Langsung ke konten
Pemerintahan

Benyamin Sueb Award Didorong jadi Pemacu Inovasi dan Kinerja Lurah di Jakarta

Redaksi
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung meminta 10 finalis Benyamin Sueb Award (BSA) 2026 mengikuti program pembelajaran ke luar negeri untuk memperluas wawasan dan meningkatkan kapasitas kepemimpinan. Foto: Pemprov DKI
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung meminta 10 finalis Benyamin Sueb Award (BSA) 2026 mengikuti program pembelajaran ke luar negeri untuk memperluas wawasan dan meningkatkan kapasitas kepemimpinan. Foto: Pemprov DKI

KabarJakarta.com — Benyamin Sueb Award (BSA) diharapkan tidak sekadar menjadi ajang penghargaan bagi kelurahan berprestasi di Jakarta. Kompetisi ini perlu dikembangkan menjadi pemacu bagi aparatur pemerintahan di tingkat kelurahan untuk meningkatkan kinerja, memperbaiki kualitas pelayanan publik, serta menghadirkan inovasi yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Harapan tersebut disampaikan Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Basri Baco. Menurutnya, penyelenggaraan BSA perlu dipertahankan sekaligus dikembangkan agar semakin banyak kelurahan terdorong menunjukkan kemampuan terbaik dalam mengelola wilayahnya.

"Ini kegiatan yang patut kita pertahankan, jaga, serta kembangkan," ujar Baco di Jakarta, Sabtu (31/10).

Ia menilai, kompetisi semacam itu akan menjadi motivasi bagi para lurah dan jajaran aparatur kelurahan untuk tidak berhenti melakukan pembenahan. Sebab, kelurahan merupakan ujung tombak pemerintahan yang berhadapan langsung dengan berbagai kebutuhan dan persoalan masyarakat.

Mulai dari persoalan kebersihan lingkungan, keamanan, penataan kawasan, hingga pemberdayaan ekonomi warga, kualitas pengelolaan di tingkat kelurahan turut menentukan wajah Jakarta secara keseluruhan.

Karena itu, Baco mengusulkan agar kategori penghargaan dalam BSA diperluas. Salah satu kategori yang menurutnya perlu dipertimbangkan adalah bidang keamanan, sehingga penilaian tidak hanya mencakup aspek yang sudah ada, tetapi mendorong kelurahan untuk mengembangkan inovasi sesuai karakteristik dan kebutuhan wilayah masing-masing.

"Kategorinya sebaiknya ditambah sedikit. Mungkin ada kategori keamanan, atau kategori lainnya. Sehingga materi atau bahan kompetisinya akan lebih baik," tuturnya.

Usulan tersebut, kata Baco, perlu dibicarakan bersama Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dan jajaran terkait. Dengan kategori yang lebih beragam, setiap kelurahan diharapkan memiliki kesempatan lebih luas untuk menampilkan keunggulan dan prestasinya.

Penambahan kategori juga berpotensi membuat kompetisi lebih inklusif. Kelurahan dengan karakteristik permukiman padat, kawasan perkotaan, maupun wilayah kepulauan memiliki tantangan berbeda. Karena itu, ruang penilaian yang lebih beragam dapat mendorong munculnya pendekatan penyelesaian masalah yang sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah.

Dorongan tersebut sejalan dengan agenda transformasi Jakarta menuju kota global. Status dan daya saing sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur atau pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan pemerintah memberikan pelayanan yang responsif, efektif, dan inovatif kepada warganya.

Dalam konteks itu, lurah dituntut tidak hanya menjalankan administrasi pemerintahan, tetapi juga mampu menggerakkan partisipasi masyarakat dan membangun kolaborasi untuk menyelesaikan persoalan di wilayahnya.

Belajar dari pengelolaan kota di luar negeri

Upaya meningkatkan kapasitas aparatur kelurahan juga menjadi perhatian Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Saat menyerahkan penghargaan BSA 2026 di Grand Ballroom Hotel Pullman, Jakarta Pusat, Jumat (30/10), Pramono meminta 10 lurah finalis mengikuti program pembelajaran ke luar negeri.

Sejumlah negara yang menjadi pertimbangan antara lain China, Jepang, serta kota-kota lain di kawasan Asia.

Program tersebut diharapkan memberikan pengalaman dan wawasan baru bagi para lurah, terutama mengenai praktik pengelolaan perkotaan, kepemimpinan, penataan lingkungan, serta inovasi pelayanan publik.

Pengalaman dari negara lain nantinya diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan atau perjalanan pembelajaran semata. Para lurah perlu membawa pulang gagasan dan praktik yang relevan untuk diterapkan sesuai kebutuhan wilayah masing-masing.

Pramono juga meminta Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) DKI Jakarta menyosialisasikan berbagai inovasi yang telah dikembangkan para finalis BSA. Dengan demikian, keberhasilan satu kelurahan dapat menjadi referensi bagi wilayah lain.

"Kenapa itu harus dilakukan? Supaya menggairahkan. Semuanya bisa ikut lomba Benyamin Sueb Award ini," paparnya.

Pramono menargetkan seluruh kelurahan di Jakarta berpartisipasi dalam penyelenggaraan BSA berikutnya. Target tersebut didukung oleh peningkatan jumlah peserta dari 27 kelurahan pada 2025 menjadi 52 kelurahan pada 2026.

Menurutnya, semakin luas partisipasi kelurahan akan semakin besar pula peluang terjadinya pertukaran gagasan dan percepatan perbaikan lingkungan.

Penilaian berbasis inovasi dan kebutuhan masyarakat

BSA 2026memperlihatkan bagaimana kompetisi antarkelurahan dapat digunakan untuk mengukur berbagai aspek pembangunan di tingkat lokal.

Sebanyak 52 kelurahan mengikuti proses seleksi awal dari total 267 kelurahan di DKI Jakarta. Setelah melalui penjurian, 10 kelurahan terpilih melaju ke tahap final pada 15 Oktober 2026.

Asisten Pemerintahan Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta, Sigit Wijatmoko, mengungkapkan penyelenggaraan BSA tahun kedua menunjukkan peningkatan partisipasi. Menurutnya, ajang tersebut semakin dinantikan para lurah untuk memperlihatkan keunggulan wilayah masing-masing.

"Kelurahan tidak hanya basis terdepan dari penyelenggaraan pemerintahan. Pak Gubernur dan Wagub menyampaikan, yang utama bagaimana pemerintah kota sampai kelurahan bisa menggerakkan semua potensi yang ada di masyarakat," terang Sigit.

Penilaian BSA mencakup empat kategori, yakni Bersih, Nyaman, Indah, dan Sejahtera. Kategori Bersih menitikberatkan pada inovasi pengelolaan sampah, sanitasi, serta kampanye kesadaran lingkungan.

Kategori Nyaman mencakup keamanan, keteraturan wilayah, respons pelayanan publik, dan penyediaan ruang ramah warga. Sementara itu, kategori Indah menilai penataan ruang publik dan estetika lingkungan.

Adapun kategori Sejahtera mencakup pemberdayaan UMKM, layanan sosial, inklusi sosial, serta partisipasi masyarakat.

Penjurian final melibatkan 4 (empat) orang yang memiliki latar belakang keahlian berbeda, yakni Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Pembangunan dan Tata Kota Nirwono Joga, Ketua Umum Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Lingkungan Indonesia Endra S. Atmawidjaja, Dewan Pembina Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) Wicaksono Sarosa, serta pengamat tata kota Yayat Supriyatna.

Komposisi juri tersebut menghadirkan perspektif dari bidang pembangunan, lingkungan, kesehatan, dan tata kota. Sigit menilai hasil penjaringan 10 finalis menunjukkan objektivitas proses penilaian yang dilakukan.

"Harapannya, perwujudan dari pencapaian Jakarta Kota Global dengan mendorong lurah sebagai urban estate manager, bisa diakselerasi lebih cepat dari target," tandasnya.

Salah satu gambaran inovasi yang mendapat pengakuan terlihat dari Kelurahan Utan Kayu Selatan, Jakarta Timur, yang meraih penghargaan kategori Nyaman. Kelurahan tersebut dinilai berhasil mengembangkan kolaborasi warga dalam menjaga lingkungan. Seluruh 14 RW di wilayahnya telah menyandang predikat Program Kampung Iklim (ProKlim).

Selain itu, terdapat sejumlah inovasi pendukung, seperti portal RW, taman vertikal, pemasangan CCTV, penataan jalan menggunakan batu alam, hingga pemanfaatan teknologi Internet of Things (IoT).

Lurah Utan Kayu Selatan, Ria Handayani, menjelaskan pencapaian tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen masyarakat, bukan semata-mata keberhasilan aparatur kelurahan.

"Ke depan, kami ingin Utan Kayu Selatan lebih maju, menjadikan lingkungan perkampungan sebagai kampung hijau. Kami juga ingin meningkatkan kesejahteraan warga lewat Festival Utan Kayu Selatan yang digelar setiap tahunnya," paparnya.

Selain Utan Kayu Selatan, penghargaan BSA 2026 diberikan kepada Kelurahan Kelapa Gading Timur sebagai pemenang kategori Indah dan Kelurahan Sukabumi Utara sebagai pemenang kategori Sejahtera.

Berbagai capaian tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan kelurahan tidak cukup diukur dari penataan fisik wilayah. Keterlibatan masyarakat, kemampuan berinovasi, serta kualitas pelayanan juga menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan perkotaan.

Ke depan, pengembangan BSA melalui penambahan kategori, peningkatan kapasitas lurah, danpenyebarluasan praktik baik diharapkan dapat memperluas dampak kompetisi. Dengan demikian, penghargaan ini tidak berhenti pada penyerahan trofi setiap tahun, melainkan menjadi dorongan berkelanjutan bagi seluruh kelurahan untuk memperbaiki pelayanan dan menghadirkan perubahan nyata bagi warga Jakarta.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua