Kabar JakartaNews With Data

Kerjasama BMKG dan Bank Indonesia, Instansi Daerah Ini Masih Bingung

Perkembangan Perbankan Sulsel

  • Rubrik : Internasional
  • Penulis : Nur Marwah
  • Terbit : Terbit 1/2/18
Kerjasama BMKG dan Bank Indonesia, Instansi Daerah Ini Masih Bingung
[Foto: Nur Marwah / Kabar Makassar]

KabarMakassar.com --- Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sulsel mengaku memiliki tantangan baru karena masih meraba-raba informasi yang akan diberikan kepada Bank Indonesia selaku customer baru dan tengah belajar sesuai perubahan paradigma di BMKG tahun ini. 

Menyusul penandatanganan perjanjian kerjasama melalui Memorandum Of Understanding (MoU) Bank Indonesia Kantor Perwakilan Sulsel bersama Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar yang berlangsung di Hotel Aryaduta Makassar, Senin 29 Januari lalu. 

"Kami harus melayani BI, cuma masalahnya pelayanan dalam bentuk apa? Ini harus didiskusikan lebih jauh lagi. Kami akan membuat informasi berdasarkan kebutuhan user kita. Kebutuhan seperti apa untuk menjaga inflasi. Saya yakin dengan kerjasana ini kita bisa semakin menjaga Sulsel," ungkap Sekretaris Utama BMKG Widada Sulistya saat ditemui awak media di Makassar. 

Dia menjelaskan perjanjian tersebut merupakan tindak lanjut dari kesepakatan sebelumnya dengan Deputi Gubernur BI dan BMKG pada  25 Agustus 2017 lalu di Jakarta.

"Ini merupakan hal yang baru. Selama ini BMKG sudah bekerjasama dengan departemen pertanian untuk ikut mendukung tanaman pangan. Teman-teman di pertanian sudah mengetahui bagaimana pola tanam, tanaman apa yang cocok tahun ini dan yang lainnya," terangnya. 

Selain itu, lanjutnya pihaknya telah bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sulsel dan Daerah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulsel, Bambang Kusmiarso sebelumnya menerangkan stabilitas harga sejauh ini tetap terjaga dan berada pada sasaran selama tiga tahun terakhir.

Akan tetapi, kesinambungan tersebut perlu usaha yang banyak dan melihat bagaimana BMKG akan memberi dampak positif.

"Tahun 2017 kemarin penuh tantangan mengingat tingginya tekanan kenaikan harga yang diatur oleh pemerintah akan tetapi inflasi masih dapat dijaga sebesar 4 persen dengan realisasi 4,44 persen," ungkap Bambang

Menurutnya, beberapa komoditas pangan mengalami penurunan harga antara lain ikan bandeng, ikan layang, beras, bawang merah dan cabai merah yang sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca.

Sehingga harus fokus menjaga pasokan komoditas dengan mendapatkan informasi cuaca dan iklim kedepan terutama di daerah sentra produksi komoditi utama penyumbang inflasi.

"Peran BMKG sangat besar mendorong stabilitas harga dan inflasi serta upaya dalam menurunkan tingkat kemiskinan. Informasi iklim akan membantu pelaku usaha dalam mengambil keputusan saat ini dan akan datang. Informasi curah hujan di sentra produksi untuk komoditas utama penyumbang inflasi akan sangat membantu petani dan nelayan," jelasnya. (*)