Langsung ke konten
Pemerintahan

Jakarta-Tokyo: Membuka Peluang Kolaborasi Budaya dan Transportasi Berkelanjutan

Redaksi Diperbarui
Pemprov DKI Jakarta menjajaki peluang kerja sama dengan Pemerintah Tokyo di bidang kebudayaan dan transportasi. Foto: Pemprov DKI Jakarta.
Pemprov DKI Jakarta menjajaki peluang kerja sama dengan Pemerintah Tokyo di bidang kebudayaan dan transportasi. Foto: Pemprov DKI Jakarta.

KabarJakarta.com —  Jakarta memiliki dua pekerjaan besar dalam membangun kota yang nyaman bagi warganya. Di satu sisi, ibu kota perlu menjaga warisan budaya sekaligus memberi ruang bagi tumbuhnya kreativitas masyarakat. 

Di sisi lain, kota ini membutuhkan sistem transportasi yang semakin terintegrasi, ramah lingkungan, dan mampu menjangkau wilayah kepulauan. Pengalaman Tokyo, Jepang, dapat menjadi salah satu referensi untuk menjawab kedua tantangan tersebut.

Peluang itu mengemuka dalam pertemuan Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno dengan Wakil Gubernur Tokyo Tomohide Sato di Tokyo Metropolitan Government, Selasa (27/10). Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak menjajaki kerja sama di bidang kebudayaan dan transportasi sebagai bagian dari upaya memperkuat kemitraan yang telah terjalin selama lebih dari tiga dekade.

Bagi Jakarta, kerja sama ini bukan sekadar pertukaran pengalaman. Hal yang lebih penting adalah mempelajari praktik yang dapat diterapkan sesuai kebutuhan kota, mulai dari pengelolaan kawasan bersejarah hingga pengembangan transportasi rendah emisi.

Memperkuat ekosistem kreatif Jakarta

Salah satu peluang kerja sama terletak pada pengembangan komunitas kreatif. Jakarta memiliki beragam pelaku seni dan budaya, tetapi keberlanjutan kegiatan mereka membutuhkan dukungan yang tidak berhenti pada penyelenggaraan festival atau pemberian penghargaan.

Pengalaman Tokyo, termasuk melalui Arts Council Tokyo, menjadi referensi bagi Jakarta untuk mempelajari pola dukungan terhadap seniman dan komunitas kreatif. Aspek yang dapat dipertukarkan mencakup mekanisme pendanaan, penyediaan ruang berkarya, serta pengembangan program kebudayaan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Dukungan tersebut penting agar komunitas kreatif memiliki kesempatan untuk menghasilkan karya secara berkelanjutan. Ruang kreatif yang mudah diakses, misalnya, dapat menjadi tempat bertemunya seniman, warga, dan pelaku usaha. 

Sementara itu, pendanaan yang transparan dan berorientasi pada kualitas karya dapat membuka kesempatan bagi lebih banyak pelaku budaya untuk berkembang.

Jakarta juga perlu memastikan bahwa program kebudayaan tidak hanya terkonsentrasi di pusat kota. Kegiatan seni yang melibatkan masyarakat di berbagai wilayah dapat memperluas akses warga terhadap kebudayaan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha lokal.

Rano menjelaskan, Jakarta ingin bertukar pengalaman dengan Tokyo dalam mengelola kawasan bersejarah, termasuk Asakusa dan Kagurazaka.

"Kami ingin bertukar pengalaman terkait pengelolaan kawasan bersejarah, seperti Asakusa dan Kagurazaka. Khususnya yang melibatkan masyarakat dan pelaku usaha," kata Rano dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (27/10).

Pengalaman tersebut relevan bagi Jakarta yang memiliki kawasan bersejarah dengan karakter dan potensi berbeda. Pelestarian kawasan tidak cukup dilakukan dengan menjaga bangunan lama. 

Pemerintah juga perlu memastikan kawasan tersebut tetap hidup melalui aktivitas masyarakat, kegiatan ekonomi, dan program budaya yang menarik.

Film sebagai identitas kota

Pengembangan komunitas kreatif berkaitan erat dengan ambisi Jakarta memperkuat posisinya sebagai Kota Sinema. Dalam hal ini, Tokyo dapat menjadi mitra untuk bertukar pengalaman mengenai pengembangan industri perfilman, penyediaan fasilitas produksi, serta dukungan bagi para sineas.

Kerja sama dapat diarahkan pada pertukaran pengetahuan tentang ekosistem produksi film, pengembangan talenta, dan pemanfaatan fasilitas perfilman. Jakarta juga dapat mempelajari bagaimana pemerintah kota mendukung kegiatan sinema tanpa membatasi ruang kreativitas para pembuat film.

Manfaatnya tidak hanya dirasakan industri perfilman. Film dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan sejarah, kehidupan masyarakat, kuliner, dan destinasi wisata Jakarta kepada penonton yang lebih luas.

Melalui cerita yang kuat, sebuah kota dapat membangun identitas sekaligus menarik minat wisatawan. Namun, upaya tersebut membutuhkan dukungan yang konsisten, mulai dari kemudahan produksi hingga kesempatan bagi karya lokal untuk menjangkau penonton.

Karena itu, pertukaran pengalaman dengan Tokyo perlu diarahkan pada langkah konkret yang membantu sineas berkarya dan memperkuat hubungan antara industri film, kebudayaan, serta pariwisata.

Museum lebih dekat dengan generasi muda

Peluang lain terbuka melalui kerja sama antarpengelola museum. Jakarta mengusulkan pertukaran pengetahuan mengenai pengelolaan koleksi, pengembangan pameran, pemanfaatan teknologi digital, dan penyelenggaraan program yang mampu menarik minat pengunjung, terutama anak-anak dan generasi muda.

Museum memiliki peran penting dalam menjaga ingatan kolektif dan memperkenalkan sejarah kepada masyarakat. Tantangannya adalah membuat koleksi dan informasi sejarah tetap relevan bagi pengunjung yang terbiasa dengan teknologi digital dan pengalaman interaktif.

Melalui pertukaran pengetahuan, pengelola museum Jakarta dapat mempelajari pendekatan penyajian koleksi, pengembangan materi edukasi, dan pemanfaatan teknologi untuk memperluas akses pengunjung. Sebaliknya, karakter sejarah dan budaya Jakarta juga dapat menjadi bahan pertukaran pengetahuan yang memperkaya hubungan kedua kota.

Keberhasilan kerja sama ini nantinya tidak cukup diukur dari jumlah kunjungan atau pameran yang digelar. Peningkatan kualitas layanan, aksesibilitas, serta kemampuan museum menjangkau kelompok masyarakat yang lebih luas juga perlu diperhatikan.

Membuka akses ke Kepulauan Seribu

Di luar kebudayaan, transportasi menjadi bidang penting yang dapat dikembangkan melalui kemitraan Jakarta dan Tokyo. Salah satu kebutuhan Jakarta adalah meningkatkan konektivitas perairan menuju Kepulauan Seribu.

Transportasi laut bukan sekadar sarana perjalanan wisata. Bagi masyarakat kepulauan, layanan yang aman, terjangkau, dan terjadwal berkaitan langsung dengan akses terhadap kebutuhan pokok, pendidikan, layanan kesehatan, serta distribusi barang.

Rano mengungkapkan, Jakarta ingin mempelajari pengalaman Tokyo dalam mengelola transportasi perairan, termasuk kerja sama dengan operator, pembiayaan layanan, dan integrasi antarmoda.

"Kami ingin belajar dari pengalaman Tokyo terkait pengelolaan transportasi perairan yang aman, terjangkau, dan andal. Termasuk kerja sama dengan operator, pembiayaan layanan, hingga integrasi antarmoda," ujarnya.

Pengalaman tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki layanan menuju Kepulauan Seribu. Jakarta perlu mengkaji bagaimana jadwal pelayaran disesuaikan dengan kebutuhan warga, bagaimana tarif tetap terjangkau, serta bagaimana koneksi kapal dengan moda transportasi lain dapat mempersingkat perjalanan.

Aspek keselamatan dan keandalan layanan juga tidak boleh diabaikan. Pengembangan transportasi perairan harus mempertimbangkan kondisi cuaca, kesiapan armada, fasilitas pelabuhan, dan kemampuan pemerintah menjaga layanan tetap berjalan.

Jika dirancang dengan baik, konektivitas yang lebih kuat dapat membantu memperlancar distribusi barang sekaligus mendukung pariwisata tanpa mengesampingkan kebutuhan penduduk setempat.

Mengurangi emisi transportasi publik

Jakarta juga tertarik mempelajari pengalaman Tokyo dalam mengembangkan transportasi publik yang lebih ramah lingkungan, khususnya melalui penggunaan bus hidrogen dan bus listrik.

Peralihan menuju kendaraan rendah emisi menjadi penting karena transportasi perkotaan berkaitan dengan kualitas udara, konsumsi energi, dan kenyamanan masyarakat. Namun, mengganti armada konvensional tidak cukup hanya dengan membeli kendaraan baru.

Jakarta perlu mempelajari biaya operasional, ketersediaan pasokan energi, pembangunan infrastruktur pengisian atau pengisian bahan bakar hidrogen, serta kebutuhan pemeliharaan kendaraan. Keandalan layanan juga harus menjadi pertimbangan agar perubahan teknologi tidak mengganggu operasional angkutan umum.

Bus listrik dan bus hidrogen memiliki karakteristik berbeda. Bus listrik menggunakan energi yang disimpan dalam baterai, sedangkan bus hidrogen umumnya menghasilkan listrik melalui sel bahan bakar. 

Keduanya dapat mengurangi emisi di lokasi kendaraan beroperasi, tetapi manfaat lingkungan secara keseluruhan tetap bergantung pada sumber energi dan proses produksinya.

Karena itu, Jakarta perlu menilai teknologi berdasarkan kebutuhan rute, kapasitas layanan, biaya sepanjang umur kendaraan, serta kesiapan infrastruktur. Pengalaman Tokyo dapat menjadi referensi, tetapi penerapannya harus disesuaikan dengan kondisi operasional dan kemampuan pembiayaan di Jakarta.

Dari pertukaran pengalaman ke hasil nyata

Rangkaian peluang kerja sama tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan dan transportasi memiliki tujuan yang saling berkaitan: membangun kota yang lebih mudah diakses, produktif, dan nyaman bagi warganya. Namun, kemitraan Jakarta-Tokyo akan memberikan manfaat nyata apabila pertukaran pengalaman diterjemahkan menjadi program yang terukur. 

Di bidang kebudayaan, hasilnya dapat dilihat dari meningkatnya akses pendanaan bagi komunitas kreatif, bertambahnya ruang berkarya, serta berkembangnya museum dan industri perfilman. Di bidang transportasi, keberhasilan dapat dinilai melalui keandalan layanan, keterjangkauan tarif, peningkatan konektivitas kepulauan, dan pengurangan emisi.

Kemitraan yang telah berlangsung lebih dari 3 (tiga) dekade memberikan landasan untuk memperluas kolaborasi. Tantangan berikutnya adalah menentukan program prioritas, menyiapkan pendanaan, dan menyepakati indikator keberhasilan yang dapat dievaluasi bersama.

Dengan pendekatan itu, hubungan Jakarta dan Tokyo tidak berhenti pada pertukaran gagasan. Kerja sama dapat menjadi sarana untuk memperkuat kehidupan budaya, memperbaiki layanan publik, dan mendorong pembangunan kota yang lebih berkelanjutan.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua