Langsung ke konten
News

Tanggul Kali Angke Hampir Rampung, Permata Buana Masih Berisiko Banjir

Redaksi
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat dijumpai usai meninjau Kali Angke Segmen Permata Buana, Kembangan, Jakarta Barat, Selasa (3/11/2026). Foto: ANTARA
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat dijumpai usai meninjau Kali Angke Segmen Permata Buana, Kembangan, Jakarta Barat, Selasa (3/11/2026). Foto: ANTARA

KabarJakarta.com — Pembangunan tanggul Kali Angke di kawasan Permata Buana, Kembangan Utara, Jakarta Barat, hampir rampung. Namun, penyelesaian infrastruktur tersebut belum sepenuhnya menghilangkan ancaman banjir yang selama ini menghantui kawasan tersebut.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjelaskan, Permata Buana masih berpotensi mengalami banjir karena kondisi tanahnya lebih rendah dibandingkan wilayah sekitar. Faktor topografi tersebut membuat kawasan ini menjadi salah satu titik yang sejak lama rentan terhadap genangan.

"Terang-terangan saja, potensi banjir di tempat ini masih cukup ada. Tetapi yang jelas, volume dan debitnya pasti berkurang banyak," kata Pramono seusai meninjau pembangunan tanggul Kali Angke Segmen Permata Buana, Kembangan Utara, Jakarta Barat, Selasa (3/11).

Menurut Pramono, pembangunan tanggul diharapkan dapat mengurangi volume dan debit air yang berpotensi menyebabkan banjir. Meski demikian, keberadaan tanggul belum menjamin kawasan tersebut terbebas sepenuhnya dari genangan.

Pembangunan tanggul capai 90 persen

Saat ini, progres pembangunan prasarana dan sarana pengendalian banjir Kali Angke Segmen Permata Buana telah mencapai 90 persen.

Proyek tersebut memiliki total panjang penanganan 2,057 kilometer yang terbagi dalam empat segmen. Segmen pertama sepanjang 661 meter, segmen kedua 597 meter, segmen ketiga 683 meter, dan segmen keempat 116 meter.

Meski pembangunan hampir selesai, Pemprov DKI menilai penanganan banjir di kawasan tersebut masih membutuhkan infrastruktur pendukung. Salah satunya berupa embung untuk meningkatkan kapasitas penampungan air.

Pramono pun menyetujui rencana pembangunan embung baru di Jakarta Barat. Menurut dia, kebutuhan embung di wilayah tersebut masih belum mencukupi untuk mendukung pengendalian banjir.

“Sebab jika mengandalkan infrastruktur yang ada saja, saya yakin pasti tidak akan cukup," ujar Pramono.

Penambahan embung diharapkan dapat membantu menampung kelebihan air sehingga beban sistem pengendalian banjir dapat dikurangi ketika hujan deras.

Rawa Buaya dan Cengkareng masuk prioritas

Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta Ika Agustin menjelaskan, Rawa Buaya dan Cengkareng merupakan dua kawasan dengan kondisi topografi paling rendah di Jakarta Barat. Kedua wilayah tersebut masuk dalam rencana penanganan banjir Pemprov DKI Jakarta melalui pembangunan infrastruktur pendukung.

Untuk kawasan Cengkareng, pemerintah merencanakan pembangunan Polder Apuran. Sebagai bagian dari persiapan, Pemerintah Kota Jakarta Barat juga telah melakukan penertiban di lokasi tersebut.

Sementara itu, penanganan banjir di Rawa Buaya akan dilakukan bersamaan dengan penyelesaian pembangunan Kali Angke. Pekerjaan ini direncanakan melalui proyek multiyears mulai 2027 hingga akhir 2028.

“Rawa Buaya dan nanti sekaligus penyelesaian Kali Angke ini, kami laksanakan multiyears dari 2027 sampai dengan akhir 2028," terang Ika.

Ia menambahkan, pengerjaan penanganan banjir di kawasan tersebut akan dilakukan secara bertahap hingga 2029.

Dengan demikian, penyelesaian tanggul Kali Angke menjadi salah satu tahap dalam rangkaian penanganan banjir Jakarta Barat. Pembangunan embung, Polder Apuran, serta penanganan Rawa Buaya juga disiapkan untuk memperkuat sistem pengendalian air di kawasan yang memiliki topografi rendah.

Meski tanggul Permata Buana hampir selesai, ancaman banjir belum sepenuhnya hilang. Pemerintah masih harus menuntaskan sejumlah infrastruktur pendukung agar pengendalian banjir di Jakarta Barat dapat berjalan lebih optimal.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua