Peringati Hari Kebangkitan Nasional, Masyarakat Didorong Berdikari Mengatasi Pandemi

Peringati Hari Kebangkitan Nasional, Masyarakat Didorong Berdikari Mengatasi Pandemi
Peringati Hari Kebangkitan Nasional, Masyarakat Didorong Berdikari Mengatasi Pandemi

Jakarta - Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Komunitas Literasi Gizi (Koalizi) dan Departemen Kesehatan BPP Kerukunan Masyarakat Sulawesi-Selatan menggelar Web seminar (Webinar) yang bertajuk “Kebangkitan Nasional: Saatnya Berdikari dari Keterpurukan” Sabtu (16/5/2020) sore. 

Webinar yang disaksikan sebanyak 50 orang ini menghadirkan para pembicara dengan tema yang selama ini digeluti.

Para pembicara ialah Dr. Kurnia Akmal (Ketua IDI Cabang Lomok Timur/Founder Kampung Bahagia Indonesia) dengan tema "Bangkitkan Solidaritas Sosial; Pengaman Berharga dari Gempa Lombok sampai Pandemi Corona”

Dr. Mahesa Paranadipa, M.H. (Ketua Umum Mayarakat Hukum Kesehatan Indonesia/MHKI) "Reformasi Sistem Kesehatan sebagai Visi Baru Pembangunan Kesehatan Nasional”

Dr. Ardiansyah Bahar, MKM (Direktur LK2PK) "Memahami Pandemi Corona sebagai Domain Pelayanan Kesehatan Masyarakat”

Hasanuddin, S.IP., M.AP. (Dosen Universitas Bhayangkara Jakarta Raya) "Kepemimpinan Nasional, Kunci Utama untuk Bangkit dari Krisis Multidimensi," dan

Anang Purwanto (Jurnalis Senior/Produser MNC Trijaya FM) dengan tema "Peran Komunikasi Publik untuk Bangkit dari Krisis”

Kegiatan yang dilangsungkan dalam rangka menyambut hari Kebangkitan Nasional ini dibuka oleh dr. Abdul Halik Malik, M.K.M selaku moderator. 

Sebelum materi diskusi dimulai pihak penyelenggara yang diwakili oleh Zaenal Abidin membuka acara ini. 

Zaenal mengatakan, Perkumpulan Boedi Oetomo didirikan 20 Mei 1908 di Gedung Stovia. Saat itu sebagai pencetus, Soetomo masih berusia 20 tahun, namun ia sanggup menggagas sebuah perkumpulan yang menjadi cikal bakal kebangkitan nasional Indonesia. 

Tujuan Perkumpulan Boedi Oetomo, jauh melampaui zamannya. Semangat dan cita-cita mereka telah menyadarkan bangsa Indonesia akan nasib dan masa depan bangsa di tengah mendung penjajahan. 

“Cita-cita Boedi Oetomo yang didirikan Soetomo jauh melampaui zamannya, tidak sama sekali mencantumkan tentang kesehatan dan dunia kedokteran padahal semua pendirinya adalah calon-calon dokter. Hari ini kita akan dialogkan, dengan cara apa kita yang Berbangsa Indonesia ini bangkit? Dengan kondisi saat ini didera berbagai masalah yang kemudian diperparah dengan Pandemi Covid 19,” papar Zaenal.

Zaenal menambahkan, Soetomo sangat menyadari kebutuhan lahirnya pemimpin baru, pernyataannya yang terkenal, bahwa pemimpin yang tidak melahirkan pemimpin baru, bukanlah Pemimpin masih terus relevan. 

"Soetomo juga memiliki Prinsip yang ia sebut Pancaeka. Beliau mengatakan bahwa dasar perjuangan bagi Rakyat itu terdiri dari, Kebenaran, Keadilan, Kesucian, Kecintaan dan Korban. Disinyalir bahwa prinsip pancaeka ini menginspirasi lahirnya konsepsi yang kemudian dikenal Pancasila, " Jelasnya. 

Usai sambutan, seminar kemudian dimulai dengan paparan dari lima orang sebagai narasumber yaitu Dr. Kurnia Akmal (Ketua IDI Cabang Lomok Timur/Founder Kampung Bahagia Indonesia), dan Dr. Mahesa Paranadipa, M.H. (Ketua Umum Masyarakat Hukum Kesehatan Indonesia/MHKI). 

Serta Dr. Ardiansyah Bahar, MKM (Direktur LK2PK), Hasanuddin, S.IP., M.AP. (Dosen Universitas Bhayangkara Jakarta Raya) dan Anang Purwanto (Jurnalis Senior/Produser MNC Trijaya FM).

Isi seminar yang dipaparkan oleh para nara sumber ini terkait dengan kebangkitan bangsa Indonesia setelah pandemic covid-19 menyerang. Serta dibutuhkannya pemimpin yang mampu menempatkan sistem kesehatan sederajat dengan sistem lain dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemimpin juga harus memliki visi dan strategi dalam menghadapai serta menyelesaikan masalah kesehatan masyarakat selaku warga negara. 

Berdasarkan pengalamannya, dari bencana Gempa Lombok pada tahun 2018. dr. Kurnia Akmal bercerita, masyarakat Lombok mampu bangkit kembali meskipun pada prosesnya tidak mudah. Akibat banyaknya dorongan dari warga yang berinisiatif untuk bergerak menghimpun semua sumber daya yang ada. 

Ia mencontohkan sebuah gerakan personal yang menginisiasi Kampung Bahagia yang kemudian terus berkembang melibatkan begitu banyak pihak baik individu maupun komunitas atau lembaga.

“Bermula dari Posko Terpadu dan Kampung Bahagia Indonesia yang hanya menampung sekitar 150-an kepala keluarga berhasil menginspirasi lahirnya gerakan gerakan lain untuk bangkit dan pulih dari keterpurukan. Selalu ada alasan untuk tetap berbahagia di tengah musibah, karena adanya dukungan dari berbagai pihak,” jelas Kurnia.

 Sementara itu dr. Mahesa Paranadipa mengkritik penerapan Sistem Keseahatan Nasional (SKN) yang mengalami berbagai problem, seperti disharmoni peraturan perundang-undangan yang mengakibatkan terjadinya tumpeng tindih. 

"Hal yang paling aktual saat ini adalah harmonisasi UU Wabah Penyakit Menular, UU Penaggulangan Bencana, dan UU Kekarantinaan Kesehatan," jelasnya. 


Mahesa juga menyoroti tentang pemanfaatan teknologi dalam pelayanan kesehatan, yang tidak ditopang oleh regulasi yang tepat. Misalnya tentang rekam medis dan resep elektronik, serta masih rendahnya pengawasan terhadap logistik, Sumber Daya Manusia (SDM) dan pelayanan kesehatan.

Namun di akhir materinya, iamemberi beberapa rekomendasi untuk pembenahan sistem ketahanan kesehatan nasional yang sedang dicanangkan pemerintah. Seperti meningkatkan dasar hukum SKN dari Perpres menjadi UU. 

“Undang-undang ini bisa dikategorikan sebagai Omnibus Law di bidang kesehatan, di dalam SKN tidak bisa terpisahkan dari aspek Pendidikan, oleh karenanya perlu sinergitas antara pelayanan dan Pendidikan di bidang kesehatan,” ujarnya. 

Dari sudut pandang kesehatan masyarakat, dr. Ardiansyah Bahar turut menjelaskan bahwa pandemi Covid-19 merupakan domain dari pelayanan kesehatan masyarakat karena merupakan penyakit menular yang penanganannya membutuhkan pendekatan health protection.

Ia memberi contoh negara Vietnam, yang berhasil menekan penyebaran Covid-19, sebab masyarakat disiplin untuk menjaga kesehatan diri dan pemerintahnya sigap menyiapkan instrumen kesehatan warga. 

“Kita dapat mengambil pelajaran dari Vietnam di mana koordinasi antara pemerintah dan masyarakat terjalin dengan baik. Selain arahan langkah-langkah kesehatan masyarakat, pemerintah menjaga persediaan kebutuhan dasar masyarakat seperti meningkatkan dan melengkapi rumah sakit regional,” ujarnya. 

Sementara itu pakar komunikasi publik, Hasanuddin mengatakan, kepemimpinan nasional merupakan kunci utama untuk bangsa ini bangkit dari krisis. Ia yang juga Dosen Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, mengatakan presiden harus bertindak lebih tegas untuk membawa masyarakat keluar dari krisis. 

“Sejatinya, kebijakan yang telah dibuat pemimpin harus dilaksanakan secara sungguh-sungguh, jika ada pejabat yang mencoba membuat kebijakan yang berbeda harus ditegur,” ujarnya.

Sementara itu jurnalis senior, Anang Purwanto menuturkan, sebagai wartawan, ia dan rekannya kadang kala bingung dengan kebijakan pemerintah menangani covid-19. Menurutnya pemerintah tidak konsisten dalam menangani pandemi bahkan pemerintah terkesan tidak siap menghadapi situasi ini. 

“Bagaimana Presiden Jokowi menetapkan kebijakan dan beberapa Menteri yang ikut berebut berbicara ternyata memperlihatkan adanya perbedaan sikap diantara mereka, hal ini malah menjadi masalah kemudian,” tuturnya.

Namun, di akhir diskusi ia tetap mengapresiasi kinerja pemerintah yang menurutnya menunjukkan perubahan dalam pola komunikasi utamanya kepada media. 

“Sejauh ini Pemerintah sudah jauh lebih baik dalam komunikasi publik, lebih transparan, dan responsif,” tambahnya.

Penulis : Redaksi

Editor : Redaksi

AJI