolehkannya perempuan menonton sepak bola di dalam stadion bukan pertama kali. Pada Januari 2022 lalu, suporter perempuan diizinkan untuk menyaksikan pertandingan internasional kualifikasi Piala Dunia melawan Irak. Namun, bulan Maret 2022, pihak berwenang Iran kembali melarang perempuan menonton sepak bola di stadion.
Tekanan dari FIFA
Tekanan terhadap Iran untuk bertindak terhadap persoalan ini telah meningkat sejak kematian penggemar perempuan bernama Sahar Khodayari pada 2019. Khodayari, yang dikenal sebagai ‘gadis biru’ diambil dari warna klub favoritnya, Esteghlal, membakar diri karena khawatir akan dijebloskan ke penjara setelah mencoba menerobos ke dalam stadion untuk menyaksikan pertandingan dengan menyamar sebagai laki-laki.
Kematian Khodayari itu memicu protes dari banyak kalangan dan menyerukan badan sepak bola dunia, FIFA, melarang Iran berlaga di kompetisi internasional, seperti Piala Dunia.
Awal Agustus 2022, Menteri Olahraga Iran, Hamid Sajadi mengatakan FIFA telah mengirim surat ke Teheran yang mengusulkan agar diperbolehkannya partisipasi perempuan, karena melarang suporter perempuan termasuk pelanggaran Undang-undang Sepak Bolah Internasional yang melarang diskriminasi.
Menanggapi itu, Sajadi mengatakan pihaknya tidak mempermasalahkan kehadiran perempuan di dalam stadion. Tetapi, Ahmad Alamolhoda, imam yang berperan penting dalam pengambilan keputusan di Republik Islam tersebut berpendapat bahwa perempuan harus dilindungi dari suasana maskulin pertandingan sepak bola. Dengan Alamolhoda menentang kehadiran perempuan sebagai penonton dalam kompetisi olahraga laki-laki, dan menyebutkan sebagai hal yang vulgar.