Eksistensi Pendidikan Ala Pesantren

Eksistensi Pendidikan Ala Pesantren
Eksistensi Pendidikan Ala Pesantren

Opini - Pesantren adalah lembaga pendidikan tertua khas negara kita. Eksistensinya tidak diragukan telah teruji oleh sejarah dan berlangsung hingga era kini.

Bahkan bukanlah hal yang berlebihan bila dikatakan bahwa pesantren telah menjadi satu entitas budaya indonesia dan telah diakui dan diterima kehadiranya. Pertanyaan yang muncul adalah faktor apa yang menarik sehingga pesantren begitu eksis?

Untuk menjawab pertanyaan singkat diatas, tampaknya tidaklah begitu mudah. Karena untuk melacak dan menemukan jawabanya diperlukan observasi yang serius dan mendalam.

Salah satu keunikan pesantren yang penting untuk dicatat adalah sosoknya yang kompleks dan multidimensi, dan tidak salah jika pesantren merupakan sumber inspirasi yang tidak pernah kering sepanjang zaman.

Untuk mempertahankan eksistensinya, setidaknya pesantren harus mampu mempertahankan pola-pola yang selama ini dikembangkan dengan tidak mengabaikan begitu saja kekinian yang semakin mengglobal (al-muhafadzatu a’la qodimi as-shalih wal ahdu bil-jadidi al-aslah).

Setidaknya ada dua aspek yang perlu dipertahankan yaitu: pertama, terkait dengan stuktur, metode, dan bahkan literatur yang bersifat tradisional. Dengan ciri utamanya yaitu stressing pengajaran yang lebih kepada pemahaman tekstual (harfiyah).

Kedua, terkait dengan pemeliharaan sub-kultural (tata nilai) yang berdiri di atas pondasi ukhrawi yang terimplementasikan dalam bentuk ketundukan dan ketaatan kepada para ulama’, para  ustadz dengan mengutamakan ibadah, hanya demi untuk memperoleh tujuan hakiki dan mencapai keluhuran jiwa.

Membincangkan berbagai hal yang terkait dengan pendidikan dewasa ini memang seakan tak ada habisnya. Hingga kini pendidikan kita  masih menjadi sorotan publik, pendidikan yang diharapkan mampu menopang ketidakberdayaan masyarakat agar tegak, tumbuh dan berkembang menjadi masyarakat terdepan dan sejahtera.

Ternyata pendidikan kita masih berkutat pada permasalahan-permasalahan internal yang menyeliputi. Jangankan untuk mengangkat masyarakat, mengangkat dirinya sendiri  masih susah payah.

Begitu banyak problem didalamnya, mulai dari mutu pendidikan, kesejahteraan pendidik, kualitas pembelajaran, biaya yang tak memadai, hingga mutu lulusan yang mana lebih menekankan pada aspek-aspek kognitif saja.

Cobalah kita mengintip sejenak prilaku masyarakat sekitar kita, begitu banyak prilaku yang tidak lagi menghargai norma susila, norma agama (mereka lebih menuhankan HAM), tawuran antar pelajar, subsidi jawaban ketika UN, termasuk banyaknya orang-orang berpendidikan mendekam di balik jeruji penjara baik karena kasus KKN dan kasus-kasus lainnya.

Hal tersebut lebih menegaskan agar pendidikan di negeri ini perlu mengembangkan dan menggalakkan nilai-nilai yang dapat menjadi pedoman hidup masyarakat kita.

Pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan, memegang peran yang sangat penting dalam mengembangkan nilai-nilai tersebut. dengan konsep pendidikannya yang on time “24 jam” pesantren  dapat membekali pribadi-pribadi anak didiknya (santri) dengan sikap-sikap rajin, jujur, kreatif, inovatif, bertanggung jawab,bekerja keras serta nilai-nilai terpuji lainnya.

Sehingga akhirnya dapat menelorkan insan yang berkepribadian muslim yang tangguh, harmonis, mampu mengatur kehidupan pribadinya, mengatasi masalah-masalah yang timbul, mencukupi kebutuhan serta mengendalikan dan mengarahkan tujuan hidupnya.

Pembentukan (takwin) dan pendidikan krakter tidak dapat hanya semata-mata melalui bangku sokolah melainkan penanaman nilai-nilai itu diagendakan dalam aktifitas sosial. Dalam hal ini para santri mendapat bimbingan dan keteladan langsung oleh para ustadznya.

Selanjutnya apa yang dilakukan dipesantren tidak hanya menekankan pentingnya pengaplikasian nilai-nilai itu saja. melainkan, memberikan contoh langsung dalam kehidupan sehari-hari di Pesantren.

Walhasil, menurut penulis bahwa, model pendidikan pesantrenlah yang lebih terbukti keberhasilanya dalam mencetak santri yang salih dan berakhlak mulia. Meskipun kadang-kadang masih berupa benih-benih potensi.

Dan tentunya penulis tidak menafikan kelemahan dan kekurangan yang ada. Namun kelebihan-kelebihan tersebut diharapkan dapat menutupi kelemahan dan kekurangan pendidikan yang ada.

 

*Penulis adalah 

Asfar Rinaldy, S.S, S.H, M.Pd

(Peneliti Indonesian Research Corner).

 

 

Penulis : -

Editor : Redaksi

AJI