Talkshow Rabu Hijrah : Sistem Bagi Hasil Ekonomi Syariah Lebih Tahan Terhadap Krisis

Talkshow Rabu Hijrah : Sistem Bagi Hasil Ekonomi Syariah Lebih Tahan Terhadap Krisis
Talkshow Rabu Hijrah : Ekonomi Syariah Terbukti Lebih Tahan Terhadap Krisis Ekonomi

Jakarta - Sistem ekonomi syariah terbukti memiliki ketahanan dalam menghadapi krisis ekonomi yang melanda dunia di masa lalu.

Krisis keuangan dikhawatirkan kembali mengancam negara-negara di dunia usai pandemi Covid-19 mereda.

Ekonomi yang berlandaskan hukum Islam harusnya dijadikan pertahanan terhadap gejolak ekonomi.

Dengan sistem bagi hasil atau profit sharing yang tidak berubah selama krisis keuangan, maka ekonomi dengan sistem syariah bisa lebih mudah keluar dari krisis keuangan.

Kondisi tersebut berbeda dengan bank konvensional yang dinilai tergantung kepada perubahan suku bunga.

Hal tersebut mengemuka dalam Talkshow Rabu Hijrah bersama narasumber dari ketua umum atau pimpinan Organisasi Kepemudaan dan Mahasiswa Islam di Indonesia.

Talkshow yang mengangkat tema “Siap Menghadapi The New Normal,” ini diisi oleh sejumlah narasumber di antaranya, Pendiri Rabu Hijrah dan MPI Arief Rosyid Hasan, Ketua PP JPRMI Yosse Hayatullah, Ketua Umum PP Hima Persis Iqbal M. Dzilal, Ketua Umum DPP SEMMI M. Azizi kois dan Ketua Pemuda PUI Raizal Arifin.

Hadir pula Ketua Umum HMI MPO Affandi Ismail Hasan, KETUM GEMA Mathla'ul Anwar Ahmad Nawawi Arsyad, dan Ketua Umum PB PII Husin Tasrik.

Talkshow virtual sekaligus ajang silaturahmi antar pemuda Islam ini dibuka oleh Chairman Rabu Hijrah Phirman Reza yang bertindak sebagai host. Sebanyak 110 peserta nampak hadir pada talkshow yang dapat disaksikan melalui channel Youtube Rabu Hijrah tersebut.

Talkshow kemudian dilanjutkan dengan pemaparan oleh Yosse H, ia mengatakan Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang bunga bank konvensional haram. Disertai pengalaman negara di dunia akan sistem ekonomi syariah yang lebih tahan terhadap krisis keuangan, harusnya menjadi pijakan pemerintah maupun swasta untuk berkomitmen memajukan sistem ekonomi ini.

“Setelah berkali-kali krisis melanda dunia, terbukti ekonomi syariah dapat bertahan dibanding ekonomi konvensional. Peluang ekonomi Islam sangat besar sekarang. Penduduk muslim Indonesia terbesar di dunia, kalau dilihat dari pasar ekonomi sangat besar sekali akan tetapi sosialisasi dan kesadaran terhadap ekonomi syariah masih minim dan itu harus dibangkitkan kembali,” ujarnya.

Affandi Ismail mengatakan Ekonomi Islam memang mencakup kebaikan untuk seluruh umat manusia, bukan saja khusus umat muslim. Sehingga tidak mengherankan ekonomi Islam dapat menahan gejolak ekonomi dunia, kurang lebih ada delapan surah di alquran yang membicarakan substansi penegakan ekonomi syariah ini.

“Islam hadir bukan hanya untuk menebar kebaikan kepada umat islam saja, sehingga mestinya bicara mengenai ekonomi syariah bukan lagi konteks parsial untuk umat Islam saja. Tapi tentang konsep ekonomi Islam bisa hadir dan memberi kemaslahatan untuk umat manusia,” ujarnya.

Husin Tasri melanjutkan bahwa konsep yang harus dibangun untuk membangkitkan ekonomi umat ialah menggunakan konsep jamaah. Demi menindaklanjuti talkshow ini dia mengusulkan dibentuknya gerakan “Indonesia Bebas Riba”.

“Konsep jamaah di sini kalau kita dari umat Islam bagaimana kita peduli terhadap jamaah kita, agar menjadi “bangunan” yang kokoh. Memperkuat ukhuwah Islam untuk menguatkan satu sama lain. Nah demi kebangkitan ekonomi umat maka bangunan ini yang harus kita perkuat,” jelasnya.

Pemuda Islam Sebagai Pelopor

Sementara itu, menurut Ahmad Nawawi potensi Indonesia untuk menjadi negara maju sangat besar. Hal itu bisa dicapai dengan memanfaatan bonus demografi yang dimiliki. Baginya, pemuda muslim punya tanggungjawab untuk memajukan ekonomi syariah seiring dengan kemajuan negara di masa itu.

“Di tahun 2030 Indonesia diperediksi menjadi ekonomi terbesar kelima dunia, bahkan di 2050 menjadi terbesar keempat mengalahkan Brazil dan Prancis. Potensi dan harapan itu bisa terwujud jika kita semua pemuda muslim bisa memberi peran khususnya di bidang ekonomi,” ujarnya.

Semmi Azizi sepakat dan mengatakan kebangkitan ekonomi umat dapat dimulai dengan mendorong pemuda Islam berwirausaha. 

“Mengapa kita belum punya kekuatan? Indonesia sendiri terpuruk di ekonomi sebab kewirausahaan ini belum jadi senjata umat Islam untuk bangkit dan pemuda harus jadi inisiator sebagai penggerak kebangkitan ekonomi itu,” ujarnya.

Iqbal Dzilal sendiri mengharpakan penyadaran umat Islam harus dimulai sejak dini, jika perlu melalui pendidikan dasar atau setidaknya tingkat menengah.

“Pemerintah harus memulai dari kurikulum pendidikan, menjadikan ekonomi syariah sebagai kebutuhan masyarakat maka diajarkan sejak di tingkat SMA,” ujarya.

Phirman Reza menambahkan pendidikan tersebut tentu perlu agar ekonomi Islam mengikuti perkembangan zaman. Sebab jika diajarkan saat kuliah saja maka mereka akan menjadi pakar atau ahli di bidang ekonomi syariah

Adapun Raizal Arifin menyarankan untuk membangkitkan ekonomi melalui lembaga keuangan syariah diperlukan mindset dan kecakapan. Oleh karena itu ia mengusulkan agar perlu adanya “Laboratorium Usaha” sebagai wadah candradimuka menggodok calon-calon wirausahawan muslim.

“Kita tahu bahwa namanya usaha itu yang pertama kuncinya ada pada mindset jangan sampai ketika ada kemudahan kita menganggap seperti pemberian. Saya mengusulkan agar dibentuk laboratorium usaha dulu mengikuti pola pola start up. Bangun bisnis berwawasan teknologi kemudian kita membuat laboratorium usaha yang beberapa mentor handal melatih kader kader kita,” harapnya.

Menanggapi diskusi tersebut, Arief Rosyid meminta para ketua umum OKP untuk membuat langkah konkrit segera agar dapat menjaga momen. Khususnya di masa pandemi ini dapat membantu masyarakat.

“Sepertinya memang harus ada langkah konkrit yang kita lakukan, dapat dilakukan dengan membuat koperasi. Maka dimulai dengan pendataan kegiatan ekonomi umat apalagi kita bisa bekerjasama dengan bukalapak dan Bank Syariah Mandiri,” ujarnya.

Penulis : Redaksi

Editor : Redaksi

AJI