Merial Institute: Bonus Demografi Tak Cukup Sekedar Inovasi, Pemuda Perlu Kolaborasi Ideologis

Bonus demografi

Merial Institute: Bonus Demografi Tak Cukup Sekedar Inovasi, Pemuda Perlu Kolaborasi Ideologis
Merial Institute beraudiensi dengan Kepala Badan Kependudukan dan Keluaga Berencana (BKKBN) Nasional Hasto Wardoyo d

Jakarta - Merial Institute beraudiensi dengan Kepala Badan Kependudukan dan Keluaga Berencana (BKKBN) Nasional Hasto Wardoyo di Halim Perdanakusuma Jakarta Timur, membahas tentang perkembangan wacana Indonesia dalam menyambut bonus demografi dan peran strategis pemuda dalam upaya pencapaiannya.

Direktur Eksekutif Merial Institute Arief Rosyid Hasan menjelaskan upaya Merial Institute dalam merespon isu Bonus Demografi.

"Setelah berinteraksi dengan berbagai anak muda dari berbagai daerah di 350 Kabupaten/Kota se-Indonesia, kami menemukan bahwa masalah pemuda adalah kesenjangan antar pemuda baik dalam hal ekonomi, kultur, pendidikan, akses informasi dan sebagainya, mengurangi kesenjangan inilah yang akan menjadi fokus kerja Merial Institute. Salah satu core activity Merial Institute adalah dalam pemberdayaan pemuda, mulai dari pemuda urban, rural, mahasiswa, pelajar, dari pemuda berbasis rumah ibadah sampai pemberdayaan pemuda di lembaga permasyarakatan, kami telah melakukan berbagai inisiatif kolaborasi sebagai upaya akselerasi dalam mengurangi gap itu, potensi pemuda sebesar ini harus dikelola dengan baik dan serius,” ungkap Arief.

Bonus Demografi adalah isu yang masih hangat dan relevan untuk terus diperdalam serta menjadi fokus Negara jika bertujuan menjadi negara maju. Data yang disajikan oleh United Nations for Development Program (UNDP) menunjukan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia masih rendah. 2016 penduduk yang bekerja  sebagian besar adalah yang berpendidikan rendah atau SMP ke bawah. Hal ini menjadi ironi tersendiri antara ekspektasi dan realita. 

Rendahnya kualitas sumber daya manusia ini merupakan implikasi dari senjangnya output dan outcome pendidikan di Indonesia, sehingga berimplikasi pada perlambatan peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) secara gradual sejak 2015. Direktur Riset Merial Institute Muhammad Fadli Hanafi mengungkapkan bahwa fenomena perlambatan peningkatan IPM di tengah mulainya Indonesia masuk pada "aging population" seharunya dapat menjadi pendorong yang lebih kuat lagi bagi kita semua untuk terus meningkatkan kapasitas dan kualitas anak muda, khususnya dalam rangka mengoptimalkan bonus demografi.   

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo memberi tanggapan tentang Peran Pemuda untuk menjawab tantangan Bonus Demografi yang terpenting ialah revolusi cara berpikir yang berbasis kepada ideologi, “ Mindset itu penting, kalau kita mau akselerasi itu (bonus demografi) yang paling cepat adalah merubah mindset. Itu paling murah (namun strategis dan mendasar). Kalau mau revolusi itu, harus change your mindset. Inovasi itu nggak ada seperseratusnya revolusi,” tuturnya.
Kemudian ia menanggapi tentang kesenjangan pemuda “kalau saya lihat kesenjangan itu memang yang paling kelihatan pendidikan. Di daerah, pendidikan ketika hari ini angka partisipasi sekolah itu 8,2%. Ada yang S3, di sisi lain yang belum lulus SD juga banyak. Gerakan yang paling cepat: upskilling itu penting. Kita kembali ke sekolah untuk mendongkrak adanya kesenjangan pendidikan. Misalnya sekolah penyetaraan, mungkin dengan penyetaraan ini Human Development Index kita akan meningkat, sehingga kita fokus kepada bidang apa yang mau diintervensi.” imbuhnya.

Menjelang akhir pembicaraan Kepala BKKBN memberikan penegasan bahwa gerakan anak muda, juga perlu ditekankan kepada kolaborasi ideologis yang holistik, tidak hanya kolaborasi pemuda yang teknoratis, sehingga ada sifat revolusioner di dalamnya. Karena menurut jika kolaborasi berbasis ideologi dan berbalut teknologi akan menjadi suatu gerakan yang akan mencapai kepada tujuan yang dimaksud yaitu Bonus Demografi menjadi pondasi kemajuan bangsa dan Negara.

Dengan terjalinnya sinergisitas antara BKKBN dengan Merial Institute diharapkan dapat mempercepat proses persiapan dalam rangka menyambut bonus demografi, menjadi program yang kongkrit dan tepat sasaran serta melibatkan pemuda sebagai stakeholder utama agar bonus demografi tidak berubah menjadi malapetaka demografi.

Penulis : Redaksi

Editor : Redaksi

AJI