KabarJakarta.com — Sebanyak 214 sekolah di Jakarta masuk dalam kajian untuk mendapatkan revitalisasi karena mengalami kerusakan bangunan. Namun, upaya memperbaiki infrastruktur pendidikan tersebut menghadapi tantangan anggaran.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang semula merencanakan revitalisasi 22 sekolah pada 2026, kini hanya menargetkan tujuh sekolah akibat penyesuaian anggaran.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengungkapkan, sebanyak ratusan sekolah telah masuk dalam pendataan dan kajian dari tim revitalisasi. Penanganannya perlu segera dilakukan, terutama terhadap bangunan yang kondisinya sudah tidak memadai untuk menunjang kegiatan belajar mengajar.
"Yang sudah, sedang, dan dikaji tim revitalisasi, mungkin 200 lebih yang pernah saya dengar. Hampir 214. Nah itu, yang harus segera kita lakukan revitalisasi," kata Rano saat meninjau hasil revitalisasi sekolah di Jakarta Selatan, Jumat (16/10).
Angka tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan pembenahan sarana pendidikan di Ibu Kota. Di sisi lain, target revitalisasi yang menyusut dari 22 menjadi 7 (tujuh) sekolah memperlihatkan bahwa penanganan kerusakan bangunan harus disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah.
Dengan demikian, persoalan yang dihadapi Pemprov DKI bukan semata-mata menentukan sekolah mana yang perlu diperbaiki, melainkan juga mengatur prioritas agar bangunan yang paling membutuhkan penanganan dapat segera ditangani.
Anggaran menyusut, penanganan sekolah sibatasi
Rano menjelaskan, rencana revitalisasi sekolah pada tahun 2026 mengalami perubahan akibat efisiensi anggaran. Dari target awal sebanyak 22 sekolah, pemerintah daerah akhirnya memutuskan penanganan terhadap tujuh sekolah saja.
Selain tujuh sekolah tersebut, terdapat 1 (satu) lokasi tambahan di Kebayoran Lama yang telah mengalami kerusakan berat dengan kondisi bangunan hampir roboh. Itu sebabnya, terdapat delapan lokasi yang masuk dalam penanganan pada tahun ini.
"Sebetulnya, kan, direncanakan tahun ini ada 22. Tapi ada efisiensi, sehingga rencana cuma 7," ujar Rano.
Penyesuaian tersebut mengakibatkan sejumlah sekolah harus antre menunggu giliran perbaikan. Pemerintah daerah akhirnya mempertimbangkan kondisi bangunan, sekaligus ketersediaan anggaran dalam menentukan proyek yang dapat dikerjakan lebih dahulu.
Meski demikian, belum seluruh sekolah yang masuk kajian dipastikan akan direvitalisasi pada tahun berjalan. Angka 214 sekolah merupakan jumlah yang disebut Rano berdasarkan data yang pernah diterimanya, sedangkan penetapan prioritas berikutnya masih bergantung pada hasil pemeriksaan tim.
Kondisi itu membuat proses penilaian menjadi penting. Kerusakan sekolah tidak selalu memiliki tingkat keparahan yang sama. Sebagian bangunan mungkin membutuhkan rehabilitasi, sementara bangunan lain memerlukan penanganan lebih menyeluruh.
Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Nahdiana mengungkapkan, penentuan sekolah yang menjadi prioritas berikutnya akan dilakukan berdasarkan penilaian tim, termasuk pemeriksaan konstruksi bangunan.
"Nanti tim yang akan membuat kriteria (konstruksi) itu. Makanya kami dibantu tim, supaya nanti melihat sekolah itu berdasarkan memang keadaan yang sesungguhnya," terang Nahdiana di Jakarta, Jumat (16/10).
Penilaian tersebut diperlukan agar keputusan perbaikan sesuai dengan kondisi nyata di lapangan. Dengan anggaran yang terbatas, ketepatan menentukan prioritas menjadi salah satu faktor penting dalam pelaksanaan program revitalisasi.
Bangunan puluhan tahun mulai diperbarui
Gambaran kebutuhan pembenahan infrastruktur pendidikan terlihat dari kunjungan Rano ke SDN Lebak Bulus 04, SMPN 299 Jakarta, dan SDN Cilandak Barat 08 pada Jumat (16/10). Ketiga sekolah tersebut merupakan bagian dari proyek pembangunan dan rehabilitasi yang dibiayai melalui anggaran tahun jamak 2025.
Dua di antaranya, yakni SDN Lebak Bulus 04 dan SDN Cilandak Barat 08, telah berdiri selama puluhan tahun sebelum menjalani pembaruan.
SDN Lebak Bulus 04 telah berdiri sejak 1973, sedangkan SDN Cilandak Barat 08 berdiri pada tahun 1976. Usia bangunan yang telah melampaui setengah abad menjadi salah satu alasan perlunya pembaruan untuk menjaga kelayakan fasilitas pendidikan.
"Rehabilitasi ini jadi bagian dari upaya perbaikan kualitas dan pemerataan infrastruktur pendidikan di Jakarta," ujar Rano.
Sementara itu, SMPN 299 Jakarta dibangun untuk menjawab kebutuhan akses pendidikan tingkat sekolah menengah pertama negeri di wilayah Jakarta Selatan.
Pembangunan gedung SDN Lebak Bulus 04 dan SMPN 299 Jakarta dikerjakan dengan nilai kontrak Rp70,49 miliar. Proyek tersebut mencakup luas lahan 4.160 meter persegi dengan luas bangunan 9.724 meter persegi.
Adapun rehabilitasi SDN Cilandak Barat 08 menelan biaya Rp31,42 miliar. Gedung tersebut memiliki luas bangunan 4.529 meter persegi.
Ketiga sekolah itu dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, mulai dari akses bagi penyandang disabilitas, lift, peralatan proteksi kebakaran, sarana olahraga, hingga ruang terbuka hijau. Gedung juga didesain dengan memperhatikan kualitas sirkulasi udara dan pencahayaan alami, serta dilengkapi fasilitas panel surya.
Pembaruan tersebut diharapkan dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman, nyaman, dan inklusif bagi siswa maupun tenaga pendidik.
Keselamatan jadi perhatian
Meski gedung sekolah telah diperbarui, Rano mengingatkan bahwa peningkatan fasilitas harus diikuti kesiapan menghadapi keadaan darurat. Bangunan sekolah bertingkat membutuhkan prosedur keselamatan yang dipahami seluruh warga sekolah.
Karena itu, ia meminta Dinas Pendidikan DKI Jakarta rutin menggelar pelatihan mitigasi bencana, termasuk simulasi menghadapi gempa bumi.
"Kalau dulu kan, sekolah di Jakarta ini, enggak lebih dari 2 lantai. Sekarang hampir 5 bahkan 6 lantai. Saya juga perintahkan Bu Kadis agar sering berlatih mengantisipasi bencana, walaupun kita tidak berharap. Tapi lebih bagus sedia payung sebelum hujan," ucap Rano.
Permintaan menegaskan bahwa revitalisasi tidak cukup berhenti pada pembangunan fisik. Sekolah juga membutuhkan prosedur evakuasi, pemahaman jalur penyelamatan, serta latihan berkala agar siswa dan guru mengetahui tindakan yang harus dilakukan ketika bencana terjadi.
Di tengah keterbatasan anggaran, pemerintah daerah dituntut untuk memastikan fasilitas yang sudah dibangun dapat digunakan dalam jangka panjang. Perawatan rutin menjadi penting agar kerusakan tidak kembali muncul dalam waktu singkat dan mengharuskan pemerintah mengeluarkan biaya tambahan.
Proyek lain masih berjalan
Di luar tiga sekolah yang telah ditinjau, pembangunan SDN Cipete Utara 01 di Jakarta Selatan masih dalam tahap penyelesaian. Dinas Pendidikan DKI Jakarta menargetkan proyek tersebut rampung paling lambat 15 November 2026.
Nahdiana menjelaskan, sebagian proyek sekolah lainnya ditargetkan selesai pada Oktober, sedangkan pembangunan SDN Cipete Utara 01 dijadwalkan berlanjut hingga November. Sebelumnya, proyek tersebut ditargetkan untuk selesai pada September 2026.
Pembangunan gedung membuat kegiatan belajar mengajar sementara dipindahkan ke SD BaPem, sehingga siswa harus menyesuaikan diri dengan ketersediaan ruang dan jadwal di lokasi penampungan.
Warga setempat, Iin Solihin (48), sebelumnya menyebut pembangunan sekolah itu semula ditargetkan berlangsung selama 6 bulan. Namun, pekerjaan belum selesai sesuai jadwal awal sehingga siswa masih harus belajar di sekolah lain.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan dan rehabilitasi sekolah juga berkaitan langsung dengan keberlangsungan kegiatan belajar mengajar. Ketika proyek berlangsung lebih lama, siswa dan guru harus menyesuaikan aktivitas pendidikan dengan kondisi sementara.
Saat 214 sekolah masuk dalam kajian revitalisasi, itu menunjukkan pekerjaan Pemprov DKI Jakarta masih panjang. Penyusutan target tahunan menjadi tujuh sekolah akibat efisiensi anggaran menempatkan penentuan prioritas sebagai tantangan utama.
Pemerintah perlu memastikan sekolah dengan kerusakan paling mendesak memperoleh penanganan terlebih dahulu, sembari menjaga agar proyek yang sudah berjalan selesai sesuai jadwal. Pada saat yang sama, hasil revitalisasi harus disertai pemeliharaan dan kesiapsiagaan bencana agar investasi pendidikan benar-benar memberikan manfaat jangka panjang bagi siswa di Jakarta.