KabarJakarta.com - Warga di sekitar Tebet Eco Park terganggu dengan kehadiran parkir liar dan Pedagang Kaki Lima (PKL). Menyikapi itu, Pemprov DKI menutup sementara ruang terbuka hijau (RTH) tersebut.
Seorang karyawan yang bekerja di kafe sekitar Tebet Eco Park, Tari (26), berpendapat di satu sisi menyayangkan taman tersebut ditutup sementara. Imbasnya, pengunjung yang datang ke kafenya berkurang.
“Sebenarnya sedih ya, kalau banyak yang datang ke Tebet Eco Park imbasnya tempat saya jadi banyak pelanggan yang datang juga,” kata Tari, Minggu (19/6) kemarin.
Namun, di sisi lain, dirinya senang dengan penutupan sementara Tebet Eco Park maka arus lalu lintas di sekitarnya menjadi lancar. Dia mengaku pernah telat masuk kerja gara-gara akses jalan yang terhalang karena banyaknya parkir liar.
Yusuf (36), salah seorang warga sekitar menyatakan senang dengan penutupan sementara Tebet Eco Park. Sebab, pada akhir pekan sering terjadi kemacetan luar biasa.
“Bagi saya, yang terpenting di sini kan ada warga lokalnya, yang sering lewat jalur ini. Jadi terganggu,” ujarnya.
Bahkan, kata Yusuf, jarak tempuh dari rumahnya menuju pasar yang sebelumnya bisa dijangkau hanya 5 menit, pada akhir pekan weekend bisa menjadi 30 menit lamanya. Kondisi ini juga terkadang terjadi di hari kerja.
“Harusnya dari rumah ke pasar cuma 5 menit, sekarang bisa jadi 20-30 menit. Itu terjadi di setiap pagi atau sore hari, lebih parah lagi di akhir pekan,” terang Yusuf.
Selain parkir liar, lanjut Yusuf, kemacetan juga dipicu dengan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berjualan di sembarang tempat, bahkan menggunakan setengah jalan.
Dia menyambut baik pemberlakuan zona emisi rendah. Sebab, dengan diberlakukannya hal tersebut, tidak sembarang orang bisa melintas dan berjualan di sekitar Tebet Eco Park.
“Harusnya kita bisa lari pagi atau sore, kemarin dengan jumlah pengunjung yang banyak, kita enggak bisa olahraga,” keluhnya.
Ke depannya, Yusuf berharap Pemprov DKI segera membenahi permasalahan yang ada di Tebet Eco Park. Seperti ketersediaan lahan parkir hingga penertiban PKL. “Kalau perlu dibuat peraturan hari-hari apa saja masyarakat bisa berkunjung ke Tebet Eco Park,” sarannya.
“Harus di-manage dengan baik traffic-nya. Buka tutupnya harus jelas. Misalnya dalam satu minggu dibuka untuk umum, mobil bisa masuk, parkir dan PKL hanya tiga kali dalam seminggu. Jumat, Sabtu, Minggu deh,” kata Yusuf menambahkan.