Langsung ke konten
News

WHO: Varian Omicron Bukan Penyakit Ringan

Redaksi Diperbarui
KabarJakarta_Default_ImageNews-250x190-1
KabarJakarta_Default_ImageNews-250x190-1

KabarJakarta.com -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan seluruh masyarakat di dunia untuk tidak menganggap remeh varian B.1.1.529 alias Omicron. WHO menyebutkan, varian ini diketahui tidak menyebabkan penyakit parah, tetapi lebih cepat menularnya dibandingkan dengan varian sebelumnya.

Namun begitu, WHO menegaskan, infeksi Covid-19 akibat varian Omicron tidak boleh dikategorikan penyakit ringan.

“Meskipun Omicron tampaknya tidak terlalu parah dibandingkan dengan Delta, terutama pada mereka yang divaksinasi, tapi tidak berarti dikategorikan penyakit ringan,” ujar Direktur Jenderal WHO, Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers di Jenewa.

Adhanom menyebut, sma seperti varian sebelumnya, Omicron membuat orang yang terpapar harus dirawat di rumah sakit dan bisa membuat orang yang terpapar meninggal dunia.

Melansir Reuters, Jumat (7/1/2022), Tedros memperingati potensi terjadinya lonjakan kasus Covid-10 akibat infeksi global karena varian Omicron dan Delta. Hal ini akan menyebabkan sistem perawatan kesehatan kewalahan.

Sementara itu, pimpinan WHO untuk manajemen klinis, Janet Diaz memaparkan, bahwa studi awal menunjukkan risiko rawat inap akibat varian Omicron lebih rendah dibandingkan dengan varian Delta.

Varian Omicron yang pertama kali teridentifikasi di Afrika Selatan dan Hong Kong pada November 2021 lalu ini tampaknya tidak menyebabkan keparahan penyakit pada kelompok usia muda dan dewasa.

Pernyataan terkait penurunan risiko penyakit parah dibarengi dengan data lain, termasuk riset dari Afrika Selatan dan Inggris. Akan tetapi, laporan yang ada sejauh ini tidak memberikan rincian lengkap tentang studi maupun usia pasien yang dianalisis.

Dampak varian Omicron pada orang tua merupakan salah satu pertanyaan besar yang belum terjawab, karena sebagian besar kasus yang dipelajari meneliti kelompok usia yang lebih muda.

Di samping itu, Tedros mengulangi seruannya untuk kesetaraan global terkait distribusi dan akses ke vaksin Covid-19.

“Berdasarkan tingkat peluncuran vaksin saat ini, 109 negara tidak dapat mencapai target WHO untuk 70 persen populasi dunia untuk divaksinasi penuh pada Juli 2021 lalu,” kata Tedros.

Target ini, dinilai dapat mengakhiri pendemi Covid-19 yang telah berjalan selama dua tahun. “Vaksin booster di sejumlah kecil negara tidak akan mengakhiri pandemic, sementara miliaran orang sama sekali tidak terlindungi oleh vaksin,” ujarnya.

Penasihat WHO Bruce Aylward mengatakan, sebanyak 36 negara bahkan belum mencapai 10 persen cakupan vaksinasi Covid-19. Sebanyak 80 persen pasien yang mengalami penyakit parah di seluruh dunia belum divaksinasi.

Dalam laporan epidemiologi mingguannya, WHO mengatakan kasus Covid-19 meningkat 71 persen atau 9,5 juta kasus dalam sepekan. Sementara kasus kematian akibat infeksi virus corona turun 10 persen, atau sekitar 41.000 kasus.

Di sisi lain, pemimpin teknis WHO untuk Covid-19, Maria van Kerkhove menyinggung munculnya varian terbaru B.1.640 atau varian IHU yang diidentifikasi di Perancis.

Dia mengatakan, varian ini pertama kali tercatat di sejumlah negara pada September 2021 lalu, termasuk di antara varian yang dipantau oleh WHO, namun belum menyebar secara luas.

Untuk diketahui, ada dua kategori lain yang digunakan WHO untuk melacak varian yaitu variant of concern yang mencakup Delta dan Omicron, serta variant of interest.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua