Langsung ke konten
News

Tanah Abang Semerawut Lagi, Nasdem Salahkan Manajemen Pengelolanya

Redaksi Diperbarui
KabarJakarta_Default_ImageNews-250x190-1
KabarJakarta_Default_ImageNews-250x190-1

KabarJakarta.com -- Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto menyebut kawasan Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat seperti tarian Poco-poco, maju mundur karena macet. Padahal, di era Gubernur DKI Jakarta sebelumnya, pusat grosir terbesar di Asia Tenggara itu bebas macet.

Menanggapi itu, Wakil Ketua Fraksi Nasdem DPRD DKI DKI Nova Harivan berpendapat kondisi Tanah Abang saat ini tergantung dari manajemennya.

“Memang secara kelanjutan sudah dibenahi di periode sebelumnya. Dilakukan Pak Jokowi, Pak Ahok (Basuki Tjahaja Purnama). Tapi, masalah keteraturan balik lagi ke menajemennya,” kata Wakil Ketua Fraksi Nasdem DPRD DKI Nova Harivan, Minggu (9/1/2022).

Nova menegaskan, masalah yang ada di Pasar Tanah Abang saat ini bukan berarti sepenuhnya tanggung jawab salah Pemprov DKI Jakarta. Dia menyebut Pemprov DKI hanya sebagai pendukung.

“Tanah Abang ini kan sudah ada yang handle, enggak bisa juga kita menyalahkan Pemprov DKI secara terus menerus. Itu balik lagi ke manajemen. Harus kita akui keberhasilan Pak Jokowi dan Pak Ahok yang lebih dulu memimpin Jakarta. Tapi sekali lagi, bagaimana manajemen itu mengawasi,” tukasnya.

“Pemprov ini hanya mendukung. Masalah kebersihan dan pengamanan kembali lagi merupakan tanggung jawab manajemen,” tambah Nova.

Sebelumnya, Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto mengutip perkataan mantan Gubernur DKI Jakarta yang juga merupakan kader PDI-P, Djarot Saiful Hidayat yang menyebut Tanah Abang ibarat tarian Poco-poco yang bergerak maju mundur.

“Pak Djarot melihat ini kok rasanya seperti tarian Poco-poco, maju mundur. Tanah Abang dulu sudah beres dan tidak macet, begitu ganti pemimpin, Pasar Tanah Abang jadi macet, Tanah Abang jadi berubah,” ucap Hasto di Banjir Kanal Timur (BKT), Jakarta Timur, Minggu (9/1).

Tak hanya Pasar Tanah Abang, dia juga menyoroti soal kondisi waduk yang dikelola dengan baik saat Djarot menjadi Gubernur DKI Jakarta. Menurutnya, sekarang ini kondisi waduk-waduk tersebut sudah tidak seperti dulu.

Ia pun mengklaim menerima aduan dari seorang camat yang mengatakan bahwa sejumlah sodetan tidak berfungsi untuk mencegah banjir.

Hasto pun berpendapat, terjadi kemunduran jika seorang pemimpin yang menggantikan pemimpin sebelumnya tidak memahami hakikat kepemimpinan untuk rakyat.

“Dulu waduk-waduk dikelola dengan sangat baik, contohnya aspirasi dari camat untuk sodetan saja sudah berapa lama tidak jalan, padahal itu penting dalam menjaga upaya mencegah banjir,” katanya.

“Jadi pergantian pemimpin kalau tidak memahami hakikat kepemimpinan untuk rakyat, maka yang terjadi adalah kemunduran,” tukas Hasto.

Hasto mencontohkan, sebelum menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, Djarot sudah ditugaskan terlebih dahulu merumuskan skala pembangunan Jakarta. Dan, ketika menjabat, sudah tahu bagaimana merancang agar kehidupan di Jakarta bisa menjadi bagian kebanggaan karena kebahagiaan warga, lingkungan yang indah dan asri, serta kebudayaannya.

“Pak Djarot punya pengalaman me-manage Jakarta sehingga tahu akar persoalan Jakarta seperti apa,” pungkasnya.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua