Langsung ke konten
News

Tak Lagi Bingung Cari Penumpang, Terminal Kampung Rambutan Sediakan Shelter Ojol

Redaksi
Pengelola Terminal Bus Kampung Rambutan, Ciracas, Jakarta Timur, menyediakan fasilitas basecamp dan shelter bagi pengemudi ojek dan taksi daring untuk memudahkan pengemudi dan penumpang bertemu. Foto: beritajakarta
Pengelola Terminal Bus Kampung Rambutan, Ciracas, Jakarta Timur, menyediakan fasilitas basecamp dan shelter bagi pengemudi ojek dan taksi daring untuk memudahkan pengemudi dan penumpang bertemu. Foto: beritajakarta

KabarJakarta.com — Menentukan titik penjemputan kerap menjadi tantangan bagi pengemudi ojek dan taksi daring di terminal bus. Penumpang yang baru tiba, belum mengenal lokasi, hingga sulitnya menentukan tempat bertemu bisa membuat proses penjemputan memakan waktu lebih lama.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pengelola Terminal Bus Kampung Rambutan, Ciracas, Jakarta Timur. Untuk memudahkan pengemudi dan penumpang bertemu, pengelola terminal menyediakan fasilitas basecamp dan shelter khusus bagi pengemudi ojek online (ojol) dan taksi daring.

Fasilitas ini menjadi titik berkumpul bagi pengemudi untuk beristirahat, menunggu pesanan, maupun menjemput penumpang. Dengan adanya lokasi yang jelas, pengemudi tidak perlu lagi menunggu secara terpencar di sekitar jalan dan penumpang memiliki tempat yang lebih mudah dikenali untuk menunggu kendaraan pesanannya.

Kepala Terminal Bus Kampung Rambutan, Revi Zulkarnain, menjelaskan penyediaan fasilitas tersebut merupakan upaya untuk menata aktivitas transportasi daring sekaligus meningkatkan kenyamanan pengguna jasa terminal.

"Kita fasilitasi mereka dengan menyiapkan basecamp dan shelter bagi Ojol dan taksi online," ujar Revi, Jumat (23/10).

Tempat menunggu yang lebih nyaman

Di kawasan Terminal Kampung Rambutan, basecamp pengemudi transportasi daring ditempatkan di samping Pos Polisi. Tempat ini dilengkapi empat tenda, meja, kursi, alat pengisi daya telepon seluler, serta kipas angin.

Keberadaan fasilitas tersebut memberi ruang bagi pengemudi untuk menunggu pesanan tanpa harus terus berada di tepi jalan. Mereka juga dapat beristirahat sejenak sambil memastikan telepon seluler tetap bisa digunakan untuk menerima pesanan dan berkomunikasi dengan penumpang.

Sementara itu, shelter disediakan di area jalur pemberangkatan bus antarkota antarprovinsi (AKAP). Lokasi ini menjadi titik berkumpul pengemudi ojol dan taksi daring yang sedang menunggu pesanan atau menjemput penumpang.

Secara keseluruhan, terdapat 14 tenda hijau berukuran 3 x 3 meter di kawasan terminal. Tenda-tenda tersebut merupakan bantuan dari Grab dan Gojek, termasuk fasilitas pengisian daya telepon seluler dan bangku.

Revi mengatakan, pengelola terminal berencana menambah jumlah tenda agar titik layanan antarjemput penumpang transportasi daring semakin luas.

"Kami berencana untuk menambah jumlah tenda, memperluas titik layanan antarjemput penumpang transportasi daring," katanya.

Penumpang lebih mudah menemukan kendaraan

Manfaat fasilitas ini dirasakan langsung oleh Sutiyoso (54), pengemudi taksi daring yang biasa melayani penumpang di Terminal Kampung Rambutan.

Menurut dia, keberadaan shelter mempermudah pengemudi dan penumpang menyepakati lokasi pertemuan. Penumpang yang baru turun dari bus dapat langsung menuju titik yang telah ditentukan tanpa harus mencari kendaraan pesanannya ke berbagai sudut terminal.

"Kadang juga ada calon penumpang yang meminta bantuan cara ordernya, karena mereka tak mengerti," ucap Sutiyoso.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa fungsi shelter tidak sebatas menyediakan tempat menunggu. Fasilitas tersebut juga dapat membantu penumpang yang belum terbiasa menggunakan aplikasi transportasi daring, terutama mereka yang membutuhkan petunjuk untuk memesan kendaraan.

Sebelum tersedia titik penjemputan yang lebih terarah, Sutiyoso mengaku kerap mengalami kesulitan ketika harus berkomunikasi dengan calon penumpang untuk menentukan lokasi pertemuan.

Kini, keberadaan shelter memberikan acuan lokasi yang lebih jelas. Pengemudi dapat mengarahkan penumpang ke tempat yang sama sehingga proses penjemputan diharapkan berlangsung lebih mudah dan efisien.

Membantu pendatang dari luar kota

Kemudahan serupa dirasakan Ahmad Said Harahap (55), pengguna jasa taksi daring yang datang bersama keluarganya. Sebagai penumpang dari luar daerah, ia menilai kejelasan titik penjemputan penting agar tidak tersesat ketika tiba di terminal.

"Tenda shelter ini sangat membantu, apalagi kami datang jauh dari Medan. Jadi kami tidak tersesat karena titik jemputnya jelas," terang Ahmad.

Bagi penumpang yang baru tiba dari perjalanan antarkota, kepastian lokasi bertemu dapat mengurangi kebingungan saat mencari kendaraan lanjutan. Mereka tidak perlu berulang kali menghubungi pengemudi hanya untuk memastikan posisi masing-masing.

Sementara bagi pengemudi, titik penjemputan yang terpusat membantu mengurangi ketidakpastian ketika mencari penumpang di kawasan terminal yang memiliki aktivitas kendaraan cukup tinggi.

Sebelum fasilitas ini tersedia, pengemudi kerap kesulitan menentukan lokasi pertemuan dengan penumpang. Namun, kondisi tersebut belum dapat digambarkan secara menyeluruh tanpa data atau keterangan tambahan mengenai situasi terminal sebelumnya.

Dengan penyediaan basecamp dan shelter, Terminal Kampung Rambutan berupaya menghadirkan layanan transportasi lanjutan yang lebih tertata. Ke depan, penambahan fasilitas dan kejelasan petunjuk lokasi diharapkan semakin memudahkan penumpang maupun pengemudi, sehingga perjalanan dari terminal menuju tujuan berikutnya dapat berlangsung lebih nyaman.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua