KabarJakarta.com - Kualitas udara di Jakarta tercatat sebagai salah satu yang terburuk di dunia pada sepekan terakhir kemarin. Salah satu penyebabnya diyakini adalah polusi kendaraan pribadi.
“Kualitas udara Jakarta terburuk di dunia ini adalah dampak dari polusi yang disumbang sebagian besar oleh mobil pribadi dan sepeda motor,” kata anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi PDIP Gilbert Simanjuntak, Sabtu (18/6/2022).
Dia menuturkan, penggunaan bus listrik tidak terlalu berpengaruh mengurangi polusi udara di Jakarta. Sebab, kontribusi pelayanan kendaraan publik kepada masyarakat tidak banyak.
“Pemilihan bus listrik tidaklah berarti mengurangi polusi, karena kontribusi kendaraan publik massal tidaklah banyak,” tuturnya.
Selain itu, ia juga menyinggung kebijakan Ganjil Genap yang diberlakukan. Dia menilai hal ini hanya mengurangi kemacetan, tapi tidak menghilangkan polusi udara.
“Data sementara menunjukkan jumlah kendaraan tidak berkurang secara bermakna dengan kebijakan Ganjil Genap di 26 ruas jalan. Justru malah menambah biaya masyarakat yang menanggung akibat kebijakan Ganjil Genap. Memang kemacetan sedikit menurun, tetapi nyatanya polusi tetap terburuk di dunia,” ungkap Gilbert.
Gilbert berpendapat, yang diperlukan saat ini adalah membatasi kendaraan pribadi, serta memperbaiki transportasi publik agar masyarakat mau menggunakannya.
“Kebijakan membatasi kendaraan pribadi harus jadi target, dengan transportasi publik yang baik agar masyarakat mau pindah dengan rela menggunakan transportasi umum. Sebagai contoh, Beijing (China) sebagai kita paling berpolusi di dunia puluhan tahun lalu, sekarang banyak berkurang dengan dibatasinya kendaraan dan transportasi publik yang baik. Langitnya terlihat cerah dan bersih,” ucapnya memberitahu.
Kualitas udara Jakarta terburuk
Sebelumnya tercatat, kualitas udara di Jakarta menjadi yang terburuk ketiga di dunia pada Sabtu (18/6). Hal itu berdasarkan data kualitas udara (Air Quality Index/AQI) dari situs IQAir.
Berdasarkan situs IQAir, data ranking kualitas udara itu terkumpul pada pukul 11.58 WIB, Sabtu (18/6).
“Konsentrasi PM2.5 di udara Jakarta saat ini 16,8 kali di atas nilai panduan kualitas udara tahunan WHO,” tulisnya di situs IQAir.
Data kualitas udara ini dikumpulkan IQAir dari 16 kontributor, mulai stasiun pemerintah, yakni Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), BMKG, dan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS).
Selain itu, ada juga data yang dikumpulkan dari stasiun organisasi nirlaba, seperti Greenpeace hingga perusahaan.
Pada Rabu (15/6) kemarin, Jakarta menjadi wilayah dengan kualitas udara terburuk di dunia. Pada hari itu, konsentrasi PM 2.5 mencapai 26,2 kali dari batas pedoman kualitas udara WHO.
Kualitas udara DKI Jakarta berada di 188 US AQI per 10.30 WIB dengan PM 2.5 sebesar 128 µg/m³ dan dan PM 10 sebesar 22 µg/m³. Masyarakat pun direkomendasikan untuk mengenakan masker di luar ruangan.