Langsung ke konten
News

Waspada! Kapan Saja Bisa Terjadi Gempa Maha Dahsyat di Selat Sunda, Ini Penjelasannya

Redaksi Diperbarui
KabarJakarta_Default_ImageNews-250x190-1
KabarJakarta_Default_ImageNews-250x190-1

KabarJakarta.com -- Pasca terjadinya gempa Selat Sunda yang berpusat di Banten dengan Magnitudo 6,6 mengguncang Jakarta dan sekitarnya, Jumat (14/1/2022) kemarin, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperingati potensi gempa besar dari patahan megathrust di Selat Sunda. Diprediksi, gempa itu bisa berkekuatan Magnitudo 8,7.

Koordinator Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan, gempa Ujung Kulon (Banten) kemarin sebenarnya bukan ancaman sesungguhnya karena segmen megathrust Selat Sunda mampu memicu gempa dengan Magnitudo tertarget mencapai 8,7, dan ini bisa terjadi kapan saja.

Dijelaskannya, meski ilmu pengetahuan belum mampu memprediksi secara presisi gempa itu terjadi, tapi potensi itu sudah ada.

“Indonesia harus siap dengan hal itu, karena patahan megathrust melintang di selatan Pulau Jawa, termasuk dari pantai barat Sumatera hingga ke Nusa Tenggara Timur,” kata Daryono melalui siaran persnya, Sabtu (16/1/2022).

“Maka, waspadalah denga gempa dari megathrust Selat Sunda, tanpa panik berlebihan tentunya. Namun, kenapa kita harus waspada mulai sekarang? Bukankah dari dulu gempa berpusat di sekitar Selat Sunda sudah terjadi? Ada sebab kenapa kita harus waspada sekarang, yakni karena gempa besar sudah lama tidak terjadi di sekitar Selat Sunda ini,” tambah Daryono menjelaskan.

Menurut Daryono, ini merupakan ancaman yang sesungguhnya, kapan saja dapat terjadi karena Selat Sunda merupakan salah satu zona seismic gap di Indonesia yang selama ratusan tahun belum terjadi gempa besar, sehingga patut diwaspadai karena berada di antara dua lokasi gempa besar yang merusak dan memicu tsunami, yaitu gempa Pangandaran Magnitudo 7,7 di tahun 2006 dan gempa Bengkulu Magnitudo 8,5 di tahun 2007.

Lanjutnya, Selat Sunda memang sering menjadi lokasi gempa dan tsunami. Ia menyebutkan, tsunami Selat Sunda akibat gempa pernah terjadi pada tahun 1722, 1852, dan 1958.

Sementara itu, peristiwa tsunami yang berkaitan dengan erupsi Gunung Krakatau terjadi pada tahun 416, 1883, 1928, dan 2018.

“Sedangkan tsunami pada tahun 1851, 1883, dan 1889 dipicu aktivitas longsoran,” papar Daryono.

Siapkan Mitigasi Konkret

Kata Daryono lagi, gempa kuat dan tsunami adalah proses alam yang tidak dapat dihentikan, bahkan memprediksikan kapan terjadinya pun belum bisa. Namun, dalam ketidakpastian kapan terjadinya, manusia masih dapat menyiapkan upaya mitigasi konkret.

Mitigasi konkret antara lain membangun bangunan tahan gempa, memodelkan bahaya gempa dan tsunami, kemudian menjadikan model ini sebagai acuan mitigasi, seperti perencanaan wilayah berbasis risiko gempa dan tsunami.

Mitigasi yang diperlukan juga dan penting berupa penyiapan jalur evakuasi, memang rambu evakuasi, membangun evakuasi, berlatih evakuasi/driil secara berkala, termasuk edukasi evakuasi mandiri.

“Selain itu, BMKG juga akan terus meningkatkan perfoma peringatan dini tsunami lebih cepat dan akurat,” tuturnya.

Daryono mengungkapkan, gempa yang terjadi kemarin berkekuatan Magnitudo 6,6 merupakan gempa di area megathrust dan termasuk gempa dangkal akibat patahan, batuan lempeng Indo-Australia yang menunjam di bawah Selat Sunda-Banten.

Itu adalah gempa ‘interslab earthquake’. Ciri-cirinya mampu meradiasikan guncangan (ground motion) yang lebih besar dan kuat dari gempa sekelasnya dari sumber lain.

“Sehingga wajar jika gempa ini memiliki spektrum guncangan yang lebih luas, dirasakan hingga Sumatera Selatan hingga Jawa Barat,” terang Daryono.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua